Laman

Life Must Go On !

Life Must Go On !
Tulis apa yang ingin kau kerjakan, kerjakan apa yang telah kau tulis !

February 14, 2021

Siapkan Diri Menyambut Ramadhan di Tengah Pandemi

Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Alhamdulillaah, postingan di tahun 2021 ini saya akan kembali menulis ulang tulisan saya di tahun 2017  "Kiat-kiat Menyambut Bulan Ramadhan"

MasyaAllah Tabarakallah, sebentar lagi kita semua akan menyambut tahun kedua Bulan Ramadhan di tengah pandemi covid-19. Tidak menutup kemungkinan semua kebijakan akan sama seperti tahun lalu, namun, jangan sampai hal itu menyurutkan semangat kita untuk tetap berlomba-lomba dalam kebaikan demi meraih keberkahan di bulan Ramadhan.

Yuk, kita cek, kita jalankan sedari sekarang apa saja hal yang harus kita siapkan untuk menyambut bulan yang mulia ini. Tetap semangat ibadah walau pandemi belum juga usai.

Allah Swt berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat 183,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“ Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.”


Sahabat, Ramadhan tinggal menghitung hari.

MasyaAllah❤

Bulan yang paling ditunggu, bulan paling mulia, semoga kita semua bisa sampai dan dipertemukan dengan Ramadhan.

Karena, kalian pasti sudah tahu bahwa bulan Ramadhan ini adalah bulan dilipatgandakannya semua amalan. Dibuka semua pintu surga, ditutup semua pintu neraka, dan bulan pengampunan bagi hamba yang bertaubatan nasuha.


Terlebih, yang paling spesial adalah di Bulan ini tepat turunnya Al-Qur'an petunjuk umat Islam sedunia. hanya di bulan Ramadhan-lah kita merasakan nikmatnya menanti azan maghrib dan kita bisa menjalankan ibadah Teraweh setelahnya. Ya, hanya ada di Bulan yang mulia ini. Plus-plus-plusnya juga adalah bulan Ramadhan memiliki satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan yaitu malam Lailatul Qadar. MasyaAllah.


Nah, supaya nanti shaum kita semangat, manfaat dan barokah, yuk dari sekarang kita perbanyak amalan-amalan yang mampu menunjang dalam menjalankan shaum Ramadhan...

Ada beberapa amalan yang harus kita persiapkan dan lakukan dari sekarang.

Apa saja?


Pertama, Jasadiyah.

Sebelum shaum, jelas, kita perlu mempersiapkan jasad kita, fisik kita, supaya kuat untuk shaum dari sejak terbit hingga terbenam matahari.

Jadi, dari mulai sekarang latih tubuh kita dengan olahraga supaya kuat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Jika nanti kita sakit, maka kita tidak bisa menikmati indahnya bulan Ramadhan ini.

Jangan lupaa, terapkan proktokol kesehatan yaaa, ingat selalu 3M, Memakai masker, Mencuci tangan pakai sabun di air mengalir, Menjaga jarak, dan hindari kerumunan ya. semoga kita selalu Allah lindungi dari berbagai marabahaya.

Selain kesehatan tubuh kita, jaga juga kebersihan lingkungan, rumah, mesjid dan lainnya agar semua tetap sehat dan indah saat Ramadhan tiba.


Kedua, fikriyah.

Selain tubuh yang sehat, ilmu pengetahuan pun musti disiapkan juga. Dimulai dari sekarang kita siapkan ilmu2 tentang amalan2 apa saja yg membuat shaum kita menjadi barokah, berpahala dan apa saja yg tidak boleh dilakukan agar shaum kita tidak sia-sia. Perbanyak tarbiyah dengan ikut kajian, seminar islami dan lain sebagainya yg mampu menghidupkan fikriyah kita. Karena, shaum juga membutuhkan ilmu lhooh. Agar tidak ada kesalahan dalam menjalankannya.

Karena sekarang masih pandemi, yuk kita banyak banyak hidupkan fikriyah kita dengan mencari informasi dakwah via online. Karena sekarang banyak sekali kajian kajian secara online jangan sampai kita melewatkannya.

Dan yang ketiga paling penting dan utama adalah Ruhiyah.

Ruhiyah ini kita musti dan harus dilatih dari sekarang seperti shaum sunah untuk melatih kita supaya shaum nanti sudah terbiasa, shalat sunah seperti dhuha, tahajud, salat rawatib yang jika dari sekarang mulai dilakukan insyaAllah pas Ramadhan menjadi ringan dilaksanakan karena kita sudah terbiasa. Shalat tepat waktu dibarengi dengan zikir, bershalawat dan perbanyak do'a-do'a.


Nahhh, itulah beberapa amalan yang harus kita persiapkan untuk menyambut bulan mulia, bulan Ramadhan.

Jangan lupa, siapkan mental juga yaaa, minta maaf kepada orang tua, keluarga, sahabat dan tetangga agar shaum kita tidak terhalang oleh niat dan prasangka buruk.

Juga, jadikan bulan Ramadhan ini sebagai ajang peningkatan prestasi ibadah, dan sebagai bulan taubat.


Serta, jangan lupa untuk evaluasi diri, bermuhasabah kepada Allah SWT atas segala kesalahan yang pernah kita perbuat di waktu-waktu yang lalu. Semoga dengan kita bertaubat dari sekarang, terutama di bulan Ramadhan, bisa menjadikan diri ini menjadi lebih baik lagi.


​Dari Abu Hurairah ra diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “ Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Barang siapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka dia tidak memperoleh apa-apa. “

(HR. Ahmad dan An-nasa’i )


Barakallah, semoga kita semua bisa dipertemukan dan bisa menjalankan shaum di bulan Ramadhan tahun ini. Aamiin Ya Allah Ya Rabbal'aalamiin.

Sehat selalu ya Sahabat-sahabat semua.

Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa nyaman dan tenang beribadah seperti sedia kala, seperti dahulu. Aamiin

Jazakumullah khayr~

May 14, 2018

Melepaskan Rindu

Wa maa indallaahi khair.
Apa yang ada di sisi Allaah adalah baik.

Ketika kita mulai memutuskan satu perkara yang mudhorot, pasti akan dirasa sulit. Tapi memang di sinilah ujiannya. Di sinilah jawaban yang akan kita dapatkan ke depannya.
Sedih, jelas, pasti sangat sedih. Tapi, apa yang ada di sisi Allaah adalah baik.

Membayangkan masa depan bersama, memang indah, tapi itu belum saatnya. Ada hal yang harus dibatasi dan ada hal yang belum boleh diungkapkan. Apa aku takut dengan kenyataan? Kenyataan yang mungkin tidak sesuai dengan bayangan dan impian. Kenyataan yang tidak hadir saat dirangkai bersama, apa aku takut? Padahal, apa yang ada di sisi Allaah adalah baik.  Tapi apa aku masih ragu?

Aku tau hukum, dia pun tau. Jangan sampai kita terjerat oleh syaitan yang mengatasnamakan syariat Islam. Kita berucap baik, tapi sebenarnya adalah dusta. Dusta karena kita tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Kadang aku selalu berprasangka ketika jelas tak mendengar kabar satu hari saja. Itu adalah tipu muslihat syaitan, membuat hati ini menjadi tak karuan.

Kini, apa kita sekarang sedang belajar saling mengikhlaskan?
Setelah apa yang pernah kita rencanakan.
Tanpa kabar, semua menghilang.
Tanpa pamitan, semua saling memutuskan.
Mungkin ini adalah sebuah jawaban, bahwa tak ada yang bisa menentukan selain ketentuan dari Allaah.

Segalanya akan kembali pada ketentuan Allaah, bukan?
Tapi, mengapa bersedih ketika kita merasa jauh, atau mungkin sengaja dijauhkan?
Allaah Maha Tahu, ketika kau inginkan kenyamanan, Allaah berikan ketenangan.
Ketika kau inginkan kelancaran, Allaah berikan kemudahan.
Apa yang ada di sisi Allaah adalah baik.

Sekarang, bismillaah, kembali di kehidupan normal saja. Tiada lagi prasangka-prasangka yang menyakitkan hati, tiada lagi duka-duka yang menyulitkan jiwa. Semua jalani hanya karena Allah semata.
Allaah akan mempertemukan siapa saja yang lebih mengutamakan Allah.
Maka, apa yang ada di sisi Allaah adalah baik.
Aamiin Ya Allaah.

10.33 WIB
Bersama rindu yang semu.

April 17, 2018

Siapakah Yang Lebih Dulu Melamarku?

Kita sering mendengar kalimat "memantaskan diri" di kalangan kaula muda yang sedang menanti pasangan hidupnya. Kaula muda yang galau karena tak jua jodoh datang kepadanya.

Jodoh.
Benar, jodoh adalah cerminan diri. Jika kita baik, maka jodoh kita akan baik pula. Begitupun sebaliknya. Jika kita tidak baik, maka jodoh pun wallaahu tidak baik pula.
Lalu, bagaimana caranya agar kita mendapatkan jodoh yang baik?
Jelas, kembali lagi kepada diri kita, yaitu memperbaiki diri, menyiapkan diri, memantaskan diri.

Layaknya baju, kita senantiasa akan memakai yang bagus, bersih, rapi dan wangi. Oleh karena itu, sebelumnya pasti akan kita cuci dulu, jemur, setrika diberi parfum yang akhirnya kita pakai baju yang sesuai dengan yang kita inginkan.
Sama halnya jodoh, jika ingin mendapatkan yang terbaik, maka kita juga harus berperilaku yang terbaik, memantaskan diri, menjadi lebih baik lagi.

Allah SWT berfirman:

اَلْخَبِيْثٰتُ  لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِ ۚ  وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ  لِلطَّيِّبٰتِ ۚ  اُولٰٓئِكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَ ۗ  لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ
"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."
(QS. An-Nur 24: Ayat 26)

Kita, minta kepada Allaah, ingin mendapatkan jodoh terbaik.
Akhirnya, kita belajar memantaskan diri dengan lebih mendekatkan kepada Allaah, memperbaiki sikap dan sifat, belajar banyak tentang islam, pokoknya menjadikan diri ini layak untuk mendapatkan jodoh yang terbaik.

Dengan memantaskan diri, insyaAllaah kita akan diberikan jodoh yang sesuai dengan yang Allaah pilihkan.

Selain untuk mendapatkan jodoh, memantaskan diri juga perlu, penting, wajib malah. Untuk apa? Untuk mempersiapkan apakah jodoh yang lebih dulu melamar ataukah ajal yang lebih awal menjemput?

Kita tidak tahu, jelas, kita memang tidak tahu bahwa rezeki, jodoh dan ajal adalah rahasia Allaah.
Bukankah dunia ini hanya tempat singgah? Kefanaan ini pasti akan sirna.
Dan juga Allaah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati..."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Lantas, mengapa kita sibuk memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh terbaik, tanpa berpikir apakah kita akan mendapatkan ajal terbaik pula?

Kita kembali ke "memantaskan diri".

Jodoh, sudah Allaah pilihkan karena manusia diciptakan berpasang-pasangan.
Begitupun ajal, sudah Allaah tetapkan karena setiap nyawa akan merasakan kematian.
Lalu, mana yang akan kita persiapkan terlebih dahulu?

Perlu kita ingat, tidak sedikit orang yang tidak mendapatkan jodoh di dunia. Bukan, bukan tidak, tapi belum diberikan jodoh oleh Allaah di dunia. Tapi apakah sudah sampai disitu saja? Tidak. Dunia mah tidak abadi, yang abadi itu akhirat. Pasti, Allaah akan memberikan jodoh terbaik di akhirat kelak, di kehidupan yang sebenar-benarnya.

Tapi kematian, itu mah kepastian. Mau yang sudah mendapatkan jodoh, mau yang belum mendapat jodoh, tua, muda, sehat, sakit, kita tidak tau kapan ajal datang menjemput, yang pasti kematian itu pasti.
Bagaimana caranya kita mempersiapkan diri, menyiapkan bekal, dan memantaskan akan seperti apa keadaan kita ketika ajal datang tergantung dari diri kita.

Toh, jika kita berniat memperbaiki diri untuk mempersiapkan bekal kelak sebelum ajal datang, tidak akan rugi. Kalo orang Sunda bilang, "jodoh mah nuturkeun".
Sama, kematian pun membuntuti kemana pun kita pergi. Sehingga, selalulah dalam kegiatan yang baik agar kita berada dalam keadaan yang baik pula ketika ajal menjemput kita.

Jadi, persiapkanlah diri ini, pantaskan diri ini, perbaiki diri ini, mohon ampunan kepada Allaah, dan minta kepada Allaah untuk mendapatkan kematian yang terbaik. Perihal jodoh, itu mah bonus. Alhamdulillaah jika kita mendapatkan jodoh sebelum ajal datang. Namun, selalu niatkan segalanya karena Allaah semata. Karena untuk mendapatkan Ridho Allaah saja.

Sekarang, yuk mari kita menyiapkan bekal, berbuat kebaikan, memperbaiki sikap, dan memantaskan diri karena kita tidak tahu, jodoh atau ajalkah yang lebih dulu melamar?

Wallaahualam bissawab...

September 25, 2017

In My Mind~

Mungkin, bagi sebagian orang, membeli barang mewah adalah mudah. Cukup dengan menjentikan jari, semua menjadi terlaksana.
Namun, bagi sebagian lain jangankan barang mewah, uang sepuluh ribu saja sangat sulit.
Sungguh, melihat kenyataannya, entah memang mereka tidak punya atau memang tidak mau mengusahakannya.

Biasanya orangtua selalu memenuhi apa yang diinginkan anaknya, anaknya yang masih kecil yang akan merengek bila tidak dituruti. Usianya mungkin baru lima tahun, tapi kenyataannya anak itu tidak pernah mendapatkannya. Bukan hanya materi, perhatian pun tak ia dapatkan. Kurasa begitu, karena aku melihatnya sendiri.

Anak itu "baik", "baik" bukan main. Anak itu tidak bisa mengendalikan diri jika ia sedang marah. Semua temannya ia pukul, semua temannya menangis. Terkadang suasana kelas menjadi ramai, bukan ramai akan kegembiraan tapi ramai akan tangisan. Terkadang aku juga sering kena pukul. Sungguh bukan fisikku yang sakit, tapi hati ini sangat teriris.

Anak itu pernah berkata, "Bu Guru, aku sering disiksa di rumah!" dengan wajah polosnya. Bukankah anak kecil tidak berbohong?
Oh, entah mungkin hal itu ada kaitannya dengan sikap dia di sekolah? Atau entahlah, yang pasti seorang anak akan meniru apa yang ia lihat di lingkungannya. Sungguh hatiku sangat teriris.

Sungguh, menjadi bagian dari kehidupan sekolah pasti akan sedikit mengetahui bagaimana kehidupan mereka di lingkungan rumahnya.
Seorang anak yang kurang mendapat perhatian orangtua di rumah, akan terlihat bagaimana perilaku ia di sekolah.

Ini menjadi pelajaran untukku nanti. Aku sadar, peran orangtua sangatlah penting bagi anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Aku sadar memang tidak mudah mendidik anak, tapi tidak boleh pula melepaskannya begitu saja.
Lalu, apa hubungannya dengan kemewahan?

Ya, setidaknya untuk kebutuhan sekolah anak minimal kita mengusahakan walau harus mencicil seribu rupiah setiap harinya. Anak-anak akan cemburu ketika berbeda dengan temannya. Temannya sudah berseragam, ia belum. Temannya membawa bekal, ia tidak. Sungguh aku membayangkan jika aku menjadi orangtua nanti, akan bagaimana?
Setidaknya aku belajar di sini. Belajar di sekolah ini. Belajar menjadi ibu bagi anak-anak yang membutuhkan seorang ibu. Belajar memberi perhatian, sebelum nanti waktuku terbagi untuk memperhatikan kehidupanku.

July 04, 2017

Sebuah Pengalaman Berbuah Pelajaran

Baik bagi kita, belum tentu baik di Mata Allah.
Buruk bagi kita, belum tentu buruk di Mata Allah.
Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, segala sesuatu pasti ada hal yang mampu membuat diri ini berubah menjadi lebih baik lagi.
Allah memberi apa yang kita butuhkan, tak melulu apa yang kita inginkan. Bersabarlah, karena semua indah pada waktunya.

Ehhh, sebenarnya aku akan bercerita tentang pengalaman yang mungkin bisa membuat teman-teman agar lebih berhati-hati lagi.

Jadi, begini, bermula saat aku duduk di semester II, aku merengek ke orangtua ingin dibelikan laptop. Dengan alasan banyak tugas yang tidak selesai dua atau tiga hari jika harus dikerjakan di warnet. Tapi itu bukan sekedar alasan, memang benar, saat itu tugas dari dosen banyak sekali.

Selang beberapa minggu, akhirnya Ibuku mengirimkan uang untuk membeli laptop. Singkat cerita, kubelilah laptop seharga sekian juta dari seorang teman kakak. Akhirnya, laptop sudah ada di tanganku.
Setiap kali ada tugas membuat makalah, Alhamdulillah aku tidak harus ke warnet lagi.

Sungguh, godaan terbesar bagiku, saat itu, adalah barter film dan drama korea.
Laptopku langsung diisilah dengan drama-drama korea, anime hingga mencapai 200GB, dan segala hal lainnya yang jika kupikirkan saat ini, itu adalah sesuatu yang tak berguna.
Sejak laptopku penuh dengan film, drama korea dan anime, aku jadi sering bergadang nonton film hingga subuh menjelang.
Maraton nonton anime dari pukul 8 malam hingga pukul 3 dini hari. Bahkan aku pernah tidak tidur gara-gara nonton drama yang sedang booming saat itu. Alhasil aku ketiduran di kampus.

Oke, saat itu aku merasa laptopku selalu digunakan untuk kepuasan tersendiri, bahkan hanya 10% saja kugunakan untuk belajar, 90% lagi untuk hiburan.
Hal tersebut berlangsung hingga aku semester V.
Seiring waktu bergulir, laptopku semakin penuh dengan hal-hal yang membuat aku malas belajar. Setiap kali waktu luang, kugunakan untuk nonton. Begitu seterusnya.

Hingga akhirnya, ada sesuatu yang mungkin itu adalah sebuah peringatan untukku. Bisa dibilang sebuah tamparan yang sangat keras untuk kehidupanku.
Saat awal semester V, aku mendapat teman baru, biasa, dari media sosial. Dia mengajakku untuk bekerja, freelance katanya.
Kutanyakanlah apa pekerjaan itu. Dia bilang pekerjaannya cuma ngisi formulir aja dan banyak mahasiswa join soalna itu proyek dosen perguruan tinggi yang tidak boleh kusebutkan. Dan dia menjelaskan dengan sangat rinci dan terarah hingga aku terbuai dengan kata-katanya.
Apa yang membuatku mau ikut diajak kerja adalah ketika dia menyangkutkan perkara orangtua.
Dia mengatakan apa tidak mau membahagiakan orangtua di usia muda? Apa tidak mau menghajikan orangtua dari hasil kita kerja? Dan lain sebagainya yang jika bicara tentang orangtua membuat hatiku ingin selalu mencapainya.

Sore di hari Selasa, dia mengajakku untuk bertemu. Dia bilang mau memulai bekerja. Tapi yang heran itu adalah kok dia maksa banget pengen ketemu, dan harus hari itu juga. Dia juga bilang, jangan dulu ngasih tau siapa-siapa. Biar jadi kejutan buat orang-orang tercinta. Aku sama sekali tidak curiga tentang hal tersebut yang pada akhirnya menjadikanku sedikit menderita.

Akhirnya kutemui temanku itu. Di daerah Ahmad Yani. Saat aku datang ke tempatnya, ramai sekali. Banyak orang-orang yang katanya sedang diprospek. Nah, pasti kalian sudah mulai paham jika mendengar kata prospek.
Ya! Ternyata aku diajak join MLM dong! Ini adalah kali pertama aku hadir dalam "giginian" yang tidak tau aku harus berbuat seperti apa.
Aku bingung yang hanya seorang diri, didoktrin oleh enam orang yang jago banget ngolah kata. Aku ditakuti dengan kisah orang yang gagal dalam hidup, aku ditakuti dengan usiaku yang nanti tidak akan dapat pekerjaan, aku diiming-imingi dengan banyak kemewahan dan kekayaan, aku didoktrin, hingga aku tidak sadar aku telah menyerahkan beberapa aset yang berharga dalam hidupku. Mereka bilang, dalam seminggu semuanya akan tergantikan dengan barang-barang yang baru.
Saat itu seakan-akan aku lupa, bahwa Allah Maha Kaya, Maha Kuasa.

Lalu, apa hubungannya dengan laptop?
Jelas, mereka yang mengaku temanku, mereka yang mengajakku untuk join dengan kerjaannya, mereka yang mengiming-imingiku banyak harapan, tidak lain dan tidak bukan adalah seorang penipu.
Aku sedikit terhipnotis saat itu, sehingga aku menyerahkan laptopku beserta uang tabungan yang merupakan uang beasiswa, semua ludes diambil oleh mereka.

Aku sadar setelah satu minggu kemudian. Kuhubungi kontak mereka tapi tidak ada yang aktif. Kulihat di whatsapp/line, nampaknya akunku sudah mereka blokir. Yang kudapatkan hanyalah penyesalan dan dua dus produk MLM dari mereka yang tanpa kusadari ada di dalam tasku.

Saat itu aku tidak bilang pada siapapun termasuk orangtuaku.
Aku hanya terus menangis setiap malam, terlebih uang beasiswa untuk biaya kuliah satu tahun ludes, tak ada sisa.
Mungkin ini adalah peringatan dari Allah yang saat itu aku terlalu sering mendengarkan lagu dibandingkan mendengarkan kalam-kalamNya, aku lebih suka nonton drama dibandingkan menghadiri kajian yang bisa mendekatkan aku padaNya.
Allah ternyata sayang padaku, mengingatkanku dengan cara yang luar biasa seperti ini.

Sampai akhirnya aku menyerah menutupi hal ini saat aku bingung harus mencari uang dari mana untuk bayar kuliah semester V. Aku masih belum berani bilang ke orangtua, akhirnya aku kalang kabut pinjam uang dari teman dekat, Alhamdulillah Allah memberiku kesempatan berharga ini. Akhirnya aku bisa ikut ujian semester V.
Namun, saat menginjak semester VI, ada biaya yang harus dibayar lagi. Karena aku sudah tidak sanggup lagi, akhirnya kuceritakanlah kejadian tersebut kepada orangtua, terlebih kepada Kakakku yang saat itu berjuang mengumpulkan uang agar aku bisa mempunyai laptop untuk tugas kuliahku. Namanya orangtua, marah pasti. Tapi selalu pada akhirnya beliau berkata "yang penting kamu tidak apa-apa. Masih mending harta, bukan nyawa."
Dan itu membuatku semakin ingin menangis, kebodohanku selama ini membuat semua kacau. Terlebih dalam urusan kuliahku. Aku kini sulit lagi untuk mengerjakan tugas. Sedangkan sebentar lagi aku akan mengambil Skripsi. Aku bingung bagaimana nanti aku mengerjakan skripsi? Apa aku harus tidur di warnet? Dan segala macam pikiran yang membuatku lupa bahwa ada Allah yang Maha Kuasa atas segalanya.

Setiap kali aku mengeluh, kakakku selalu mengingatkan untuk mengucap istighfar dan bersabar. Shalat dan zikir, berdoa setiap waktu.
Hari-hariku hampa tak ada laptop, itu yang aku pikirkan saat itu. Aku tidak bisa lagi nonton drama atau anime dan terlebih banyak cerpen-cerpenku di laptop itu. Hiks.

Sungguh, sabar dan shalat adalah dua hal yang amat dahsyat.
Saat aku mulai duduk di semester VII. Satu tahun tanpa laptop, aku sudah memikirkan untuk mengumpulkan dana jika nanti aku harus bermukim di warnet mengerjakan skripsi.
Tapi aku juga tidak pernah berhenti berusaha terlebih berdo'a agar Allah memudahkan jalanku dan mengampuni dosa-dosaku.
Tak lama, aku mendapatkan sebuah kabar gembira.

Seorang saudara yang sungguh semoga Allah selalu melindunginya, meminjamkan laptopnya padaku, katanya laptop yang diberi oleh kampus. Dia sudah punya satu, jadi dia pinjamkan padaku.
Baru dipinjamkan saja aku sudah bahagia luar biasa, pasalnya dulu laptopku laptop jadul, dan sekarang aku dipinjami laptop keren dan canggih.
Saat itu aku berjanji akan menggunakan laptop itu semata-mata untuk ibadah karena Allah.
Alhamdulillah aku bisa mengerjakan skripsi tanpa harus ke warnet.

Dan sungguh, janji Allah adalah benar. Allah memberi apa yang kita butuhkan. Allah mendengar dan menjawab do'a-do'aku.
Tak lama dari situ, saudaraku menghampiriku. Dia bilang "Teh Ndeh, laptop teh buat Teh Ndeh aja."
Aku tertegun, apa benar laptopnya untukku?
Kutanyakan lagi, dan lagi, dan lagi, dan ternyata benar, laptop itu diberikan padaku.
Aku banyak mengambil hikmah, dulu aku tak mempergunakan waktuku dengan baik, hanya kuhabiskan berjibaku dengan film-film di laptop.
Dulu aku terlalu jauh dari Allah, sampai akhirnya Allah memperingatkanku.
Allah sayang padaku, memberiku kesempatan untuk bisa mempergunakan waktu sebaik mungkin terlebih untuk ibadah. Karena pada dasarnya Allah menciptakanku, menciptakan jin dan manusia semata-mata untuk ibadah.

Aku juga sadar, aku mungkin lupa sedekah hingga akhirnya Allah memperingatkanku juga.
Sebenarnya, apa yang kita alami pasti selalu ada hikmahnya. Selalu ada pelajaran yang mampu mengubah kita menjadi lebih baik lagi.
Semoga tidak ada lagi orang yang tertipu dan menipu karena iming-iming dan omong kosong dari MLM yang tidak jujur. #Loh?