Laman

Life Must Go On !

Life Must Go On !
Tulis apa yang ingin kau kerjakan, kerjakan apa yang telah kau tulis !

April 25, 2014

Jumatulis #6 Kumis Kopi Roda Indera Bunting - Terimakasih Ayah


September, 2013

Aku mencintai Ayah. Sosok yang saat ini selalu menemaniku disaat Ibu tak lagi disisiku. Aku menyayangi Ayah, karena beliau rela mengorbankan jiwa dan raga demi anaknya yang cacat ini. Aku yang mengalami kebutaan dari sejak kecil ini. Aku terlahir ke dunia, namun saat itu pula Ibuku tengah meninggalkan dunia. Kata Ayah, indera penglihatanku mengalami gangguan pada retinanya. Ketika kecil, saat aku mulai bisa berjalan, aku sering terjatuh. Ternyata aku di takdirkan tak bisa melihat. Meski aku tak bisa melihat, selalu ada Ayah yang siap memperlihatkan keindahan dunia ini. Terima kasih Ayah.

Pagi hari hujan terus mengguyur bumi pertiwi ini. Kurasakan udara dingin masuk kedalam sela kulitku yang tidak bisa kutolak kehadirannya. Kucium aroma kopi luwak yang sering Ayah minum. Ayahku menyukai kopi itu. Katanya, “Setiap pagi, Ibu sering membuatkan Ayah White Coffee lengkap dengan bolu pisang buatannya.” Aku hanya bisa mendengar suara parau Ayah ketika beliau bercerita tentang Ibu. Meskipun aku tidak bisa melihat, tapi aku bisa merasakan bahwa terpancar wajah kesedihan pada diri Ayah.

“Ayah, aku pernah mendengar tentang kalimat bahwa “roda itu pasti berputar.” Iya kan, Yah?” aku berjalan meraba-raba menuju Ayah yang sedang menikmati kopi luwaknya. “Ehh, Rara sudah bangun. Sini Nak. Iya sayang, roda itu pasti berputar. Apalagi roda gerobak siomay mang uyun, akan selalu berputar. Hehe” canda Ayah sambil mengusap rambut panjangku. “Yey ini serius, Yah. Jika roda kehidupan pasti berputar, apakah penglihatan Rara masih bisa disembuhkan?” aku mendengar Ayah menghela nafasnya. “Rara, Ayah masih menunggu keputusan dokter, sayang. Belum ada cangkok mata yang sesuai dengan matamu saat ini. Kamu harus bersabar ya. Umurmu belum genap tujuh belas tahun, Nak.” Belaian lembut kurasakan, aku meraba wajah Ayah dan kurasakan ada yang hangat pada wajahnya. “Ayah menangis? Mengapa Ayah menangis? Bahkan aku tak pernah bisa menangisi keadaanku ini, mengapa Ayah malah menangis?!” Ayah hanya diam. “Rara, Ayah menyayangimu. Ayah akan melakukan apapun demi kamu, Nak.” Ayah memelukku, aku tak kuasa menahan kesedihan ini. Aku ingin bisa melihat sosok yang selama ini selalu melidungiku. “Ayah, aku merindukan sosok nyatamu.” Ayah memelukku semakin erat. Beliau menangis lagi. aku menyayangimu Ayah. “Iya Rara, kamu harus sabar. Berdo’alah, kamu bisa operasi jika sudah tujuh belas tahun. Agar kamu siap. Sabar sayang, dua minggu lagi kamu bisa melihat.”

Hampir tujuh belas tahun aku selalu bermain bersama kegelapan. Ya Allah, jika memang sudah waktunya, izinkanlah aku untuk bisa merasakan karunia-Mu. Janganlah kebutaanku ini menyebabkan aku jauh darimu. Aku ingin bisa membaca kalam-kalam-Mu, bukan hanya mendengarkan saja, tapi aku ingin mengucapkan langsung dari bibirku. Ya Allah, mudahkanlah jika memang sudah waktunya.

<><><><><><><><><><><><><><> 
Bandung, 15 September 1996

Ya Allah, terima kasih atas segala kenikmatan yang telah Kau berikan pada hambamu yang tak sempurna ini. Rahman dan Rahiim-Mu selalu membuatku tak mampu jauh dari-Mu.
Ya Allah, jika suatu saat aku tak mampu lagi menjaga karunia yang telah Kau beri, aku ikhlas akan memberikannya kepada yang sangat membutuhkan.
Hatiku, jantungku, kedua mataku, jikalau ini bermanfaat untuk seseorang, aku rela melepaskannya. Karena aku ingin menyaksikan orang yang  tak bisa sepertiku kini bisa merasakan karunia-Mu.
Jika kini sudah waktunya, dimana aku telah Kau panggil, aku siap untuk menghadap-Mu.
Namun, selamatkanlah anak yang ada dalam kandunganku.

“Lah, Ibu sedang apa?”
“Ehh Ayah, ini Ibu hanya iseng saja curat-coret.”
“Ibu nulis apa?”
“Tidak, Yah. Ayah, ginjal Ibu semakin sakit. Kumis kucing yang tadi sudah direbus?”
“Sudah bu, tunggu dulu biar hangat. Sabar ya bu, jika Ibu sering meminum air godokan daun kumis kucing ini, InsyaAllah batu ginjal Ibu akan segera hilang. Bissmillah ya Bu.”
“Aamiin. Ayah, jika Ibu meninggal dan ada orang yang membutuhkan organ tubuh. Ibu rela organ Ibu dicangkokkan.”
“Ibu ngomong apasih?!”
“Serius, Yah. Ini wasiat loh.”
“Aaahh Ibu ini.”
<><><><><><><><><><><><><><> 

Hari ini hari ulang tahunku. Tepat dengan hari meninggalnya Ibuku. Tujuh belas tahun yang lalu Ibu mengalami sakit batu ginjal. Kata Ayah, seluruh halaman belakang rumah dipenuhi dengan apotek berjalan. Terlebih tanaman kumis kucing, hampir setiap sudut halaman ada tanaman itu. Daun kumis kucing yang selama itu sedikit membantu mengobati Ibu, yang akhirnya Ibu dipanggil pulang oleh Rabbnya. Bahkan, aku tak tahu rupa kumis kucing itu. Jangankan rupa kumisnya, rupa kucingnya pun aku tak tahu bagaimana.

“Rara, kamu siap?” suara Ayah mengagetkanku yang sedang duduk di teras belakang rumah.
“InsyaAllah Rara siap, Yah. Semoga operasi ini bisa lancar. Semoga penglihatan Rara ini adalah hadiah dari Allah.”
“Aamiin, sayang.”

Kami segera meluncur pergi ke rumah sakit khusus mata. Jantungku berdegup begitu kencang. Dalam gelapnya pandangan, kucoba membayangkan warna-warna pelangi yang kata orang indahnya sangat mengagumkan. Entah seperti apa warna pelangi itu, namun semua itu aku lukiskan dengan kebahagiaan.

“Kita sudah sampai, Nak. Ayo.” Ayah membantuku berjalan ke dalam rumah sakit. Kurasakan hawa dingin, suasana tenang, dan perasaan menyejukan. Ayah selalu menghiburku agar aku tak ketakutan. Akhirnya, aku masuk ruang operasi. Saat itu aku diberi obat bius sehingga aku tak sadar apa yang terjadi. Setelah aku sadar, mataku tengah dibalut perban.

“Ayah, operasinya sudah?” tanyaku pada Ayah yang duduk disampingku.
“Sudah Ra, setelah tiga hari perbannya baru bisa dIbuka. Kita sama-sama berdo’a ya.”
“Iya, Ayah.”

Selama tiga hari menunggu pembukaan perban dimataku, aku tak pernah berhenti meminta kepada Allah. Aku juga selalu meminta agar Ibu mendo’akanku juga disana. Setiap harinya aku selalu mendengarkan Ayah mengaji. Aku sudah tak sabar ingin segera bisa melihat kalam-kalam Allah yang selama ini hanya aku dengar.
Hingga tiba saatnya, tiga hari berlalu. Hari ini perban dimataku akan dibuka. Semoga aku bisa melihat, semoga aku kini bisa melihat.

“Coba buka matamu perlahan.” Terdengar suara lelaki di depanku. Pak dokter.
“Bismillah dulu Rara.” Kata Ayah.
“Bismillahirrahmaanirrahiin.” Ucapku sambil membuka perlahan mataku. Tapi kemudian aku menutupkan kembali kedua mataku.
“Rara kenapa? Bagaimana?” suara Ayah yang sepertinya mulai gelisah.
“A Ayah dimana? Ayah dimana?” tanganku meraba-raba. Aku ingin orang yang pertama aku lihat itu adalah Ayahku.
“Ayah disini, Nak. Ayah didepanmu, Ayah didepanmu.” Ayah memegang kedua lenganku. Dan itu meyakinkanku bahwa Ayah ada didepanku. Lalu, perlahan kubuka kembali mataku. Samar-samar terlihat sosok yang mungkin selama ini ingin aku lihat. Aku menyentuh wajahnya, masih samar kulihat. “Ayah?” aku tak kuasa membentung air mata ini. Tiba-tiba aku menangis, sangat deras. Ayah memelukku. Ayah menangisiku, menangis kebahagiaan karena aku kini bisa melihat. “Rara, ini Ayah sayang, ini Ayah.” Ayah menangis begitu haru. Ayah menghampiri pak dokter yang masih berdiri sembari tersenyum di ruang itu. “Dokter, terima kasih. Terima kasih Ya Allah. Anakku bisa melihat.” Ayah memelukku lagi. aku merasakan kebahagiaan Ayah sama seperti yang aku rasakan. Aku terus menangis karena baru sekarang aku merasakan nikmatnya menangis.
“Ayah, nanti ajari Rara mengaji ya.”
“Iya Rara, pasti Ayah akan mengajarimu mengaji.”

Ternyata dunia ini sangatlah indah. Aku tak mau menyiakan kesempatan yang telah aku dapatkan. Kini aku bisa melihat sosok Ayah yang tabah, kuat, dan penuh perjuangan selama tujuh belas tahun ini. “Ayah, ternyata Ayah gagah ya. Hehe. Pantas saja kuat merawatku selama tujuh belas tahun ini.”
“Iyalah, Ayah siapa dulu dong. Hehe. Rara, matamu sangatlah indah.”
“Iya yah, beruntung Rara mendapatkan mata ini. Siapakah yang sangat baik hati mau mencangkokan matanya ini.”
“Itu mata Ibumu sayang. Berterimakasihlah padanya.”
“Mata Ibu?” aku menangis lagi. Terima kasih Ibu. Aku akan memanfaatkan semua ini untuk kebaikan agar kau merasa bangga karena matamu dipakai bukan oleh orang yang salah. InsyaAllah.

“Ayah, bukankah Ayah mau mengajakku ke taman?” aku menagih janji Ayah yang dulu.
“Ohh iya sayang, ayo sekarang saja yuk.”
“Ayooo...”

Kami berdua pergi ke taman yang tak jauh dari rumah. Indah, sangat indah. Aku tak mau memalingkan pandanganku, ucap syukur terus aku lantunkan.
“Ayah, itu kucing bukan?”
“Iya Ra, itu kucing bunting.”
“Kucing bunting? Namanya aneh sekali Yah.”
“Bunting itu bukan namanya. Tapi kucing itu sedang hamil, lihat perutnya.”
“Ohh, siapa yang menghamilinya ya Yah?” Ayah tersenyum kepadaku, lalu Ayah menjawab “Yang pasti bukan Ayahmu ini yang menghamilinya, hahaha.” sembari pergi membawa kucing itu.

April 18, 2014

Jumatulis #5 Ketek - Modal Ketek


Apalah aku ini? Hanya mahasiswa yang hidup alakadarnya. Mana mungkin aku bisa membeli tiket untuk pergi menonton konser Taylor Swift! Untuk membeli makan di warteg pun pikir-pikir dua kali. Hidup jauh dari orangtua itu sangat sulit. Sulit mendapatkan kasih sayang, sulit mencari perhatian, dan sangat sulit mendapat pengisi dompet tambahan. Pokoknya hidupku serba pas-pasan, jangan pernahlah berpikir bahwa hidup sendirian itu enak. Nyatanya, sangat tidak enak. Kecuali hidup sendirian yang satu ini beda lagi. Ya, jomblo. Walau jomblo itu adalah makhluk yang hidup sendirian (dalam masalah hati), tapi bagiku kejombloan itu sangat menyenangkan. Bisa bebas mengekspresikan segala hal yang kita inginkan. Bisa terbang bebas kesana kemari tanpa hambatan. Pokoknya jomblo itu menyenangkan. Keep Smile.

Lah, mengapa malah membahas tentang jomblo ya? Entahlah, terbawa suasana hati. Oke, aku masih berusaha bagaimana caranya untuk bisa memiliki tiket nonton Taylor Swift. Ini pertama kalinya dia datang ke Indonesia loh. Masa iya aku akan melewatkannya??!! Rasanya bagai sayur tanpa garam bila seorang swifty tidak melihat secara langsung perform penyanyi favoritnya itu. Memang, masih dua bulan lagi konser itu digelar. Tapi apa daya, dengan keadaan dompet yang tidak memadai ini, mungkin saja aku akan mengurungkan niatku untuk tidak lagi terobsesi pada konser Taylor Swift itu.

Early in the morning, aku sudah siap untuk pergi ke kampus. Teman-teman sudah sangat mengetahui kebiasaanku. Setengah jam sebelum dosen datang, aku sudah nangkring di kampus, duduk di kursi kelas, dengan pakaian yang rapi, rambut cepak, juga tubuh yang wangi dan aku siap menjalani petualangan hari ini.

Oh ya, aku dikenal sebagai mahasiswa yang paling rajin, paling tekun, dan paling rapi juga paling bersih. Kalian tahu kan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman? Ya! Prinsip yang aku pegang itu membuat semua orang merasa nyaman dekat denganku. Katanya, “Yon, gue seneng punya sohib kayak lo. Rapi dan selalu wangi haha.” Oke, thank you banget buat teman-teman yang sudah nyaman bersamaku. Itu merupakann satu penghargaan untukku.

Sepulang kuliah, aku berjalan menelusuri jejak langkah yang tak tentu arah. Menikmati setiap detiknya hembusan angin senja, menyaksikan dendangan kicau burung yang terbang riang di udara, juga nyanyian alam lainnya yang membuat aku tak kuasa memalingkan panca indra. Saat aku menikmati segalanya, tiba-tiba ada seorang pengendara motor berhenti dihadapanku dan memberikan selembar brosur iklan kepadaku, setelah itu dia berlalu.
Tak banyak berpikir, aku langsung membaca brosur itu.



Keningku mengernyit, rasanya ada satu titik terang yang telah menunjukanku jalan untuk mendapatkan uang tambahan. Itupun jikalau aku menang. Tak banyak bicara, aku segera menghubungi nomer yang tertera dalam selembaran brosur itu.
Terdengar suara merdu dari nomer yang aku hubungi itu. Suara wanita yang kemudian memulai pembicaraan kami ditelepon.

“Hallo Selamat Sore, dengan Lian PT Raxeno bisa kami bantu?” mendengar ucapannya itu aku mendengar sesuatu yang sudah tidak asing lagi. Raxeno? Bukankah itu merek produk paling terkenal di Indonesia? Sepertinya muncul sinyal positif dan jangan sampai aku sia-siakan. “Selamat Sore Mbak, saya Riyon. Saya membaca brosur iklan dan saya berminat untuk mendaftarkan diri Mbak.” Dengan antusias, saya langsung saja menerima segala perintah dari mbak tersebut. “Oke Mas Riyon, nama Anda telah kami cantumkan. Untuk castingnya akan dilaksanakan dua hari kemudian setelah Anda mendaftar. Apa ada pertanyaan?” kata mbak itu. “Tidak Mbak, kalau begitu terima kasih.” Kataku dan segera dijawab oleh Mbak itu yang kemudian telepon terputus beberapa detik kemudian. “Iya, kembali kasih. Selamat Sore.”

Percakapan tadi itu memunculkan satu kesan dalam pikiranku. Sepanjang jalan, aku terus menebar senyuman kepada setiap insan yang berlalu lalang di jalanan. Senyum sumringahku terus menyungging indah sampai aku tiba di kosan. Kosan yang tidak terlalu besar ini menjadi basecamp paling difavoritkan teman-teman. Mengapa? Karena sudah aku bilang bahwa aku dikenal sebagai mahasiswa yang paling rapi dan bersih, tak jarang teman-temanku selalu datang ke kosanku ini. Kosan yang dihuni oleh tiga masketir ini menjadi sangat ramai jikalau sudah dikunjungi para antek-antek mahasiswa yang bernasib sama. Hanya untuk menikmati kenyamanan kosan.
“Hey Yon, darimana aja lo? Sorry ya gue barusan minta mie instan lo. Gue kehabisan dana Yon. Hehe.” Rojak, teman kosanku. Dia orang Sumatera dan kerjaannya morotin mie instan milikku. “Ya ya ya, gue paham Jak.” Rojak hanya nyengir kuda. Hih. Sementara itu, satu penghuni lagi sedang asik membaca koleksi-koleksi komik Detective Conan favoritenya. Dia Ali, berasal dari Kalimantan si Kutu Buku dan si Perindu Mantan. Dia selalu gagal moveon. Kesian banget kan.

Dua hari berlalu, dan kini adalah waktu dimana aku harus pergi ke tempat casting. Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu. Tak ada jadwal yang membuatku harus pergi ke kampus. All is save. Aku meminta Rojak dan Ali untuk menemaniku pergi ke PT Raxeno itu. Sebelumnya mereka menertawakanku saat aku bercerita akan mengikuti casting iklan sebuah produk. Tapi kata Rojak, “Okeh lah Yon, demi kebaikan bersama, gue setuju lo ikut itu casting.” What?! ((Kebaikan bersama)) “Lo kayak gitu pasti ada maunya deh. Iya kan Jak? ” cetus Ali yang matanya masih terpaku pada Conannya. Semua hanya tertawa menanggapi hal seperti itu. Sahabat itu selalu berbagi saat suka maupun duka, kan? “Oke, sekarang ayo kita berangkat!” aku yang sangat semangat segera bergegas pergi.

PT RAXENO JAYA. Gedung tinggi hampir menjulang ke langit, ada dihadapanku. Aku segera masuk ke dalam gedung perusahaan itu begitu pula dengan Rojak dan Ali tapi mereka langsung duduk menunggu di ruang tunggu. Aku menghampiri Mbak yang ada di bagian informasi. “Maaf Mbak, saya Riyon.” Belum selesai aku bicara, Mbak itu langsung memotongnya begitu saja. “Ohh Mas Riyon. Saya Lian yang kemarin menjawab panggilan.” Mbak itu yang kemarin? Memang benar, suaranya sangat cocok dengan penampilannya. Cantik aduhaaai. “Eh Mbak Lian. Iya saya harus gimana ya Mbak?” aku sedikit malu. “Ayo Mas, ikuti saya. Kita menuju ruang casting. Mas Riyon datang terlalu siang. Dari pukul enam kami sudah melakukan casting pada 63 orang peserta.” Mbak Lian sangat piawai. Dia mengobrol layaknya seperti sudah saling mengenal, sangat akrab. “Wah, banyak juga ya Mbak? Saya jadi putus asa.” Jawabku sedikit lemas. “Setiap orang punya talent masing-masing Mas. Jangan pesimis dulu lah. Silahkan Mas masuk, di dalam sudah ada yang menunggu.” Mbak Lian, senyumanmu menenangkan pikiranku. “Oh iya Mbak, terima kasih.” Aku langsung masuk dan Mbak Lian pergi kembali.
“Permisi Pak, Bu, Selamat Siang.” Aku memasuki ruangan yang didalammya ada orang-orang yang berwajah cukup serius. “Silahkan duduk.” Kata salahsatu Bapak berjas rapi dan berkumis. Beliau melanjutkan bicara. “Riyon Harfiyandi. Mahasiswa tingkat dua semester 3, benar?” tegangnya bapak yang satu ini. “Iya Pak. Benar.” Gugup. Aku menjadi sangat gugup. “Dari 63 orang yang mendaftar, belum ada criteria yang pas sesuai dengan yang kami butuhkan.” Kata salahsatu Ibu yang duduk dengan wajah belagu. Sebut saja Ibu Juri. “Semoga kali ini kamu tidak mengecewakan. Kita langsung saja ya, sebagai penutupan.” Lanjutnya.

Saat itu aku tidak tahu produk apa yang akan aku iklankan. Rasanya aku ingin membatalkan pendaftaranku saat aku disuruh membuka baju. Memang, hanya baju atasan saja yang dibuka tapi tetap saja aku malu. “Oke fix, kamu lolos Riyon.” Lah? Hanya sekedar membuka baju, aku langsung lolos begitu saja? Casting yang aneh. “Memangnya saya mau mengiklankan produk apa ya Bu? Hehe.” Aku sembari memakai kembali bajuku. “Kami disini akan mengiklankan produk terbaru kami. Yaitu Lotion Softy Raxeno. Saya lihat kulitmu sangat bagus. Cocok sekali untuk mengiklankan Lotion Softy ini.” Lotion? Aku sedikit terkejut. “Bukankah mayoritas Lotion itu diiklankan oleh wanita? Bahkan saya belum pernah melihat iklan Lotion oleh lelaki, Bu.” Aku berbicara seperti itu, membuat Ibu Juri menghampiriku. “Pertanyaan yang bagus. Oleh sebab itu kami menciptakan resolusi baru. Lelaki juga bisa memiliki kulit putih dan halus bila memakai lotion, khususnya dari produk kami ini.” Senyumnya sangat sinis.  Rasanya aku sedang ditawan oleh para pemburu hutan. Jujur, aku menjadi tidak semangat dengan semua ini. “Bu, maaf sebelumnya. Sebelum saya benar-benar mendapat kontrak, boleh saya ditolak saja bu.” Aku menunduk. “Loh? Banyak orang yang ingin menjadi bintang iklan loh! Mendapatkan royalty yang sangat besar.” Kata Bapak berkumis, meyakinkan. “Memangnya kenapa, Riyon? Kamu tidak mau?” Tanya Ibu juri yang nada suaranya mulai meninggi. “Daripada saya iklan Lotion, saya lebih baik iklan deodorant Bu.” Itu adalah reflek. Namun, kalian pernah mendengar tentang bahwa setiap ucapan adalah do’a? dan ucapanku berubah menjadi nyata. “Riyon mau iklan deodorant?” Tanya Ibu Juri yang sangat terlihat jelas ada pancaran kebahagiaan diwajahnya. “Ehh hehe, I iya bu, iya. Hehe.” Aduh! Aku bingung. “Akhirnya ada juga yang mau menjadi bintang iklan produk deodorant kami ini. Sekarang, maaf Riyon, boleh dibuka lagi bajunya? Perlihatkan ketiakmu. Jika sesuai criteria, kami akan langsung mengontrakmu.” Kata Ibu Juri. Lagi. Untuk yang kedua kalinya, aku membuka lagi baju. Masih ingat tentang diriku? Paling rapi dan paling bersih. Termasuk masalah ketiak, aku selalu berusaha merawatnya demi kebaikanku.

“Oke Riyon, kamu lolos dan kita mulai sekarang saja ya shooting iklannya.” Kata Bapak berkumis sembari menepuk-nepuk pundakku. Dengan sedikit tidak terpaksa aku mulai melakukan shooting. Baru kali ini aku menjadi orang pertama yang memakai produk paling terkenal di Indonesia. Aku hanya mengoleskan saja deodorant ke ketiakku. It’s so simple, right? Setelah itu, selesailah sudah segala perjalananku di ruang casting itu. “Seminggu kemudian, kami akan menghubungimu kembali. Terima kasih sudah bekerjasama.” Ibu Juri dan Bapak Kumis merentangkan senyum dibibirnya. “Terima kasih kembali.” Aku segera pergi meninggalkan ruangan itu. Ruangan yang sangat berkesan.

Aku melewati bagian Informasi. Kulihat Mbak Lian masih ada disana. Dia tersenyum sambil mengangkatkan jempolnya padaku. Aku membalas senyumannya. Rojak dan Ali. Apakabar mereka? Aku segera pergi ke ruang tunggu. Kulihat Ali masih membolak-balikan halaman komik yang sedang dibacanya. Rojak? Dia tertidur pulas. “Etdah Yon, lo lama banget. Ngapain aja sih? Si Rojak kayaknya udah bikin cerita lima episode di mimpinya.” Sepertinya Ali kesal menungguku. “Sorry Li. Gue negosiasi dulu disana.” aku duduk dulu di ruang tunggu. “Trus hasilnya gimana? Lo jadi bintang iklan apasih?” aku tidak sungkan memberitahu Ali. “Gue jadi bintang iklan ketek Li. Hahaha. Deodorant broooh! Udah shooting gitu lah tadi. Langsung ngolesin deodorant nih ke ketek gue. Wangi kan wangi!!” Ali langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku. “Hahaha. Pantesan lama banget. Langsung dikontrak ternyata. Ketek Lo gak diapa-apain kan? Hahaha.” Pertanyaan konyol. “Kagaklah. Li, untung tadi pagi gue bersiin dulu ketek gue, pakek Veet yang dari promosi di kampus ituloh. Hahahaha. Alhasil, ketek gue jadi halus bebas bulu. Hahaha.” Ali tertawa, aku terbahak, dan Rojak kini terbangun. “Berisik amat sih. Ehh si Oyon udah keluar. Lo lama Yon. Pulang buruan. Kursi disini tak senyaman kasur di kosan.” Rojak yang mungkin nyawanya belum terkumpul segera pergi meninggalkan kami yang masih duduk di ruang tunggu. “Oke Li. Si Rojak ngelindur. Ayo kita pergi.” Kami bertiga pergi meninggalkan gedung itu.

Hari yang dinanti, kini mulai mendekati. Datang berbisik padaku, meniupkan angin kebahagiaan. Telepon berdering, dengan segera aku langsung mengangkatnya. “Hallo?” aku mengawali pembicaraan. “Selamat pagi Riyon. Kami dari PT Raxeno. Selamat atas kerjasamanya, produk kami telah masuk di pasaran. Dengan omset yang sangat tinggi. Anda mendapat royalty 25% dari hasil penjualan. Kami sudah mengirimkannya ke rekening anda.” Mendengar berita bahagia ini rasanya aku ingin teriak, ((SUMPEHH LOOHHH??)). “Wah, selamat yak Pak. Terima kasih kembali karena sudah menerima saya. Terima kasih.” Telepon ditutup. Aku segera bersiap-siap pergi ke Bank untuk mengecek saldoku. “Jak, Li, gue ke Bank dulu. Hahahaha.” Aku melihat Rojak dan Ali melongo melihat tingkahku. “Kayaknya si Riyon udah hasil tuh. Siap-siap kita bajak, Li.” Kata Rojak menghasut Ali. “Hahaha.” Ali selalu begitu. Cueks bebeks.

Yes! Saldoku benar-benar bertambah. Segera aku kembali lagi ke kosan. Ingin membagikan kebahagiaan ini kepada kedua sahabatku. Sepanjang jalan, aku merasa berjalan diatas uang. Berlebihan memang,  tapi pokoknya ini memang rejeki nomplok.
“Rojaaak, Alii, tebak dong gue dapet royalty berapa duit??” teriakku dibalik pintu. “Berapapun duitnya, lo jangan lupa kita-kita hahaha.” Rojak yang terlihat ikut bahagia. “Gue dapet royalty 25% brooohh.” Aku kipas-kipaskan buku tabunganku yang sudah ditransfer itu. “25%? Kecil banget sih Yon. Coba gue liat saldo lo.” Ali merebut buku tabunganku. Seketika, mata Ali dan Rojak menajam, melotot setajam pedang. Sementara aku, tersenyum riang. “Serius ini Yon?? Dua puluh juta mau lo apain????” teriak Rojak. “Tenang Jak, gue traktir lo bakso tahu di depan. Gocengan aja. Hahaha.” Rojak mencibir. Tiba-tiba, Ali mengagetkanku. “Yon, Yon, lihat. Jak lihat Jak.” Ali menunjuk iklan yang muncul di saluran TV. Waaahhh. Itu iklan terbaru Raxeno. Iklan yang baru saja aku mainkan seminggu yang lalu, akhirnya muncul. “Yooooonnnn, ketek lo mulus bener lah Yon. Gue mau beli ah Raxeno Men. Hahaha.” Rojak memujiku atau mengejekku ya? “Ehh eh tunggu, Lo cuma ngiklanin ketek lo doang Yon?? Modal ketek doang?? Wajah lo kagak dimunculin Yon?? Hahahahaha. Yang muncul wajahnya si Artis Luar Negeri, yang dipake ketek Orang Lokal. Hahaha.” Baru kali ini si Ali puas banget ngebully. Ya. Aku hanya diminta untuk menunjukan ketek saja. Katanya ketekku udah paling sempurna dari pendaftar lelaki yang ada. Tapi, wajahku kurang oke. Kurang gagah katanya. “Ahh gue gak peduli ya, iklannya mau kayak gimana, yang penting gue udah nerima duitnya. Hahahaha.” Suasana kosan kini penuh dengan suara-suara tawa. Ya! Yang penting bayarannya.

Dua puluh juta. Mungkin jika aku pakai tiga juta, tidak akan habis begitu saja. Kini, harapanku tercapai sudah. Aku membeli tiga tiket konser Taylor Swift, untukku, Ali dan Rojak. Dulu dengan keadaan dompetku, aku tak bisa membeli satu tiketpun. Namun sekarang, aku bisa membelikanpula untuk kedua sahabatku. We are Swifties! Terimakasih Tuhan, Karena-Mu lah aku bisa seperti ini. Sepuluh persen dari hasil itu, aku sumbangkan ke Yayasan. Dan tak lupa memberi tahukan berita ini kepada keluarga.

Akhirnya, aku menonton konser Taylor Swift secara langsung. Bahkan bersama kedua sahabatku ini. Kini, dompetku tidak lagi kelaparan. Selalu sehat sentausa. Semua ini karena si ketek. Bermodal dari ketek, aku bisa mewujudkan semua harapan. Terima kasih ketek keberuntunganku. You Belong With Me.

April 14, 2014

Siluet Masalalu

Sebenarnya, dulu, aku mencintaimu, bukan mencintai temanmu. Namun, temanmu terlalu mudah mencuri hatiku. Jika aku tau kamu punya perasaan yang sama padaku, akan aku jaga dan aku persembahkan hati ini hanya untukmu.

•••••

Kamu tau? Saat aku bercerita tentang perasaanku. tentang aku yang menyukai temanmu. Namun, kutemukan kenyamanan itu saat bersamamu. Dan apa kamu ingat? Tulisan tanganku yang kamu sobek dihalaman akhir sebuah buku. Itu hanya sebuah saksi bisu bagaimana caranya aku menarik perhatianmu. Sampai suatu ketika, kamu nyatakan perasaanmu. Aku tak bisa menerimanya. Bahagia. sangat bahagia. namun aku takut dengan pola pandang temanmu padaku.

•••••

Sebuah kisah klasik masalalu yang aku alami hanya sebuah rangkaian cerita untuk mencapai ending bahagia bersamamu. Kini aku sesali semua. Jika memang kamu untukku, semoga Tuhan menyatukan kembali perasaan itu.

April 11, 2014

Jumatulis #4 Sofa - SOFKEBU


Aku mengintip sosok wanita yang memakai jilbab putih, duduk manis di sofa yang ada di dekat mushola rumah, melantunkan ayat-ayat suci. Hampir setiap hari sehabis shalat lima waktu Ibu selalu membaca Al-Qur’an di sofa itu. Aku menyebutna “Sofkebu” alias Sofa Kesayangan Ibu. Beliau bilang kalau mengaji atau hanya sekedar bersantai sambil duduk di sofa itu suasananya beda, lebih terang di kala siang karena tepat didekat jendela, lebih nyaman di kala malam karena bisa menikmati indahnya alam. Ibu menghabiskan waktu luangnya di sofa itu.

“Ibu, ini sudah malam. Ayo bu tidurnya pindah ke kamar.” Aku membangunkan Ibu yang saat itu tertidur di sofa.
“Ehh Rara,” Ibu terbangun dengan masih mendekap Al-Qur’an didadanya. “Ibu masih menunggu Ayah pulang, Ra. Jam berapa sekarang?” lirik Ibu pada jam dinding.
“Sudah hampir jam dua belas bu.” Aku duduk disamping Ibu.
“Kok Ayahmu belum pulang ya Ra?” Ibu beranjak dari sofa itu menuju jendela yang gordengnya masih belum ditutup.
“Mungkin Ayah lembur. Ibu tidurnya di kamar ya. Kalo di sofa nanti badan Ibu sakit, pegal-pegal nantinya.” Aku kemudian menghampiri sambil memijit pundak Ibu.
“Iya sayang. Lah kamu kenapa belum tidur?” Tanya Ibu menatapku.
“Rara tadi terbangun dan laper bu. Saat Rara mau ke dapur melihat Ibu tertidur disini yasudah Rara kesini.” Aku kembali duduk di sofa itu. “Oh iya bu, kenapa Ibu senang sekali menghabiskan waktu di sofa ini bu? Padahal ini sofa gede aja enggak.”

Lalu Ibu duduk lagi disampingku disofa itu. Lalu, Ibu menceritakan sesuatu padaku “Sofa ini hadiah dari Ayahmu. Saat kami masih muda, seminggu sebelum Ayah melamar Ibu, beliau bertanya pada Ibu katanya “Neng, kalo Aa mau beliin Neng sesuatu, mau motor atau mobil?” Ibu menjawab tidak mau dua-duanya. Ayahmu bertanya lagi “Jadi maunya apa dong, Neng?” Ibu jawab, minta sofa aja. Ayahmu nanya lagi “kok minta sofa sih Neng?” Ibu jawab lagi, kalo mobil atau motor gak ada sofanya, berarti kita tidak bisa duduk bersama. Ehh besoknya Ayahmu langsung membawakan sofa ini ke rumah, sambil mengucapkan “Neng, kita akan selalu duduk bersama. Sofa ini saksinya.” Begitu Ra, makanya Ibu nyaman duduk disini.” Aku tersenyum saat mendengar cerita Ibu.

“Waaah kok Ibu baru cerita sekarang sih? Ternyata Ayah so sweet juga ya bu. Hehehe. Rara jadi ngiri deh bu. Semoga nanti jodoh Rara pengertian dan perhatian juga. Hehe. Aamiin.”
“Iya Ibu baru sempat cerita sekarang. Iya Ra, Aamiin. Tapi sekarang jangan dulu mikirin jodoh-jodohan ah. Sekolah dulu yang sungguh-sungguh. Masalah jodoh pasti Allah sudah mempersiapkanya. Kalau mau mendapat jodoh yang terbaik, kamu harus baik pula. Jodoh kita cerminan diri kita.” Ibu merangkulku dan mendekapku semakin dekat.

“Hehe. Iya bu, tapi sekarang Rara sedang mengagumi seseorang. Orang jauh sih kenal di komunitas gitu bu, belum pernah ketemu juga. Kayanya Rara Jatuh cinta deh bu sama orang itu. Semoga Allah menunjukan yang terbaik. Hehe.”

“Aduuuhhh putrinya Ibu lagi kasmaran ceritanya nih? Dengerin Ibu ya Ra, Ibu titip sama kamu, menyukai atau mengagumi itu boleh tapi jangan sampai berlebihan. Saat kita sudah terlalu tinggi menyukai seseorang lalu kita terjatuh pasti akan sangat sakit. Jadi Ibu berpesan sama Rara, jangan terlalu cepat menyimpulkan isi hati dan perasaan.” Ternyata Ibu sangat ahli dalam hal beginian.

“Iya bu siap. Rara hanya sekedar mengagumi saja bu. Kayak lagunya ungu itu loh bu. Cinta Dalam Hati, mengagumi tanpa dicintai. Hehehe.”

“Ahh dasar kamu ini. Sudah cepat tidur sudah larut malam. Besok kan kamu ada ujian. Harus cukup tidur supaya besok fresh badannya.”

Oh iya, besok aku akan melaksanakan ujian nasional. Aku sekarang kelas tiga SMA. Besok adalah hari pertama dimulainya perjuangan akhirku di SMA. Aku segera beranjak dari sofa kesayangan Ibu itu. Lalu pergi ke kamar. “Ibu jangan tidur di sofa. Rara duluan ya bu.” Tak seperti biasanya, sebelum pergi ke kamar aku memeluk erat dulu pada Ibu. Mencium pipinya. Mungkin aku sedang senang saat ini. “Mimpi indah anakku sayang.” Kata Ibu saat itu. Ibu melanjutkan menunggu Ayah di sofa itu. Dengan Al-Quran yang masih dipegang, Ibu melanjutkan lagi mengajinya. Lalu, Ayah pulang saat setelah lima belas menit berakhirnya obrolan aku dan Ibu di sofa itu.

Angin subuh mulai aku rasakan. Kumandang adzan terdengar mendayu memasuki sela-sela kamarku. Aku segera bangun dan mengambil air wudhu. Seperti biasa, shalat subuh adalah satu moment yang sangat aku nantikan. Bisa shalat berjamaah bersama Ayah dan Ibu. Aku segera menuju mushala. Tapi mengapa masih sepi? Lalu aku mengetuk pintu kamar Ibu, tidak dikunci. Aku buka namun tak ada Ibu dan Ayah disana. mereka pergi kemana? Apakah Ayah dan Ibu pergi berjama’ah ke mesjid? Tapi mengapa tidak mengajakku? Aku memutuskan untuk menyusul ke mesjid. Namun saat aku akan mengunci pintu rumah terlihat sorotan lampu mobil tepat diwajahku. Itu mobilnya Ayah.
“Rara mau kemana?” Tanya Ayah dengan nada suara yang sangat kecapean.
“Ayah darimana? Rara mau nyusul shalat ke mesjid kan?”
“Rara belum shalat subuh? Yasudah ayo Ayah antar ke mesjid saja.” Ayah mengandengku masuk ke dalam mobil.
“Ayah, Ibu mana? Kenapa ninggalin Rara? Kan Rara ingin shalat berjamaah. Ingin berdo’a bersama demi kelancaran ujian nasional hari ini.”
“Iya nanti kita berdo’a bersama.” Jawab Ayah dengan nada yang dingin tak seperti biasanya. Dan, semua pertanyaanku tidak beliau jawab. Aku hanya diam ikut apa kata Ayah.

Akhirnya aku shalat di mesjid yang bersebrangan dengan salahsatu rumah sakit. Setelah shalat subuh, Ayah membawaku masuk kedalam rumah sakit itu. Pikiranku langsung tertuju pada Ibu. Apa Ibu sakit?
“Ayah, Ibu mana? Kenapa ke rumah sakit? Apa Ibu sakit?” hatiku mulai tak menentu. Ayah tak pernah menjawab pertanyaanku.
Lalu Ayah membawaku ke ruangan yang bertandakan “Ruang ICU” mataku menajam setelah membaca tanda ruangan itu. Ayah membuka pintunya, aku melihat sosok wanita terbujur kaku. Selang infusan, alat opname dengan tabung oxygennya, semua terpasang ditubuh sosok wanita itu. Ibu, itu Ibuku?! Aku berlari menuju tubuh yang terbaring lemah itu.
“Ibuuu, Ibu kenapa begini? Ayah, Ibu kenapa Yah, Ibu kenapa?” air mataku tak kuasa kubendung. Ayah hanya diam. “Kenapa Ayah selalu begini?! Kenapa Ayah selalu diam?! Rara bukan anak kecil lagi yah Rara bukan anak kecil lagi!!!” aku menghampiri Ayah dan reflek memukul-mukul tubuh Ayah. Ayah langsung memelukku dengan erat. “Ibu pasti sembuh Ra, Ibu pasti sembuh.” Aku hanya bisa menangis aku tak kuasa melihat Ibu seperti itu. Aku kembali menghampiri tubuh Ibu.
“Hari ini Rara ujian nasioal bu. Kenapa Ibu malah sakit? Ibu cepat sembuh bu. Rara ingin dido’akan sama Ibu, Rara ingin disemangati Ibu. Hari ini Rara ujian bu.” Aku memeluk Ibu yang tak berdaya sama sekali. aku hanya menangis dan terus menangis.
“Rara, do’akan Ibu ya semoga Ibu cepat pulih. Sekarang kita pulang dulu. Rara harus siap-siap sekolah.” Ayah mengajaku pulang.

Aku segera meninggalkan Ibu saat itu. Berat hati ini untuk melalui segala guncangan hati. Harapanku sirna. Semangatku pudar. Hanya air mata yang terus menemani pikiranku. Ibu, mengapa kau rapuh disaat aku benar-benar sangat membutuhkanmu?

Bukan konsentrasi yang ada dipikiranku hari ini tapi sebuah kekhawatiran besar yang terus melanda 
pikiranku. Ibu cepat sembuh ya, Rara sangat membutuhkan Ibu.
Ujian nasional berlangsung dengan lancar tapi tidak dengan hatiku. Aku tidak menunggu Ayah menjemput, aku segera bergegas pergi ke rumah sakit.

Angin berhembus tidak seperti biasanya, hembusannya membawa perasaanku menjadi tenang, hembusannya membisikkanku sebuah makna agar aku tidak sedih, dan hembusannya sangat menyejukkan hati.
Aku berdiri tepat di depan pintu ruang “ICU”. Kubuka perlahan pintu itu namun, ruangan itu rapi. Tidak ada Ibu disana, hanya seorang suster cantik menghampiriku yang sedang berdiri kaku. “Ibumu sudah pulang.” Maksudnya? Pulang? Aku tidak mau menyimpulkan makna itu secara langsung. Aku harap Ibu sudah pulang dengan keadaan yang sehat lagi.

Aku kembali melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu. Tiba-tiba terdengar nada dering dari handphoneku. Ya, Ayahku menelepon. “Ayah, kenapa tidak bilang kalau Ibu sudah pulang? Aku tadi ke rumah sakit!” aku kesal. “Ayah tadi ke sekolahmu, mengapa kamu tidak menunggu Ayah? Sekarang kamu dimana? Ayah jemput.” Nada bicara Ayah yang tidak seperti biasanya. Terdengar sedikit gemetaran. “Rara di rumah sakit Yah, Rara nunggu disini.” Maafkan aku Ayah.



Setelah lama menunggu akhirnya Ayah datang. Ayah tidak keluar dari dalam mobil. Aku segera masuk dan duduk disamping Ayah. Aku melihat mata Ayah sembab seperti habis menangis. Aku tak mau bertanya apapun padanya. Aku memilih diam selama di perjalanan.

Sesampai di rumah, aku langsung turun dari mobil. Aku segera masuk ke rumah. Mataku tertuju pada satu tempat. Ya, Mushola. Tepat sekali, ada ibu sedang duduk di sofa kesayangannya. Aku berlari dan memeluknya. “Ibuu, Alhamdulillah Ibu sudah pulang. Rara kaget bu. Takut ibu kenapa-kenapa.” Namun mengapa Ibu melepaskan pelukanku? Beliau memandangku, aku kembali memandangnya. Aku melihat ada tahi lalat dikeningnya. “Tante Dewi?” Aku tak sadar bahwa itu adalah Tante Dewi, kembaran Ibuku. “Rara yang tabah ya sayang. Ibumu sudah pulang.” Tante Dewi menangis, memelukku erat. Aku masih tidak ingin menyimpulkan segala yang terjadi hari ini. “Ibu dimana, Tante?” aku mencoba menahan air mata ini. “Ibumu di ruang belakang Ra.”

Tak banyak bicara aku langsung pergi kesana. Aku melihat tubuh yang ditutupi oleh sinjang batik. Ada Ayah disampingnya. Ada Om Aryo, ada Nenek, ada Aris dan semua keluarga ada disana. Aku baru tahu mengapa semua berkumpul di ruang belakang, agar aku tidak kaget melihat semua ini. Aku terdiam. Tubuhku mulai lemas. Lututku gemetar. Aku terjatuh. Pandanganku kosong menatap tubuh Ibu. Ayah mendekatiku. Lalu iya memelukku erat, sangat erat. Air mataku tak dapat kutahan lagi segalanya membuncah bersama dengan perasaanku yang tak menentu. Aku menangis dipelukan Ayah. Semua sanak saudara ikut menenangkanku. Aku tak kuasa melihat jenazah Ibu. Aku tidak percaya!

Ibuku mulai diangkat akan dimandikan. Ayah bilang aku harus ikut memandikan. Aku mengiyakannya. Aku memandikan jasad yang kini takan lagi ada bersamaku. Aku terus menangis. Ayah menenangkanku namun aku tetap tak kuasa menahan tangis. Aku membasuh seluruh tubuh ibu perlahan. Kini, mata indah itu takan lagi terbuka. Mulut itu takan pernah lagi bercerita. Tangan itu takan pernah lagi membelai manja. Ibu, secepat inikah?

Seusai memandikan jenazah Ibu, aku segera mengambil air wudhu. Segera aku membaca Al-Qur’an. Tubuh ibu sedang dibungkus kain kafan. Aku masih tak kuasa. Aku pergi ke mushola. Sofa itu, biasanya saat ini ibu sedang duduk mengaji di sofa itu. Aku mendekati sofa itu, duduk lalu mengaji.
 
Ibu, masih aku rasakan obrolan kita tadi malam. Disini, di sofkebu ini. Sofa kesayangan Ibu, hadiah dari Ayah. Cerita itu takan pernah aku lupakan. Akan selalu ku kenang. Biarkan sofa ini menjadi pelipur lara saat aku merindukan Ibu yang kini sudah tak ada. Biarkan sofa ini menjadi tempatku menghabiskan waktu seperti Ibu dulu. Aku menyayangimu, Ibu.