Laman

Life Must Go On !

Life Must Go On !
Tulis apa yang ingin kau kerjakan, kerjakan apa yang telah kau tulis !

April 04, 2014

Jumatulis #3 Cepirit - Cintaku Menyembuhkan Cepiritmu.


Akhirnya kebiasaaan burukmu bisa hilang, Mas. Entah obat apa yang membuatmu menjadi seseorang yang normal kembali layaknya manusia sungguhan. Jika dulu aku tidak menyemangatimu mungkin sekarang aku tak tahu kau akan menjadi seperti apa. Kau beruntung mendapatkan hatiku dan akupun sangat beruntung bisa memilikimu cintamu seutuhnya. Walaupun dulu kau sering kena marah, hinaan, dan segala hal yang membuatmu down tak terkendali. Kini kau menjadi sosok yang sangat keren bahkan gadis-gadispun banyak yang naksir padamu. Tapi sekarang kau sudah menjadi milikku, Mas. Jangan pernah sekali-kali menghianati cintaku setelah perjuangan yang selama ini aku berikan, selama ini kita lewati.

Dibawah pohon rindang ini aku jadi mengingat hal-hal yang dulu pernah kau alami. Pengalaman yang mungkin ingin kau lupakan. Tapi bagiku jangan pernah kau menghapus kenangan itu. Walau menurutmu pahit, tapi berakhir dengan sangat indah bukan?

<><><><><><><><><><><><> 

Hujan deras masih mengguyur kota kembang ini. Aku melihat ada sebuah warteg diseberang sana. Karena aku sangat lapar dan sudah sangat kedinginan, aku memutuskan untuk makan di warteg itu. Aku berlari kecil untuk menyeberangi jalan yang masih ramai dengan gemercik air itu. Ketika aku masuk kedalam ternyata sangat sepi tak ada pengunjung sama sekali. Tapi tak apa, aku segera duduk dan memesan.

Setelah beberapa menit aku menyantap hidangan khas Tegal itu, ditengah sepinya warteg muncul sosok pria yang ngos-ngosan kecapean. Dia langsung duduk di kursi sebelahku. Lalu dia menatap tajam padaku, dan aku kembali menatapnya juga. Tak sadar kami saling bertatapan. Namun tatapan kami pecah dengan suara petir dari luar.
“Ehh maaf.” Katanya sambil memalingkan wajah. Aku tak menjawabnya dan akupun melanjutkan kembali menikmati hidangan Tegal tersebut. Tapi tiba-tiba, mengapa ada sesuatu yang aneh? Aku mencium bau yang tidak sedap. Aku mencoba mengendus-endus sekitar darimana bau itu berasal. Penciumanku berhenti tepat didepan pria tadi. Dia gemetar dan anehnya dia malah langsung pergi begitu saja. “Bu, saya ndak jadi pesan ya.” Teriaknya sambil lari keluar. Padahal hujan masih sangat deras. Aku bingung, apa dia kentut ya dan malu sehingga dia memutuskan untuk kabur. Entahlah.

Keesokan harinya, aku bertemu lagi dengan pria itu di Taman Kota. Tapi setiap dia melihatku, dia selalu langsung pergi menghindar. Dia sosok yang baik sepertinya, wajah oke, penampilan cool dan sangat gagah dengan jas yang dipakainya. Tapi ya mengapa, dia selalu kabur ketika melihatku.

Kini, aku sering bertemu dengannya, dengan pria itu. Tapi seperti biasa dia selalu pergi jika melihatku. Apa dia tidak suka denganku ya? Yasudahlah. Lagian aku tidak mengenalnya dan begitupun sebaliknya. Sampai suatu ketika, mungkin dia memberanikan diri untuk menemuiku hanya untuk meminta number handphone saja setelah itu dia pergi lagi. Namun, entah angin mana yang membuatku langsung begitu saja memberitahukan number handphoneku. Apa aku mulai memiliki rasa yang tidak biasa? Sampai kami berdua mulai dekat walau hanya sebatas sms dan teleponan saja. Namanya Reno. Saat itu pula dia tidak segan menyatakan perasaannya padaku. Dan entah mengapa aku langsung menerimanya, menerima cintanya. Apa mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta?

Suatu malam, handphoneku berdering dan ternyata dari Reno itu. Dia mengirim pesan singkat “Ra, besok pukul sembilan temui aku di Café LaTansa yang seberang Jalan Sunda itu ya. Tks.” Aku tidak membalasnya karena saat itu aku tidak punya pulsa.

Keesokan harinya, saat itu panas terik menemani perjalananku menuju Café LaTansa. Sesampai disana dia sudah standby duduk di kursi number 6. Dari kejauhan dia tersenyum padaku. Aku langsung duduk dan membalas senyumannya. “Hey, akhirnya bisa bertemu.” Dia hanya membalas dengan senyuman menawan. Kulihat dia mulai gemetar.

Indah, terlalu indah. Dirimu  tak ada bandingannya. Senyummu mengalahkan indahnya bunga mawar. Gerak-gerikmu membuatku semakin penasaran. Mengapa engkau hanya diam? Wajah lugumu membuatku semakin terpaku. Terpaku pada satu titik yaitu pesonamu. Kau terlihat gelisah. Matamu memancarkan satu makna yang mungkin oranglain takan mengetahuinya. Dan mengapa kau tak pernah usik dari tempat dudukmu? Wajahmu beku, semakin kaku. Namun, mengapa tiba-tiba aku mencium sesuatu yang tidak asing lagi dihidungku??
“Bau apa ini?!” bau itu mengusik lamunanku. “Kamu kentut?!” tanyaku pada lelaki yang saat ini bergelar sebagai pacarku. “Ti.. tidak! Aku tidak kentut.” Jawabnya sembari gugup dan gemetar. “Ohh kamu tidak kentut ya.. apa kamu cepirit????” aku menerka dan menunjuk dia dengan garpu yang sedang aku pegang. “Hey hati-hati! Aku tidak.. tidak cepirit!” tangkisnya pada garpu yang sedang aku pegang itu. “Lantas, bau ini berasal darimana? Masa iya yang kentut baunya keterusan begini?!” jelasku yang masih mengendus-endus dimana sumber bau itu berasal. Dia hanya diam, seperti kijang yang telah dimangsa raja hutan. Tak bisa berkutip.
“Kamu kenapa diam saja?!” aku kini mulai kesal, ditambah bau aneh itu semakin kesini semakin menyengat saja aromanya. Saat itu Reno mulai membuka pembicaraan, “Ra, entah mengapa saat aku melihatmu aku langsung menyukaimu, bahkan ingin melabuhkan cintaku di hatimu. Akhirnya aku bisa memilikimu walau saat itu aku tidak langsung mengatakannya. Ini adalah waktunya aku harus jujur.” Mendengar semua ucapannya, aku jadi bingung. “Kamu mau jujur apa Ren?” dia mulai menundukan lagi kepalanya, “Aku bingung dengan diriku sendiri. Sebelumnya aku tidak mau membuka hati. aku tidak ingin jatuh cinta. Namun kini, entah mengapa saat melihatmu rasanya aku menemukan orang yang tepat. Kamu mau kan jadi pendamping hidupku?” matanya tajam menatapku. “Jadi kamu mau jujur tentang ini? Haha. Oh ya Reno, aku juga menyukaimu. Hehe. Aku sudah lelah dengan semua sandiwara cinta. aku ingin menjalani semua ini dengan serius.” Jawabku sedikit malu.


Terlihat pancaran bahagia dari binar-binar wajahnya. “Serius Ra, aku akan serius. Tapi ada yang lebih ingin aku katakan padamu Ra. Mungkin ini adalah kekuranganku. Kamu jangan kaget ya!” aku hanya mengangguk pertanda mengiyakan ucapannya. “Ini adalah alasan mengapa dulu aku menutup hati dari yang namanya percintaan. Setiap aku menyukai seseorang, entah mengapa Ra aku suka cepirit, bau lagi. Jadi aku tidak berani mendekati wanita yang aku suka. Aku sakit hati saat terjadi seperti itu Ra. Aku periksa ke dokter namun tak ada yang salah denganku. Akhirnya aku datang ke orang bisa, katanya jika ingin cepiritmu sembuh kamu harus menikah. Sampai akhirnya, aku menemukanmu Ra. Aku mencintaimu Ra.” Oalaaah! Apa semua yang dia katakan adalah benar??? Aku masih belum bisa berkomentar. Sepertinya dia akan berbicara lagi. “Maafkan aku Ra, seperti yang sudah aku katakan tadi. Aku tak kuasa menahan beban. Aku kira hanya hembusan angin yang keluar tapi ternyata angin itu membawa puing-puing bongkahan hajat yang tidak diinginkan.” Dia kembali menunduk.

“Kamu ngomong apa sih? Kamu baca puisi Ren?” aku melongo kebingungan dengan apa yang barusan dia katakan. “Dasar! Kamu ini tulalit.” Dia menjitak kepalaku dengan tangannya yang kemayu. “Aku emang enggak ngerti!!” aku teriak, dia terdiam, pengunjung café tertegun, kami semua saling berpandangan. “Suuuutttt!!! Jangan berisik Ra! Sebenarnya, bau yang tidak sedap itu berasal dariku Ra. Aku cepirit.” Bisiknya padaku. Namun aku tak dapat menahan luapan penasaranku yang kini telah terbongkar. “Tuuuuhhhkaaaan!!! Kamu cepiriit!!!” teriakanku membuat semua pengunjung café menatap kearah tempat kami duduk.
“Raraaaaa!!!!” kali ini Reno tidak bisa lari dari kenyataan. Dia terjebak dalam ruang (bukan) nostalgia. Tapi dia terjebak oleh semua tatapan mata. Mata mata itu membuat dia malu dan tak bisa berkata seakan lidahnya kaku dan kelu. Dia menunduk lesu.
                
 Semua pengunjung tertawa. Ada yang saling berbisik (dasar tukang ghibah!) ada yang sinis menatap kami. Ada juga yang cuek, mungkin pikirnya untuk apa mencampuri urusan oranglain. Mungkin. Aku jadi ikut menunduk. Untuk memecah kesunyian, aku mencoba membuat Reno tenang. Ini semua kesalahanku. Mengapa aku malah berteriak! “Reno, bagaimanapun dirimu aku akan tetap mencintaimu kok.” Reno memandangku, matanya mulai berlinang, jika tidak segera aku hentikan sepertinya akan terjadi hujan badai. “Raraaaa, aku terharu. Terima kasih…” dia mengusap linangan air matanya yang hampir mengalir. “Ya sudah. Sekarang kita pulang yuk! Sebelum cepiritmu mempermalukanmu ehh mempermalukan kita.”
                
 Reno tersenyum. Setelah kami membayar makanan, kami segera meninggalkan café itu. Saat kami akan keluar, semua mata tertuju pada kami yang sedang lewat. Rasanya langkah kaki kami telah mengalihkan dunia mereka. Lalu aku teriak, “Mas…Mbaa… tenang saja. Pacarku tidak meninggalkan jejak!” Mulai saat itu, aku berjanji tidak akan datang ke café itu lagi. Dan kini baru kusadari, dibalik diammu tersimpan naasnya cepiritmu.

<><><><><><><><><><> 

                Jika ingat tentang kejadian itu, aku jadi semakin mencintaimu Mas. Kini kita sudah berkeluarga, mempunyai seorang buah hati tercinta. Semenjak kita menikah, cepiritmu sembuh. Kau sekarang menjadi pribadi yang sempurna. Cintaku mengobati Cepiritmu.

4 comments:

jokbelakang said...

Ihihihihihi. Cepirit bisa buat orang jatuh cinta juga yakk :)

Ipeh Alena said...

Mas di sini panggilan kan ya? Setauku kata Mas ini menggunakan huruf kapital. CMIIW

Nice story telling, udah mulai bisa melebur, gak ngebosenin lagi. Twistnya udah okeh. Di asah lagi ya.

Aku sih yes...mas anang dan mas dhani gimana??

Anonymous said...

saya jg yes :))

Siti Robiah Adawiyah said...

Terima kasih semuanya :)
siap..sudah diperbaiki :D