Laman

Life Must Go On !

Life Must Go On !
Tulis apa yang ingin kau kerjakan, kerjakan apa yang telah kau tulis !

December 16, 2016

Entahlah

Kenapa aku jadi posesif?
Tak ada alasan untukku melakukan itu. Tak ada ikatan apapun bagiku untuk berlaku seperti itu.
Tapi kenapa?
Aku ingin selalu disapa olehnya.
Aku ingin selalu mendengar kabarnya.
Aku ingin selalu berkomunikasi dengannya.
Tapi, itu bukan hakku.
Aku bukan siapa-siapa.
Aku bukan siapa-siapa.

Aku tidak boleh merengek padanya, ketika aku ada masalah.
Aku tidak boleh menuntut apa-apa yang memang bukan hakku.
Tapi kenapa? Selalu hatiku was-was jika tak mendapat kabar darinya.
Aku merasa ragu.
Aku sedih.
Aku takut jatuh.
Jatuh untuk yang pertama kalinya.

Menunggu setiap waktu.
Menanti setiap hari.
Untuk apa?
Aku bukan siapa-siapa.
Jangan terlalu berharap lebih.
Jangan mengharapakan sesuatu yang belum pasti.
Tapi kenapa?
Kenapa jantungku sakit jika tak ada balasan darinya?
Kenapa jantungku sakit saat hanya satu atau dua kata balasan darinya.
Sesingkat itu kah?

Sedih, aku hanya takut dipermainkan.
Aku hanya takut "habis manis sepah dibuang"
Tapi, kenapa aku selalu menantikannya?
Entahlah.
Mungkin aku mulai jatuh cinta.

November 08, 2016

Jodoh

Hari ini aku pulang agak terlambat. Nyaris sepuluh menit menuju azan isya, aku baru melaksanakan shalat maghrib. Sungguh, hari selasa hari yang melelahkan. Astaghfirullah~
Sebelum pulang ke rumah, aku mampir dulu ke tempat photocopy. Ada banyak materi yang harus kuperbanyak sebagai bahan untuk semester tujuh ini.
Belum lagi segala yang harus dicopy sangatlah tebal dan menguras uang bekal. Hmmm, semester ini harus ekstra berhemat.

Aku menitipkan materi yang akan dicopy dan segera menuju ke mesjid terdekat. Kulihat banyak anak kecil yang sedang mengaji. Bagaimana ya? Aku malu, jam segini baru mau shalat maghrib! Ah daripada sangat terlambat lebih baik aku cepat-cepat mengambil air wudhu dan segera shalat.
Kulihat, mesjid sudah sepi. Hanya mereka yang sedang mengaji saja. Terdengar alunan merdu Pak Kyai sedang melantunkan Surah Al-Mulk. Rasanya hati ini bergetar syahdu. Sampai tak kusadari, air mata mengalir lembut ke pipi.
Selesai shalat, aku tidak langsung beranjak. Aku mendengarkan dahulu penjelasan Pak Kyai tentang Surah Al-Mulk ini. Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah SAW selalu membaca surah ini sebelum tidur. Juga, surah ini bisa mengingatkan kita pada kematian dan menolong kita di hari akhir. MasyaAllah.

Kulihat di ujung sana nampaknya ada seorang pemuda, mungkin selesai shalat juga. Dia menunduk khusuk mendengarkan Pak Kyai yang sedang melantunkan surah Al-Mulk. Sesekali, dia menyeka kedua mata dengan tangannya. Dia menangis? Entahlah. Aku tidak terlalu jelas dan tidak boleh terlalu lama memperhatikannya.
Kemudian, aku pun beranjak karena harus kembali ke tempat photocopy untuk mengambil materi.
Aku keluar melalui pintu yang di dekatnya ada pemuda tadi. Ketika hendak aku melangkahkan kaki ke luar, pemuda itu mendongakan kepalanya dan bangun dari duduknya itu. Dia menghampiriku, aku terperanjat. Ada angin apa barusan?

"Maaf, Teteh sudah berkeluarga?" Tanyanya padaku.
"Eh, hehe, belum." Jawabku sambil memakai sepatu.
"Alhamdulillah. Kalau begitu, saya mau datang ke rumah teteh untuk hitbah." Duaaaar, mataku terbelalak mendengar ucapannya. Apa aku sedang bermimpi? Tapi tidak, ini dunia nyata. Pemuda itu tersenyum. Wajahnya yang oriental pun ditambah senyum menawan membuat jantungku semakin berdegup kencang.
"Eh?" Aku kebingungan.
"Mungkin ini memang mendadak. Wajar kalau teteh kaget. Tapi saya yakin, teteh jodoh saya. Teteh yang akan menjadi penyempurna agama saya." Katanya lagi, sekarang dia menundukan kepalanya. Dan aku masih diam terpaku. Kurasakan angin lembut menyentuh pipiku. Dingin. Pusing. Dan merinding.

Bagaimana ya?
Memang sih kuselalu mengidam-idamkan untuk dihitbah. Tapi, ketika memang ada orang yang datang serius, aku selalu bingung harus bagaimana. Rasanya aku belum siap.
Apalagi hari ini. Pemuda yang tidak kukenal tiba-tiba datang menghampiri dan menanyaku untuk hitbah. Pede sekali dia, bagaimana jika aku menolaknya? Hmmm, MasyaAllah, aku masih termangu, tak percaya.

"Satu minggu cukup untuk kita ta'aruf." Lanjutnya lagi tanpa bertanya apakah aku mau atau tidak.
"Eh kok gitu. Duh, saya belum siap. Saya masih kuliah." Kataku padanya. Dia hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa, insyaAllah kita akan bertemu lagi jika memang Allah menakdirkan teteh sebagai penyempurna agama saya. Saya sangat yakin. Dan InsyaAllah saya sudah siap." Jelasnya. Kemudian berlalu sambil memberian surat kepadaku. Aneh.

Aku kembali berjalan ditengah gelap malam. Menuju tempat photocopy yang mungkin sudah selesai dicopy. Pikiranku masih melayang sembari memegang surat yang entah apa isinya. Pemuda tadi siapa? Rasanya aku tidak mengenalnya. Niatnya memang mulia. Ingin menyempurnakan agama tanpa melalui embel-embel dosa. Arrrghh, apa aku sudah siap untuk menikah? Judul skripsi saja belum disetujui, mana mungkin aku bisa menikah. Ah sudahlah. Sesampai di rumah, aku akan membaca surat ini.
Kupergi dan siap-siap menerima kenyataan yang akan terjadi.
.
.
.
Bersambung.

November 01, 2016

Doodle Art Bandung

Hallo, selamat tanggal satu November ya!

Kali ini, di awal bulan ini, aku akan mempublikasikan pengalaman baru yang  seru, ketika bergabung dengan satu grup yang bagiku sangat unik. Grup ini bukan sekedar grup, tapi di sini aku menemukan keluarga baru yang notabene semuanya satu perjuangan. Ya, para penikmat dan pencinta seni. Doodle Art Bandung atau disingkat DAB. Sebuah komunitas bagi mereka yang menyukai, senang, dan berkarya dalam seni menggambar dan lettering. Dan tahukah kamu, di sini, di DAB ini bukan hanya sekedar menggambar saja, namun juga menjalin tali silaturahim antara satu dengan yang lain tanpa memandang keahlian dan usia. Itu sih yang kurasakan, karena saat pertama gabung, nampaknya hanya aku yang masih amatir dan yang paling "tuwir". hehehehe.

Sebelumnya, aku akan menyampaikan kembali tentang apa itu doodle?
Doodle adalah gambar sederhana yang dapat memiliki makna representasi beton atau mungkin hanya bentuk-bentuk abstrak. Atau jika ingin lebih tahu tentang sejarah doodle, kamu bisa klik disini
Meet up DAB di Burangrang




Nah, di DAB juga selain pada jago membuat doodle, para anggotanya pun jago membuat lettering loh! Apa itu Lettering? Lettering adalah the art of drawing letters. Yaitu seni menggambar huruf atau kata-kata yang digambar dengan tangan dan dibuat semenarik mungkin. Alat yang digunakan untuk membuat Hand Lettering sama seperti alat yang biasa kita gunakan untuk menggambar seperti pensil, drawing pen, brush pen dan masih banyak lagi peralatan yang digunakan untuk membuat lettering. Jika belum tahu seperti apa lettering dan sejarahnya, aku akan tunjukan beberapa contoh gambarnya di sini.

OK, kembali lagi ke DAB, Doodle Art Bandung.
Awal mula aku mengenal doodle sebenarnya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama namun dulu aku belum bisa sedetail saat ini, dan hingga detik ini, aku masih melakoninya sebagai hobi juga penghilang penat di sela-sela kesibukan kuliah. Aku mulai mempublikasikan doodle-doodleku di Instagram ( @ndehyaminari15 haha) karena ingin dikenal publik, aku mencoba menambahkan tanda pagar di tautannya. #doodle dan banyak sekali tagar yang muncul diantaranya tagar #doodleartbandung, kubukalah tagar itu dan rasanya aku menemukan duniaku, di mana aku menemukan teman-teman yang sama sepertiku suka membuat doodle. Kuintip akun instagram milik DAB ( @doodleartbandung ) aku ikuti segala postingan dan kegiatan-kegiatannya, hingga akhirnya aku bisa ikut meet up bersama DAB saat ada acara G WEEXPERIENCE bersama URBAN GIGS, Sabtu 29 Oktober 2016, di Burangrang, Bandung.

Nah, saat pertama kali aku ikut meet up, aku mulai ikut ngedoodle di kertas berukuran A3, bareng-bareng menggambarnya. Bagi-bagi spot gitu. Sempat bingung harus menggambar seperti apa. Tapi kata A Fajar, sok aja bebas, jadi aku langsung bermain-main bersama khayalan yang beterbangan di pikiran lalu kutuangkan dalam kertas putih itu. Setelah selesai di kertas A3, aku juga ikut ngedoodle di kertas karton, seperti pada foto di atas. Di kertas karton, lebih banyak lagi yang ikut menuangkan karya doodlenya karena medianya lebih besar lagi, pokoknyaa seruuuu pisannnnn.

Jika kalian ingin tahu, awalnya memang malu dan canggung saat pertama datang ke sana. Tapi semua anggotanya menyambut dengan baik dan langsung akrab begitu saja seperti sudah lama mengenal satu sama lain. Pokoknya ramah dan supel. Jika kalian ingin ikut gabung juga, langsung menghadap saja kepada sang empunya DAB di link instagram di atas. Selalu diadakan pertemuan kok setiap bulannya. Jadi, jangan sampai terlewatkan. Khususnya buat yang domisili Bandung dan sekitarnya.

Oh ya, satu hal lagi yang membuatku bahagia bisa bergabung di DAB adalah bukan hanya ilmu, teman dan pengalaman saja yang didapat, tapi aku juga dapat bonus spidol marker ketika pertama ikut kumpul di DAB. Rasanya bahagia sekali, dapat banyak marker dan itu marker yang cukup mahal. Apalah dayaku seorang mahasiswa rantau yang hanya bisa nyicil beli pen dan marker. Otomatis langsung bahagia ketika diberi spidol oleh kakak-kakak DAB. hehehe. Nuhun pisan Kak Adit dan Kak Gumay.

Akhir kata, eaaaa, pokoknya aku senang dan bahagia bisa gabung di Doodle Art Bandung. Dan kalian, jangan hanya dipendam saja jika kalian berbakat membuat doodle, ayo gabung juga!
Itulah pengalamanku saat bergabung bersama DAB.
Sampai jumpa di postingan berikutnya.

October 12, 2016

Sosok Wanita dan Gemerciknya

Rintik air masih terdengar setelah hujan senja tadi. Suasana masih begitu gelap kala hujan reda. Mungkin memang sudah waktunya siang berganti malam, langit pun mulai menampakan warna mencekam bagi insan yang kesepian
"Ibu hanya pergi tiga hari, Ayahmu sedang sakit di sana." Kata Ibu sambil berlalu.

Ucapan itu berakhir dengan tertutupnya pintu rumah dan hilangnya sosok Ibu dari pandanganku. Kurasakan angin tiba-tiba berhembus dalam sepinya rumah yang baru saja ditinggalkan. Ibuku pergi untuk menemani Ayah yang sedang sakit di tempat dinasnya, di luar kota. Kini aku tinggal sendiri, ditemani gemercik sisa-sisa air hujan. Kumohon, bersahabatlah denganku wahai rumah yang sering kurasakan adanya kehadiran bayang semu seseorang.
"Ah, hanya perasaanku saja. Lebih baik aku pergi tidur." Ujarku. Aku langsung masuk kamar setelah mengunci semua pintu. Saat itu, jam dinding masih menunjukan pukul lima tepat. Aku memilih untuk membenamkan segala pikiran anehku dalam mimpi-mimpi di tidurku.

Belum lama aku memejamkan kedua mata, terdengar ada seseorang yang mengetuk di balik puntu. Kulihat ke luar lewat jendela kamar, ternyata masih hujan. Siapakah gerangan yang datang di saat hujan? Suara ketukan pintu itu semakin terdengar kuat. Aku semakin ketakutan. Aku masih belum beranjak dari tempat tidur, malah semakin kubenamkan tubuhku ini ke dalam selimut. Aku takut, Tuhan.

Kriiing. Suara ponselku berdering kencang, membuatku terpaksa keluar dari dalam selimut. Segera kuambil ponsel yang ada di meja belajar. Ada telepon.
"Hallo, ada apa?," kataku. "Ya ampun, maafkan aku! Aku buka sekarang." Lanjutku kepada seseorang yang sedang meneleponku itu.
Aku segera membuka pintu, entah mengapa, kuncinya mendadak macet. Butuh lima menit untukku membuka pintu itu. Klik. Akhirnya, pintu terbuka.
"Aku kedinginan!" Katanya. Kulihat wajahnya begitu pucat. Entah nampak seperti orang sakit atau orang kedinginan. Namun tatapannya begitu dingin dan kosong.
"Maafkan aku! Ayo masuk!" Balasku, sambil menunduk-nundukan kepala, meminta maaf.
Sosok itu, Nita namanya. Teman sekelasku yang sengaja kupanggil untuk menemaniku di rumah selama Ibu tidak ada. Tubuhnya basah kuyup. Dari pangkal rambutnya terus meneteskan air. Melihat itu semua, aku segera menuju kamar untuk membawakannya handuk. Kamarku ada di lantai atas. Ketika kumenaiki anak tangga, kulihat Nita masih diam, tubuhnya menggigil. Dia menyilangkan tangannya ke dadanya. Ah Nita, maafkan aku.

Aku membuka pintu lemari yang sedikit menjulang itu. Kuambil handuk dan baju tidur untuk Nita. Belum sempat aku menutupnya kembali, aku mendengar ada sesuatu yang mnggebrak di luar jendela. Brakk! Sejurus kemudian, tubuhku berbalik ke arah jendela kamarku itu. Gordeng yang masih terbuka, sangat jelas memperlihatkan langit yang amat gelap mencekam. Rintik hujan masih membasahi tanah-tanah alam. Di tepi jendela, kumelihat sekitaran jalan, tidak ada apa-apa. Tapi tunggu, sesaat kumelihat ada sosok hitam melintas di depan mataku. Bukan, itu hanya bayangan angin. Tapi, kumerasa bayangan itu mengawasiku. Sebelum pikiranku berpencar kemana-mana, kufokuskan kembali untuk segera memberikan handuk ini kepada Nita. Kutinggalkan segala resah yang kulihat di luar jendela tadi.
"Nita, Nita," aku memanggilnya, dia tidak ada di tempat tadi, "dia pergi kemana?" Kulanjutkan mencarinya. Barangkali dia pergi ke kamar mandi. Pikirku dalam hati.
"Rosi, mana handuknya?" Suara itu mengagetkanku. Nafasku tersengah, mengapa Nita muncul di belakangku?
"Ya ampun, Nita! Kau mengagetkanku. Ini handuknya," aku menyodorkan handuk dan baju tidur, "dan ini baju ganti. Kau habis dari mana?" Tanyaku padanya.
"Dari toilet." Jawabnya singkat. Nita langsung pergi meninggalkan aku seorang diri. Mungkin Nita pikir, tak usah mengajakku ke kamar mandi pun. Untuk apa? Sejenak, aku kembali teringat sosok bayangan hitam tadi. Namun, bagiku hal itu sudah sering terjadi. Rumah ini sedikit membuatku takut jika sedang sendiri. Kuharap, semua akan baik-baik saja.

Aku pergi ke dapur, untuk menyiapkan makan malam. Nita yang sudah rapi dengan baju tidurnya pun ikut membantuku memasak. Kuharap Nita tidak marah. Kami memasak ramen kuah, dengan level paling hot ditambah toping udang dan bakso diatasnya. Gemercik hujan masih enggan pergi. Menambah suasana mencekam, di malam yang jelas tak berbintang.
"Nita, kau tak marah kan?" Kumemulai perbincangan yang sedari tadi membisukan ruangan ini.
"Tidak. Ayoo, ramennya sudah makan. Mari makan!" Katanya, sambil membawa semua hidangan ke meja makan. Syukurlah, Nita memang teman yang baik.
Di ruang makan, kami hanya berdua. Terdengar ranting pepohonan yang tertiup angin menubruk kaca jendela. Selain itu, terdengar pula suara gemercik air dari bawah meja makan. Aku menurunkan kepalaku ke bawah meja. Tak ada apa-apa. Dari mana suara gemercik itu berasal? Kulihat Nita sedang asik menyantap ramen yang asapnya masih mengepul. Rambutnya terlihat masih basah. Dia benar-benar kedinginan.
"Setelah makan, aku mau langsung tidur ya, Ros." Kata Nita. Dia setengah merebahkan badannya di kursi. Mangkok ramennya masih penuh, kukira dia akan menghabiskannya. Aku mengeryit, bukankah dia tidak suka sepertu itu? Sudah makan langsung tidur, dia tidak begitu. Ah tapi, mungkin dia sangat lelah, pikirku.
"Baiklah." Jawabku, sambil menghabiskan sisa ramen di mangkok.

Seusai makan, kami langsung pergi ke kamar. Nita langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Aku tidak langsung tidur, tapi aku membuka dulu laptop untuk sekedar menonton film. Beberapa menit kemudian, ketika durasi film ada di menit ke dua puluh lima. Ketika mataku sedang fokus menatap layar monitor. Tiba-tiba ada yang melintas dibelakangku. Aku melihatnya dari monitor laptopku. Aku langsung berbalik, namun hanya Nita yang kulihat sedang tertidur pulas di sana. Entah mengapa, aku menjadi takut. Akhirnya kuputuskan untuk tidak menyelesaikan film itu. Aku pun segera beranjak dan pergi ke tempat tidur. Kubenamkan tubuhku di dalam selimut. Gelap.

Suara itu terdengar lagi. Suara gemercik air yang seharusnya membuat ketenangan, mendadak berubah, malah membuat ketakutan. Aku tak berani keluar dari balik selimut. Aku terus menenggelamkan diri. Kudengar nafas Nita yang sedang tidur, berhenti.
"Rosi. Kamu kenapa?" Syok! Tiba-tiba aku dikagetnya oleh suara Nita.
"Tidak, Nita. Aku tak bisa tidur." Jawabku masih di dalam selimut.
Nita tidak bersuara lagi. Dasar tukang tidur. Dia pasti melanjutkan kembali mimpi-mimpinya. Apa Nita tidak mendengar suara gemercik air itu? Itu bukan gemercik hujan, bukan pula gemercik air keran di kamar mandi. Itu suara gemercik air yang aneh. Suaranya begitu dekat, namun entah berasal dari mana. Tuhan, lindungi aku. Dan hingga akhirnya, aku bisa menutup mata untuk merajut mimpi.

Mungkin hanya sebentar saja aku tertidur, mataku terbuka kembali. Kulihat waktu menunjukan pukul 23.45 WIB. Ini malam Sabtu, tapi mengapa suasananya seperti malam Jum'at Kliwon? Kulirik lagi ke arah Nita, dia masih tidur. Tapi aku tak bisa melihat wajahnya. Dia pun sama, membenamkan tubuhnya di balik selimut. Hanya rambut panjangnya saja yang kulihat sampai terurai ke luar ranjang.
Tunggu! Aku baru menyadari sesuatu. Mengapa rambut Nita panjang? Bukankah kemarin yang kulihat di sekolah, rambut Nita itu hanya sebahu, seperti karakter Dora The Explorer? Tidak, tidak, tidak. Pikiranku mulai menggila. Kuberanikan diri untuk memastikan bahwa itu memang rambut Nita. Aku beranjak dari tempat tidur, melangkah pergi ke sisi ranjang searah dengan Nita. Tiba-tiba langkahku terhenti. Basah. Aku menginjak lantai basah. Kuarahkan pandanganku mengikuti arah air yang membasahi lantai itu.
Betapa tersentaknya jantungku, kulihat air itu berasal dari ujung-ujung rambut panjang Nita. Sedari tadi, gemercik air itu berasal dari ujung rambut Nita. Kini, air itu semakin deras mengalir dari rambutnya yang terurai ke lantai. Kakiku gemetar, tak bisa bergerak. Aku menelungkupkan telapak tangan di atas mulut yang menganga. Tidak percaya. Mataku terbelalak ketika sosok di balik selimut itu bangun. Jantungku semakin berdegup kencang, nafasku menderu tak karuan. Kurasakan air yang kuinjak menjadi terasa kental. Aku menundukan pandanganku. "Aaaaaaaaaaak!" Aku tak kuasa berteriak, menutup mataku dan menangis ketika melihat yang kuinjak adalah sesuatu yang terlihat seperti darah. Kakiku kaku, tak bisa digerakan. Sosok itu masih tertutupi selimut. Namun perlahan selimut itu turun, membiarkan sebagian wajah sosok itu terlihat. Matanya kosong. Hitam tanpa ada bola mata di dalamnya.

Tuhan, aku takut! Bibirku terus bergetar, sekedar untuk mengucap do'a pun rasanya sulit. Mataku tak bisa kupejamkan. Seakan aku harus melihat sebenarnya siapa sosok yang ada di tempat tidurku itu.
Sosok tanpa bola mata itu perlahan menuju ke arahku. Aku yang masih berdiri terpaku di tepi ranjang. Air mata terus mengalir membasahi pipiku. Tenggorokanku panas, rasanya ingin berteriak namun tak bisa.
Sosok itu semakin mendekat. Aku semakin ketakutan. Matanya hitam, rambutnya panjang masih terurai dan terus mengeluarkan air. Gemercik itu terdengar menakutkan. Dengan cepat, mata sosok itu ada dihadapanku. Menatap mataku dari jarak dua senti meter. Tak lama kemudian, matanya mengeluarkan darah. "Aaaaaaaaaaaaaaaaak!" Teriakanku tak bisa kubendung hingga akhirnya aku terkulai lemas, pingsan.

Sinar mentari menyorot ke arah mataku. Aku terbangun dengan badan yang kurasa begitu berat. Aku tertidur di lantai, samping tempat tidur. Tubuhku lemas, nafasku naik turun. Apakah tadi malam hanya mimpi? Tapi tidak! Itu bukan mimpi, ada bekas darah di kakiku ini. Alarm ponselku menyala. Kuraih dengan sisa tenaga yang kupunya. Terpampang dengan jelas ada pesan dari Nita di situ.

Thursday, 05:15 PM
Rosi, maafkan aku. Aku tak jadi menginap di rumahmu. Ibuku sakit. Maafkan.

Pesan dari Nita, bersamaan dengan datangnya sosok yang menyerupai Nita. Tak kusadari air mata ini mengalir, mengingat sosok menakutkan tadi malam. Kuputuskan untuk tak bercerita pada Nita. Dan selama Ibu tidak ada, aku menginap di rumah Nita. Semoga, sosok wanita menyeramkan itu segera hilang dari bayanganku.

October 01, 2016

Hallo, October!

Selamat pagi, hari Sabtu yang sedikit mendung. Hari ini awal bulan yang kuharap bisa menjadi lebih baik lagi. Angin semilir menyentuh kulit, menusuk tulang yang tak sempat kulindungi. Semoga hari ini menjadi pelopor akan segala kebaikan.

Aku ingin bercerita tentang seseorang yang benar-benar kukagumi namun entah bagaimana awalnya, aku bisa setertarik itu.
Dia biasa saja, senyumnya tersimpul indah, tertawanya sungguh renyah, dan matanya menyorot tajam. Dia tak terlalu tinggi untuk ukuran lelaki, tapi dia masih pantas untuk ikut tim basket jika dia mau. Tapi bukan soal itu, aku kagum pada sifatnya, sifat ramah dan tulus kepada semua orang. Aku menyukainya.

Baiklah, saat itu hujan rintik tak henti-henti. Aku berteduh di shelter bis yang kaca-kacanya sudah tak beraturan. Angin dan hujan, riuh saling bertebaran. Pun debu yang mengering kini mulai basah oleh hujan. Saat itu tanggal 01 Oktober 2015, awal bulan yang basah. Gemercik indah kini mulai menghiasi kaca penuh debu nan usang.

"Syifa?"
"Ya?"
"Hallo, apa kabar? Kamu sedang apa?"
Tunggu, apa aku mengenalnya? Rasanya wajah ini sudah pernah kurekam dalam pikiran. Aku masih termangu melihat wajah teduhnya.
"Hei! Aku Reno, lulusan SMAN 6, kakak kelasmu. Ya ampun." Katanya menjelaskan tanpa kuminta.
"Ya Ampun, Kak Reno? Haha. Pangling Kak. Maaf." Jawabku, salah tingkah.
"Pangling? Jadi makin ganteng ya?" Katanya sambil tertawa. Tak bisa kupungkiri, senyum dalam tawanya selalu indah.
"Iya. Selalu ganteng. Haha." Balasku.
Lalu kami mengobrol, mengenang masa SMA dulu.

Saat SMA, kami tidak terlalu dekat, hanya saja kami kenal karena kami satu organisasi. Dia ketua OSIS dan aku hanya anggota yang tidak tahu diri. Bagiku, dia ketua yang sangat bijaksana. Namun entah mengapa, aku selalu menolak program-programnya, dengan alasan tidak sesuai dengan kondisi sekolah. Maka berdebatlah aku dengannya. Sampai berujung dengan tangan kepala sekolah. Ya, dulu semua warga sekolah memanggil kami, Kak Reno dan aku, Cat And Dog, tidak pernah akur.

"Kamu maunya apa?!" Tanya Kak Reno, matanya tajam, berkacak pinggang.
"Kak, kalau program tuh yang realistis dong! Masa siswa disuruh liburan panjang! Bukan waktunya!" Jawabku.
"Ini bukan liburan! Tapi ini sebagai ajang untuk menurunkan keagresifan pihak sekolah, ingat itu!" Balasnya, masih dengan nada yang tinggi.
"Demo? Untuk apa? Memangnya seluruh siswa di sekolah ini mau mengikutinya?" Timpalku lagi.
"Syifa, saya hargai semua pendapatmu. Tapi untuk kali ini, jadilah angota yang patuh. Saya dan pengurus akan tetap menjalankan program itu!" Katanya sambil berlalu.
"Sudahlah, kalian selalu saja ribut. Nanti berjodoh, loh!" Celetuk kak Serli, pengurus OSIS juga.
Aku pun pergi dengan senyum sinis kepada orang-orang berorganisasi itu.

Mungkin, masih banyak lagi yang sering aku debatkan dengan pengurus, terlebih dengan Kak Reno. Sampai suatu ketika, aku dibuat hampir mati karena programnya. Kami menyebutnya diklat. Saat angkatan Kak Reno akan lengser dari jabatan, maka kini angkatan aku yang akan dilantik sebagai pengurus baru.

Jujur, aku tidak suka berada di tempat gelap dengan mata tertutup syal. Jika seperti itu, aku akan langsung pusing bahkan pingsan. Seperti yang Kak Reno lakukan padaku, hanya kepadaku. Saat aku disuruh memasuki salah satu pos diklat, di ruangan gelap, aku disuruh memakai penutup mata. Yang benar saja! Hal ini sudah pernah terjadi, aku diperintahkan seperti itu saat awal berorganisasi dan tak lama kemudian aku pingsan tak kuat menahan pusing. Dan kini dilakukan lagi?!

Mungkin, niat mereka untuk menguji mental kita. Tapi bagiku mereka keterlaluan, memakai kelemahan untuk melakukan hal yang tidak wajar. Rasanya saat itu aku seperti disekap. Ruangan gelap dan mata ditutup jelas itu sangat menakutkan. Jendela pun semua tertutup rapat, hanya udara dingin yang kurasakan karena saat itu pukul dua dini hari.
Aku diperintahkan untuk berdiri, menjawab semua pertanyaan. Aku tahu, ada Kak Reno di sana. Suaranya sangat jelas ketika dia berkata "sekuat apa mental pemberontak ini" dan kalimatnya itu sangat membuatku terpukul.

Tak ada sandaran dan tak ada benda yang bisa kupegang ketika kepalaku mulai pusing berputar-putar. Keringat dingin mulai bercucuran. Aku mengangkat tangan dan bilang, "Kak, saya pusing." Namun dihiraukan, malah terus menanyaiku segala pertanyaan. Aku tidak sanggup lagi, ketika Kak Reno yang kini bertanya, sudah tak bisa kujawab lalu aku jatuh tersungkur, pingsan.
Saat tersadar, aku sudah berada di rumah. Kukira aku tidak akan bangun lagi. Saat itu, aku dilarang Ibu untuk ikut Organisasi. Tapi, tetap aku jalankan, hingga akhirnya aku dilantik pula sebagai pengurus.

Oh ya, saat pelantikan, jabatan Kak Reno jatuh kepadaku. Banyak yang memilihku saat pencalonan Ketua OSIS dulu. Bendera kini diserahkan kepadaku. Jemari Kak Reno masih kuingat, gemetaran. Lalu dia berkata, "Kami memilihmu karena kami yakin, kamu mampu. Maafkan aku." Katanya sambil kembali ke tempat. Entah minta maaf untuk apa, yang pasti aku juga meminta maaf padanya. Dan saat itu, Kak Reno kelas tiga, mulai fokus untuk Ujian Nasional. Sesekali kami mengobrol hanya untuk menanyakan kabar organisasi.

Tepat saat tanggal ulang tahunku, Kak Reno memberiku sebuah hadiah. Di depan banyak anggota dan pengurus OSIS. Semacam acara-acara katakan cinta sebuah stasiun TV lokal. Tapi, bukan untuk menyatakan cinta. Dia hanya datang lalu memberiku hadiah itu dan pergi lagi. Saat itu aku sedang memberikan materi kepada anggota kelas satu. Malu.
Sontak semua yang berada di kelas, memintaku untuk membuka hadiah itu. Apa daya, kubuka saat itu juga. Tahu kah apa isinya? Buket bunga mawar merah dari pita dan kotak musik yang sangat indah. Serentak satu kelas berucap "ciyeeeeee" membuatku malu, salah tingkah.
Maksudnya apa?!
Dan sampai sekarang, hal itu menjadi sebuah misteri, aku tak pernah bertanya dan dia pun tak pernah menjelaskan. Sampai hari kelulusan pun, kami seperti biasa saja. Kak Reno sudah lulus dan melanjutkan kuliah. Sejak saat itu kami tak pernah lagi komunikasi.
..……………………………………
"Dari mana Kak?" Tanyaku pada Kak Reno setelah kami asik bernostalgia saat SMA.
"Ini, hehe, ini nganter ke sekolah." Jawabnya kaku.
"Siapa, Kak?" Tanyaku lagi.
"Anakku. Hehe." Jawabnya singkat.
"Waaaah, kapan nikahnya? Gak ngundang-ngundang nih ah, tau-tau udah punya ekor." Keluhku padanya.
"Maklum, Fa, dijodohin ortu sama orang kampung. Gak rame-rame, ya gitu lah." Katanya.
"Hmmm, yasudah kak, tak apa. Pokonya sehat selalu ya anaknya, istrinya, kakak juga, lancar segalanya." Harapku padanya.
"Aamiin, Syifa, semoga kamu juga dimudahkan segalanya ya! Aamiin." Balasnya.
"Aamiin. Eh Kak, aku duluan ya, bisnya sudah datang, mari, Assalamu'alaikum." Pamitku padanya dan rintik hujan pun kian berhenti.
"Wa'alaikumussalam." Jawabnya. Dan sekaligus ucapan terakhir dari mulutnya. Senyumannya masih tetap sama. Tak ada yang berubah. Eh, suuuut, dia sudah menjadi suami orang.

Tidak disangka memang, seseorang yang kutunggu, ingin kunanti maksud hadiah yang dulu dia berikan, sekarang sudah bersama, bertemu dengan jodohnya. Ah sudahlah, hadiah itu kuanggap hadiah biasa, penghargaan atas apa yang kulakukan di organisasi waktu SMA dulu. Bis pun melaju, mengantarkan hati yang sudah lagi tak menunggu harapan semu.

Itulah, cerita seseorang yang begitu kukagumi. Mungkin sampai detik ini masih kukagumi, karena dia sudah merelakan perasaannya untuk membahagiakan dan menuruti perintah orangtuanya. Semoga keberkahan selalu terlimpah untuk kita semua. Aamiin.

September 30, 2016

CINTA ADALAH RIZKI

Panas terik Kota Bandung merupakan hal yang biasa bagiku. Bahkan suara-suara klakson kendaraan pun, sudah menjadi sarapan rutin di pagi hariku. Mereka beradu bagaikan dalam perlombaan, klakson milik siapa yang paling merdu. Nyatanya, semua itu hanyalah kebiasaan orang-orang yang tidak sabar menunggu. Kemacetan sudah menjadi hal yang lumrah. Namun, selalu saja para pengendara saling serobot tak mau mengalah. Ah sudahlah, tak ada habisnya jika berbicara soal jalanan. Biarkan mereka sadar dari dalam hati nuraninya masing-masing.

Matahari sedang asik sendiri, ia tepat berada di atas kepalaku. Siang ini begitu terik tanpa ada angin sepoi menemani. Tepat pukul dua belas, aku selesai kuliah. Kuputuskan untuk pulang bersama sahabatku, Radina namanya. Dia mengendarai motor, jadi aku nebeng padanya. Jujur, aku tidak punya ongkos untuk pulang. Jadi, kepada siapa lagi aku meminta tolong? Allah SWT, Tentu! Aku meminta tolong kepada-Nya, agar Radina bersedia memboncengku hingga arah jalan pulang. Itulah sahabat, membantu kapanpun tanpa pamrih.

"Radina, aku gak pake helm. Tidak apa-apa kan?" Tanyaku pada Radina. Karena, kalau ingin dibonceng olehnya, wajib pakai helm. Bukan apa-apa, tapi sekarang musim razia. Meski Radina membawa perlengkapan berkendara yang komplit, tetap saja akan dirazia jika aku tak memakai helm.
"Semoga saja tidak ada polisi." Jawabnya, sambil memakai jaket dan masker. Dalam hati kuberdo'a, Ya Allah, kami telah melaksanakan kewajiban yaitu menuntut ilmu, maka selamatkanlah kami dari godaan polisi. Aamiin.
"Kalau ada, gimana?" Aku bertanya lagi, masih bimbang.
"Akan kuturunkan kau di jalan. Haha." Balasnya, sambil tertawa mengejekku. Huh.
"Bismillah, ya!" Kumenggerutu. Berharap, polisi-polisi itu tak melihat keberadaanku. Terkadang aku ingin mempunyai jubah yang dimiliki Harry Potter, agar aku bisa dibonceng kapanpun tanpa helm dan tanpa terlihat oleh siapapun.

Akhirnya kami meluncur dari parkiran kampus menuju jalan lurus, Jalan Soekarno-Hatta. Kata orang, kalau hati was-was, maka yang kita takutkan akan terjadi. Walau sepanjang jalan kuberdo'a sepenuh hati, berzikir sekuat tenaga, namun jika Allah SWT berkata lain, maka kita harus menerimanya. Ketika motor sedang melaju di daerah sebelum lampu merah Cibaduyut, terlihat pasukan berseragam coklat dengan rompi hijau dibagian luarnya, sedang menjalankan misi operasinya. RAZIA. Mataku membelalak ketika salah satu polisi menyuruh kami untuk menepi. Ya Allah, ujian persahabatan ini terlalu berat untukku. Aku tidak membawa uang jika memang harus membayar. Ah Radina, maafkan aku.

"Maaf, Dek, boleh lihat surat-suratnya?" Pinta polisi dengan nama Alex itu kepada Radina. Aku hanya salah tingkah dan gemetaran. Wajah Radina pun terlihat merah, entah karena takut, malu atau kepanasan di jalan. Rasanya aku ingin lari, tapi tak ada waktu.
"Ini, Bang, surat-surat Adek. Hehe." Kata Radina, sambil menyodorkan SIM dan STNK. Aku tak percaya jika Radina memanggil polisi itu dengan sebutan Abang. Seketika aku menahan tawa. Polisi itu memang terlihat muda dan ganteng, dia tersenyum mendengarnya. Sejurus kemudian dia memeriksa SIM dan STNK.
"Surat-suratnya lengkap, Dek. Tapi Adek saya tilang, karena temannya tidak pakai helm." Kata Pak Polisi, "helm itu penting Dek, gimana kalo ada kecelakan? Kasian temannya ini." Lanjut Pak Polisi itu. Penjelasan yang membuatku terpaku. Rasanya ada petir yang menghujam jantungku.
"Amit-amit, Naudzubillahimindzalik!" Ucapku refleks ketika mendengar polisi itu.
"Maaf, Pak. Saya cuma mengantar teman saya saja. Saya ketemu di jalan. Kasian dia, Pak. Jomblo." Ujar Radina. Dan entah kenapa, di saat genting seperti ini, bisa-bisanya dia mengejekku di depan polisi ganteng ini. Lagian, kita pergi barengan dari kampus kan? Ah dasar, aku hanya diam tanpa kata, karena di sinilah aku tersangkanya. Dalam hati, aku menggerutu entah pada siapa.

"Begini, Dek, Adek tetap saya tilang dan temannya suruh naik angkot saja. Bahaya kalau tidak pakai helm." Kata si Polisi sambil menuliskan surat tilang.
"Radina, maaf." Kataku, lirih. Tidak biasanya kami kena tilang. Sedih sekali. Rasanya seperti putus cinta ketika tak punya uang disuruh naik angkot. Apa sekarang aku harus meminjam uang? Ya Allah, bantulah hambamu yang tak berdaya ini.
"Aku yang minta maaf." Balas Radina, menunjukan wajah ibanya.
Rupanya sang surya masih enggan beranjak, sinarnya masih menelusup ke dalam raga-raga yang sedang beraktivitas. Ketika Radina sedang mengurus surat tilang bersama polisi itu, tiba-tiba datang sosok pahlawan yang nyaris kesiangan, menepi diantara kami.
"Nisaa, maafkan aku. Ini helm milikmu. Tadi aku meminjamnya tak bilang dulu padamu." Kata sosok lelaki berparas rupawan itu, "maaf, ya?" Lanjutnya.

Ya Allah, inikah yang dinamakan penyelamat? Inikah hadiah dari-Mu atas do'a dan zikir-zikirku? Seketika, panas terik ini terasa menjadi hujan rintik yang menyejukan. Sahabatku yang lain datang membantuku. Rizki, namanya. Dia memang benar-benar rizki yang Allah turunkan untukku.
"Maaf, Pak Polisi. Ini salah saya. Helmnya saya pinjam tadi. Mau nganter Ibu ke Rumah Sakit," kata Rizki, "ehh untung aku lihat kalian." Katanya lagi. Rizki berbohong, itu bukan helmku. Dia sengaja berkata begitu demi menyelamatkanku, atau mungkin menyelamatkan Radina yang nyaris kena tilang? Ah entahlah, siapapun yang diselamatkan, tidaklah masalah. Kami bersahabat, sahabat harus saling membantu.
Terlihat gurat kebingungan di wajah Pak Polisi itu. Helm kini sudah terpasang di kepalaku. Apa yang harus ditilang? Surat-surat lengkap, termasuk perlengkapan lain. Helmku ini. Akhirnya, kami terbebas dari cengkraman Pak Polisi. Terima kasih Ya Allah.
"Lain kali jangan ceroboh, ya!" Nasihat Pak Polisi kepada kami.
"Siap, Pak!" Sahut kami bertiga sambil mengangkatkan tangan dan bersikap hormat kepadanya. Kami pun pergi dari zona razia tersebut. Alhamdulillah.

Sahabat. Bagiku bagai air penghilang dahaga di saat kehausan. Mereka adalah sosok yang mau berjuang demi sahabat lainnya. Tapi, tahukah jika persahabatan antara lelaki dan perempuan tidaklah murni bersahabat? Sedikitnya, akan muncul rasa yang tak biasa atau yang kusebut cinta. Jujur, aku dan Rizki sangatlah dekat. Banyak teman yang berkata kalau kita saling suka. Aku menentang dan Rizki pun menentang akan hal itu.

Namun, siapa yang tahu isi hati kita, selain diri sendiri dan Sang Pemilik? Hal ini selalu menjadi rahasia dalam hatiku.
Sepanjang jalan, kami bertiga tertawa puas. Banyak sekali alasan-alasan konyol yang barusan terjadi. Angin kini bertiup membuat panas yang kami rasakan sedikit hilang. Hingga akhirnya kami sampai di pertigaan, dimana aku hanya nebeng pada Radina sampai di sini saja. Kemudian, aku turun dan melepaskan kepergian Radina. Melepasnya pergi untuk pulang menuju rumahnya di Cimindi.

"Radina, makasih ya! Hati-hati di jalan." Kataku, sambil bersalaman cipika-cipiki (Cium pipi kanan-cium pipi kiri) kebiasaan Ibu-ibu pengajian.
"Siip, hahaha. Hati-hati juga ya! Assalamu'alaikum." Sahut Radina kemudian berlalu dari pandanganku.
"Wa'alaikumussalam." Jawabku dan jawab Rizki. Oh, iya, masih ada Rizki di sini.
"Rizki, makasih ya, ini helmnya." Kataku sambil memberikan helm yang telah menyelamatkan kami dari razia tadi.
"Pakai dulu aja. Aku antarkan sampai rumah." Kata Rizki, tersenyum manis padaku. Ya Allah, mengapa jantungku berdebar sangat kencang?
"Eh? Aku tinggal naik angkot sekali kok. Gak usah!" Tolakku padanya. Namun sebenarnya aku senang sih.
"Hmm, cepat naik! Malu-malu kucing, kan senangnya gratisan kamu mah!" Timpalnya padaku. What? Apa dia membaca isi hatiku?
"Baiklah. Dasar pemaksa!" Balasku. Senyum-senyum sendiri. "Makasih, ya." Kataku.
"Iyaa, sama-sama!" Jawabnya. Dan motor pun kini mulai melaju. Tidak melaju dengan sendirinya, tapi oleh Rizki dikemudikannya.

Jujur, bagiku persahabatan ini palsu. Lebih tepatnya samar-samar. Sejak pertama mengenal Rizki, aku sudah menyimpan perasaan ini untuknya. Sampai tiba di mana Rizki pun menyatakan perasaannya padaku. Betapa bahagianya ketika orang yang dekat dengan kita, bersahabat dengan kita, yang kita cintai, sama-sama menyimpan perasaan yang sama juga. Rasanya dunia ini mulai dipenuhi dengan bunga-bunga.

Namun, kami berdua sepakat untuk tidak mengubah status persahabatan ini menjadi pacaran. Biarkan waktu mengalir dan Allah yang menentukan.
Tidak ada yang tahu tentang perasaanku, perasaan Rizki, dan kisah cinta kami berdua. Bahkan Radina pun tidak tahu akan hal itu. Aku dan Rizki sudah berjanji, akan terus memelihara persahabatan kami dengan cinta walau status kami biasa saja.

"Cinta dan persahabatan akan selalu tertanam, tumbuh dan berkembang sepanjang waktu, hingga akhir waktu. Bukan status pacar yang kubutuhkan, tapi aku akan setia memelihara rasa ini hingga kau halal untukku." Kata Rizki ketika dia menyatakan perasaannya padaku. Aku menangis, terharu. Terima kasih Ya Allah, Engkau benar-benar memberiku "Rizki" yang teramat sangat kubanggakan. Biarkan hatiku, hati kami, kuserahkan pada-Mu. Karena hanya Engkaulah yang mampu menentukan segalanya.
Cinta dan persahabatan akan kami jalin hingga ke surga.

August 31, 2016

Little sorrow

Sering sekali rasanya aku mengingatkan kepada teman-teman, tentang berharap kepada selain Allah. Namun, aku sendiri pun masih lalai. Terkadang masih berharap kepada makhluk yang jelas-jelas ada sakitnya.

Baper. Bawa perasaan. Sekarang banyak lelaki yang dengan mudahnya mengobral janji, gombal gembel seenak hati, namun pada akhirnya hanya untuk menyakiti. Andai hati ini tercipta dari besi, mungkin aku takan bisa dibodohi.

Tapi, jika hati seperti besi, hanya bara api yang mampu meluluhkannya. Kapan hati ini bisa menerima kenyataan jika tak bisa diurungkan dengan perkataan? Apa harus marah-marah dahulu agar bisa menjadi tenang?

PHP. Pemberi Harapan Palsu. Jika sekiranya semua yang mereka katakan hanya sebatas candaan, tolong, jangan diteruskan. Hati wanita sangat mudah menelan rindu. Rindu pada ucapan-ucapan indah yang pada akhirnya hanya menjadi sampah!

Sebatas teman. Oke. Tapi tolong batasi. Bukan bicara seenaknya kesana kemari! Mereka pikir kami tak punya perasaan?! Maaf, kami pun menerima respon secara cepat.

Bodoh. Mereka (atau mungkin diri ini) memang bodoh. Mau-maunya ditipu hanya dengan kata-kata semu.

Sialan. Memang sial! Mereka pikir, mempermainkan hati adalah hal biasa? Maaf, jika itu yang kalian pikirkan, lebih baik kalian "pergi". Wahai orang-orang jahat pemberi harapan palsu!

August 15, 2016

RINDU INI SEMU

Bandung, 15 Agustus 2016

Dibawah langit biru yang kian kelabu

Bunyi kafilah-kafilah angin berembus dari selatan
Berbisik mesra tiada suara
Apa yang sedang ia lakukan?
Wajahnya muram tanpa ada kesejukan

Hati sendu mengingat namamu
Menitikan air mata yang tak tahu kapan datangnya
Kucoba berjalan mengawang di atas rindu
Kuberhenti setelah aku tahu bahwa dirimu telah berlalu
Oh hati, dapatkah kau bersabar?
Untuk kali ini saja pada bunga-bunga yang tak juga mekar

Ada wajah dengan seribu kenangan
Membawa rasa yang tak kunjung padam
Haruskah cinta ini tetap kusembunyikan?
Berharap angin yang akan menyampaikan
Tapi, bunyi kafilah itu berkata jangan
Jangan kau utarakan apa yang belum pasti kau rasakan
Apa benar ini cinta?

Terkadang aku mulai berpikir,
Hidup ini memang dipenuhi orang-orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita
Begitupun sebaliknya..
Kau menginginkanku, tapi tidak denganku.
Aku masih menyimpan rindu yang kini sedang bermain dengan waktu.

Bijak memang sang penyair cinta
Selalu menerka apa yang orang rasa
Tetapi tidak bagiku
Karena cinta hanya sebatas kekecewaan yang tak terduga

August 11, 2016

Sahabat, Aku Rindu Surga-Nya.

Aku tak pandai merangkai kata yang mampu menyejukan hatimu.
Aku pula tak pandai menasihati agar kau terbujuk ajakanku.

Tapi sahabat, ketahuilah, diamku ini bermakna seribu bahasa, bermakna ucapan do'a, yang tak mampu kuucapkan langsung saat kumerinduimu, sahabat.

Bukankah persahabatan kita tidak untuk di dunia saja?

Benar, dunia hanya tempat sementara. Acapkali kita berbicara persahabatan sejati, namun yang seperti apa?
Apakah persahabatan ini semu? Ketika dunia ini hilang, apakah persahabatan kita pun kan sirna?

Sahabat, aku ingin persahabatan ini berbuah Surga-Nya.
Aku ingin kita tetap melangkah bukan hanya di dunia saja.
Aku ingin kau menyelamatkanku ketika kau tak melihatku di Surga-Nya.
Aku ingin berkumpul lagi denganmu di tempat indah yang dijanjikan-Nya.
Bukankah kau juga menginginkannya?

Ayolah, jangan buat pertemuan kita hanya sia-sia.
Hanya wara-wiri tak jelas tujuannya.
Aku ingin pertemuan kita diridhoi oleh-Nya.
Mampukah?
Bismillah!

Sahabat, tegur aku bila aku salah.
Ingatkan aku bila aku mulai menjauh dari ajakan positifmu.
Marahi aku bila aku sudah keterlaluan meninggalkan kebaikanmu.
Aku hanya ingin kita bertemu lagi di Surga, Surga yang menjadikan kita sahabat sejati untuk selamanya.

Aku rindu akan Surga-Nya.

August 04, 2016

Saat Kemarin Senja

Bandung, 03 Agustus 2016


Senja kian menjelma..

Langit sendu terlihat romantis..

Ia memaksaku untuk membayangkan sesuatu, memikirkan seseorang, yang kini sedang dilanda kebahagiaan.

Kubuatkan serangkaian bunga-bunga yang entah apa artinya..

Hanya saja hatiku sedang rindu..

Jemari ini terus menari, menciptakan rangkaian-rangkaian rasa cinta..

Ohh dirimu yang memiliki senyum indah, selamat berbahagia.

Rasanya sulit mengucapkan apa yang ada di dalam hati..

Bukan untuk satu tahun sekali, namun namamu selalu ada dalam do'aku setiap hari..

Ah andai saja kau tahu, hari ini aku dirundung pilu,

Tak bisa menyampaikan langsung kepadamu, tentang rasa yang tak kunjung padam.

Aku berlari dikeramaian hari,

Aku mengaduh pada sesuatu yang tak menentu,

Duhai kau yang sedang berbahagia, dengarkanlah nyanyian senja,

Resapi dan rasakan, ada suaraku di dalamnya,

Itu adalah nyanyian sendu,

Bahwa senja ini aku rindu..


July 24, 2016

Senja di Pelupuk Mata

Teduh tanpa gemuruh
Tenang tanpa hantaman
Mata ini sedang bicara
Mata ini sangat ingin bercerita

Berlari di kegelapan sepi
Menerpa segala rintangan hidup yang tak pernah usai
Apa harus berhenti sampai di sini?
Atau aku akan mati perlahan?
Mata ini, ingin menceritakan segalanya, semuanya

Ada Sang Raja yang tak pernah tidur
Ada Ibunda yang tak pernah tahu bagaimana caranya berjaga
Semua orang menutup mata
Semua orang tak peduli dengan apa yang terjadi di hadapannya

Senja
Mata ini selalu menangkapnya
Senja ini selalu ada di pelupuk mata
Entah pagi, siang, petang bahkan malam
Tak pernah senja beranjak dari pandangannya
Segalanya tak pernah berubah
Hanya kelabu yang selalu menemani
Hingga mata ini tertutup dan meninggalkan senja yang telah berdusta

Bandung, 24 Juli 2015
Istirahat Brevet Pajak

June 17, 2016

Tak Ada Kata Terlambat (Untuk Meminta Maaf)

Tulisan ini aku buat karena aku sadar, dahulu aku telah melakukan kesalahan.
Kajian yang aku dapat kemarin lusa, telah mengingatkanku akan perilaku saat Sekolah Menengah Pertama dahulu. Rasanya malu bercampur sedih jika kembali membayangkan saat itu.
Kata Teh Nina, mentorku, "Berbuat jahil kepada orang lain adalah hal yang buruk, meski itu hanya bercanda. Kita tidak tahu kan, yang kita jahili mungkin saja sakit hati, mungkin mulai membenci, yang akhirnya dapat memutuskan tali silaturahmi. Dosa lah ketika silaturahmi diputus. Naudzubillahimindzalik!"

Saat Sekolah Menengah Pertama, aku sering menjahili orang-orang yang tak kukenal lewat ponsel. Entahlah, bagiku hal tersebut terasa menyenangkan. Terkadang bukan aku saja yang melakukannya, tapi ditemani dua sahabatku yang bernama Sheaty dan Shintya. Hehe.
Suatu ketika, aku menjahili teman di sekolahku. Dia lelaki, tubuhnya tinggi, kulitnya putih, matanya sipit. Kami berbeda kelas, namun dia adalah salah satu siswa di sekolah yang kusuka.
Mungkin karena rasa suka ini akhirnya aku selalu menjahilinya, karena saat itu aku bahagia bisa berkirim pesan dengannya, meski aku menggunakan identitas palsu.

Aku dan kedua sahabatku berniat menjahili lelaki itu. Tentunya semua itu atas ideku. Kami menggunakan salah satu nomer ponsel milik sahabatku, Shintya. Kurang lebih percakapannya seperti ini.
(A: Kami, B: Lelaki itu)
A: hi, boleh kenalan?
B: ini siapa?
A: kamu siapa?
B: aku Gunawan (padahal namanya bukan itu)
A: Oh, Gunawan. Gundul tapi menawan? Hahaha
B: gundul beungeut sia?! (Itu bahasa Sunda ucapan kasar yang artinya gundul wajahmu?!)
Kami langsung tertawa terbahak-bahak setelah membaca respon pesan singkat itu. Kami, khususnya aku, tidak menyadari mungkin balasan pesan darinya adalah ungkapan rasa marah karena telah dijahili. Astaghfirullah.
Dan pada malam hari, Shintya bilang, bahwa lelaki itu terus menelepon ke nomer ponselnya. Shintya tak berani menjawab, karena mungkin dia tidak tahu harus berkata apa nantinya, karena itu semua adalah ideku.

Selang beberapa hari dari kejadian itu, aku memutuskan untuk menjahilinya lagi. Menggunakan nomer yang baru kubeli dari counter di jalan Cipanas. Dengan modus salah sambung, aku mulai berkirim pesan dengannya. Bahkan aku menyamarkan lagi identitasku, dengan nama "Dian", aku memulai menjahilinya. Rasanya bahagia sekali bisa mengobrol, bercerita (tentang kisah yang kukarang sendiri) namun, dia sering menelepon tapi tak pernah kuangkat dengan alasan sedang batuk atau sebagainya.
Hal itu terus aku lakukan, terkadang aku berganti nomer lagi, dan menjahili lagi, lagi dan lagi. Tanpa berpikir panjang akan ketahuan ataupun tak berpikir bahwa semua itu adalah salah.

Sampai suatu ketika, aku mencoba menjahili menggunakan nomer milikku sendiri. Namun masih menggunakan identitas palsu. Entah kenapa aku tak berani jujur padanya. Karena saat Sekolah Menengah Pertama dulu, menyatakan rasa suka itu adalah hal yang rumit dan mungkin butuh persiapan yang panjang untuk itu. Apalagi aku kan perempuan, masih gengsi kalo menyatakan cinta duluan. Haha.

Awal-awalnya lancar, namun setelah beberapa hari kemudian dia mengirim pesan seperti ini padaku, "Mau sampai kapan menjahiliku? Mau sampai kapan membohongiku?" Syok bukan main. Bagaikan petir menghujam jantungku, apa dia tahu?
"Maksudnya?" Balasku pura-pura tak tahu apa-apa.
Tak ada lagi balasan darinya. Apakah ini akhir dari kebahagiaanku? Itulah yang aku pikirkan dahulu. Tentang kebahagian, bukan tentang dosa apa yang nantinya aku tanggung. Niatku memang hanya untuk bersenang-senang, tapi ternyata dibalik semua itu ada banyak kesalahan yang kuperbuat.

Kesalahan itu baru kusadari kini, seperti halnya kesalahan bahwa tak boleh sering-sering berkomunikasi yang tidak penting dengan bukan mahromnya, tidak halal. Selain itu, waktuku hanya dihabisnya untuk memikirkan balasan darinya. Berbohong dengan memalsukan identitas, juga yang paling aku takutkan saat ini adalah kesalahan itu masih berbekas, memunculkan dosa yang tidak terasa. Semoga lelaki itu sudah melupakannya dan memaafkanku sebelum aku meminta. Karena aku sendiri malu jika harus mengakui semuanya.

Usut punya usut, dia tahu bahwa aku yang selama ini mengaku bernama 'Dian', yang selalu berkirim pesan dengannya, adalah dari teman sekelasnya yang juga tetanggaku. Aku tak berpikir panjang bahwa akhirnya pasti akan ketahuan. Ah semoga saja dia maklum, jaman Sekolah Menengah kan masa-masa alay. Hmmmm.
Jadi, selain aku menulis ini, pun aku ingin meminta maaf kepada lelaki yang dahulu, kurang lebih tujuh tahun yang lalu kusukai, maafkan karena aku sering menjahilimu. Semoga Allah mengampuniku karena kesalahanku padamu.
Juga, aku pun meminta maaf kepada siapapun yang pernah aku jahili dahulu, semua adalah proses belajar sehingga aku mengetahui bahwa itu adalah salah.

Untuk lelaki yang bertubuh tinggi, berkulit putih, bermata sipit, maafkan aku.

May 09, 2016

Maaf, Bu!

Senin lalu, tepatnya tanggal 02 Mei 2016, Ibu mendiamkanku. Rasanya lebih baik dimarahi habis-habisan, daripada didiamkan seperti tak dianggap. Pasalnya, Ibu memang berhak marah padaku. Karena dua hari kebelakang aku selalu pulang malam. Pulang lebih dari pukul tujuh dan sebelum pukul delapan. Ya, itu memang sudah malam. Maafkan aku, Bu.

Hari ini, hari Senin. Seminggu berlalu semenjak Ibu diam tanpa kata padaku. Rasanya memang bahagia ketika kami saling bercengkrama. Senyuman dan tawanya membuat hati ini riang gembira.
Kemudian Ibu berkata, "Bukan apa-apa Ibu bawel, tapi Ibu khawatir. Anak laki-laki dan bawa motor pun Ibu khawatir, apalagi kamu, anak perempuan. Jangan lagi-lagi pulang malam!" Begitu katanya.

Maafkan aku, Bu. Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi.
Didiamkan itu rasanya bagai ditusuk pedang secara perlahan. Sakitnya tak tertahankan.
Sekali lagi aku minta maaf, Bu.

Apa judulnya?

Haeee, sis and bro yang semoga dirahmati Allah. Kuharap hari ini kalian sehat yaaa!  AAMIIN..
Pesanku hari ini, jangan mudah baperan. Rugi loh. Duhh biasanya para sis yang suka baperan ya, termasuk aku ini. Karena terlalu baper, akhirnya sakit hati.

Maksud di sini itu, baperan baperan ke cowok yang baru dikenal. Tapi kalau baper dalam mengingat dosa mah, wajib itu.

Udah sih gitu aja, iseng, wkwkwkwkwk

March 09, 2016

Bukan Lelakiku

Aku menunggu kedatangan seseorang yang sama sekali belum pernah kutemui. Dalam derasnya hujan, di bawah payung berwarna biru ini, aku merasakan jantungku berdetak sangat cepat. Tubuhku bergetar dan perasaanku tiba-tiba menjadi bahagia.
Aku menggigit bibir, menahan tangis yang entah kenapa sedari tadi terus memaksa ingin keluar, meluncur dari sela-sela mataku, membasahi pipi dan menetes kemudian. Sebenarnya siapa yang kutunggu? Iya, seseorang yang kuharapkan menjadi pendamping hidupku.

Sedari tadi kurasakan aroma hujan, sangat segar dan menenangkan. Dingin pun tak menjadi masalah untukku. Yang kuinginkan hanyalah bertemu dengan lelaki itu. Lelaki yang selama ini bercengkrama denganku dari jauh. Lelaki yang selama ini selalu kusebut dalam do'aku. Lelaki yang selama ini selalu membuat rona merah dipipiku. Aku sebenarnya malu, namun kuberanikan diri untuk bertemu langsung dengannya, tanpa berbatas media sosial lagi.

Lima belas menit kumenantinya, berharap pertemuan pertama ini menjadi kesan yang menyenangkan. Tapi aku salah, dia datang bersama seseorang. Seorang perempuan. Dengan pakaian minim seadanya. Perempuan itu cantik, alisnya rapi, bibirnya merah dan wajahnya putih. Perempuan itu turun, mengikuti gerak langkah lelaki yang ada di depannya. Mengikuti lelaki yang sedari tadi sedang kunanti. Mereka menuju ke arahku. Dengan melambaikan tangan, lelaki itu tersenyum manis persis seperti yang kubayangkan. Dia sangat menawan. Tapi tunggu, ketika kubalas senyuman itu, sejurus kemudian perempuan yang sedang bersamanya langsung menggandeng tangan lelaki yang kutunggu itu. Mengapa? Mengapa jantungku sakit melihatnya? Hujan pun mulai beralih menjadi gerimis sendu.

"Hei! Sudah lama nunggu? Maaf ya hujannya tadi deras banget." Katanya sambil membuka helmnya. Perempuan yang bersamanya pun ikut membuka helm. Rambutnya panjang, terurai dan sedikit basah.
"Tidak apa-apa! Hehe." Balasku singkat. Aku bingung harus bertingkah seperti apa. Semua yang kubayangkan tiba-tiba hilang begitu saja. Bayangan itu menguap bersama sisa-sisa hujan yang mulai reda. Dalam benakku timbul sebuah tanya, siapa perempuan itu?

"Oh, ya. Ini kenalin, Mita," katanya, "Mita, ini temanku, Nisa." Lanjutnya mengenalkan diriku kepada perempuan itu. Kami berdua bersalaman. Kuberikan senyuman terbaikku kepadanya. Namun, perempuan itu nampaknya tak begitu menyukaiku, dia tak sedikit pun melihatku. Sebal. Senyum terbaikku terbuang sia-sia.
"Oh, ya. Mana bukunya? Aku tak bisa lama, masih ada kuliah." Tukasku sebelum suasana semakin tak enak.
"Oh ini. Makasih ya. Aku senang bisa bertemu denganmu. Dan maaf aku sering merepotkanmu." Katanya, sambil menyerahkan buku milikku yang sempat dipinjam olehnya. Buku yang kukirim lewat JNE kini kembali bersama seorang yang kupuja. Sekali lagi, lelaki itu tersenyum hangat kepadaku, bicaranya yang lembut membuatku semakin termangu.

"Tidak apa-apa." kataku.
"Ekhem. Apa masih lama, sayang?" tanya perempuan itu. Mata tak bersahabatnya menyorot tajam padaku. Rasanya aku seperti mendengar petir lalu mengguncang di kepalaku. Panggilan sayang itu cukup menjelaskan siapa perempuan itu.
"Nisa, sekali lagi makasih ya. Aku masih ada acara nih. Sampai jumpa!" Katanya sambil berlalu.

Pertemuan yang kukira akan menyenangkan ternyata berbekas luka. Dia lelaki orang lain, bukan (yang akan menjadi) lelakiku.
Bersama berhembusnya angin, aku pulang dan mengubur semua angan yang kini menjadi semu.

February 29, 2016

(Bukan) Surat Terakhir

Surat ini kutulis untuk kalian semua, sahabat pena yang selalu jatuh cinta setiap hari.
Untuk sahabat pena, yang telah menulis surat cinta selama tiga puluh hari.

Bagiku, tiga puluh hari bukanlah waktu yang singkat. Namun, setelah menjalani #30HariMenulisSuratCinta ini, rasanya waktu begitu cepat berlalu. Ah, andai saat itu aku tidak sakit, mungkin aku sudah menulis tiga puluh surat cinta, seperti teman-teman semua.

Aku sempat membaca surat-surat cinta yang teman-teman buat. Seperti surat cinta milik @nspandu, rasanya setiap kali membaca suratmu, perasaanku ikut tenggelam dalam rangkaian kata-katamu. Meski surat itu bukan untukku, tapi hatiku selalu ikut hanyut merasakan rindu.
Atau surat cinta milik @nugraheninm, membuatku merasa kecil, merasa kurang menguasai kosakata, karena dalam suratmu begitu banyak sekali bahasa yang bagiku belum pernah aku gunakan sebelumnya.
Pokoknya surat cinta kalian, luar biasa!

Aku juga membaca surat cinta milik @meganinas, @MirantiRsyd, @mahanova__, @ndindien, itu yang kuingat, dan surat-surat cinta kalian sangat menginspirasiku untuk terus belajar merangkai dan meramu kata.

Dan kini, mungkin hari ini, hari terakhirku dapat membaca surat-surat yang teman-teman buat. Hari ini hari terakhirku mengunjungi blog kalian untuk sekadar membaca surat. Namun, jika #30HariMenulisSuratCinta ini telah usai, aku akan membaca postingan lain milik kalian, karena tulisan-tulisan kalian sungguh luar biasa.

Ini bukan surat terakhir kan? Semoga kita selalu tetap menebar cinta walau #30HariMenulisSuratCinta ini berakhir.
Semoga tahun depan kita dapat berjumpa lagi dalam #30HariMenulisSuratCinta dan semoga kalian selalu bahagia.

February 28, 2016

Yang Tak Pernah Lelah

Kepada dirimu, Kang Pos, @catatansiDoy, yang tak pernah lelah mengantar surat-suratku, surat-surat mereka, surat kami semua.
Sungguh waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku menulis surat cinta pertamaku. Namun kini sudah surat ke-29 lagi. Sungguh tak terasa.

Setiap harinya, dirimu tak pernah lelah mengantar surat-surat kami, menyebarkan cinta dan kebahagiaan yang kami tulis dari hati. Meluangkan waktu untuk sekedar menggerakan jempol, demi jiwa-jiwa yang sedang berbahagia. Demi hati yang sedang berbunga-bunga.

Terima kasih Kang Pos, terlebih terima kasih @catatansiDoy yang selalu mengantarkan surat-suratku.

Semoga, cinta dan kebahagian selalu mengiringi harimu Kang Pos, @catatansiDoy, mengiringi hari-hariku, hari-hari kalian yang selalu jatuh cinta setiap hari.

Walau menulis surat cinta ini akan segera berakhir, kuharap kita semua tetap selalu menebar cinta dan kebahagiaan untuk orang-orang sekitar. Terlebih untuk Kang Pos, semoga cinta dan kebahagiaan selalu terpatri dalam sanubari.

Pesanku untuk Kang Pos, @catatansiDoy, tetap semangat menebar cinta untuk semua insan di dunia. *kasih dua jempol*
Kesan untuk Kang Pos, @catatansiDoy, pokoknya dirimu sangat berkesan, dirimu keren, tak pernah lelah dan sebisa mungkin selalu setia mengantarkan kebahagian untuk kami semua. Cieee~

Oh ya, tiada kata terindah selain do'a, dan tiada surat cinta yang dia baca kecuali Kang Pos yang mengirimkannya.

Sekali lagi terima kasih ya, Kang Pos. Tanpamu, surat cintaku tak akan pernah dibaca oleh orang yang kucinta.

Be positive, be happy
@catatansiDoy memang Kang Pos sejati.

February 21, 2016

Kepada Sang Pemilik

Aroma hujan begitu menenangkan hati, seketika tanah basah membuatku sadar akan satu hal. Tuhan, terima kasih atas rezeki-Mu.

Tuhan, Sang Maha Pencipta, alam kini nampak mulai lelah, alam yang Engkau ciptakan untuk kehidupan makhluk kini mulai rapuh, maafkanlah kami yang tak bisa menjaganya dengan benar.

Tuhan, maafkan kami yang masih lalai menjalankan segala perintah-Mu dan masih sulit tuk menjauhi segala larangan-Mu. Namun kami tetap terus mencoba menjadi hamba-Mu yang bertaqwa.

Tuhan, nikmat-Mu yang tak sedikit sering kami dustakan membuat jiwa-jiwa ini tak merasakan kebahagiaan. Maafkan kami yang terkadang lupa bersyukur, bahkan untuk setetes air hujan pun, kami sering menggerutu.

Tuhan, terima kasih karena Kau selalu menyayangi kami yang terkadang masih sering menduakan cinta-Mu.

February 15, 2016

Mentari

Dari ufuk timur, hingga ke ujung barat, kau tak pernah lelah menerangi bumi yang kini kian menua.

Untuk mentari, yang sinarnya selalu menghangatkan jiwa.
Tanpamu, takan ada kehidupan. Sinarmu yang sangat kami butuhkan, adalah energi yang paling besar sepanjang masa.
Terima kasih selalu mencintai kami, yang tak tahu caranya membalas budi padamu.

Bahkan, jika suatu saat kau muncul tak lagi di ufuk timur, maka berakhirlah kehidupan.

February 14, 2016

Kembalilah Tanah Surga!

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Dulu, orang bilang begitu.

Bait-bait lagu itu sungguh mencerminkan keadaan negeri yang sangat kaya. Saking kayaknya, tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman. Tak salah memang negeri ini dinamakan tanah surga.

Wahai negeriku yang kucintai, apakah kau kini lelah?
Apakah orang-orang serakah itu telah mengeruk kekayaan yang kau miliki dengan seenaknya?
Apakah mereka menyisakan kekayaan yang ada padamu untuk anak cucunya kelak?
Aku ragu.

Dahulu, kau dijajah karena kekayaan alam yang melimpah.
Para pahlawan berjuang bertumpah darah demi kemerdekanmu.
Namun, saat ini pun kau masih dijajah pula. Bahkan oleh tuan rumah sendiri.
Ceritanya kau sudah merdeka, tapi apakah mereka yang kelaparan, orang-orang miskin dan terlantar sudah merdeka?
Oh negeriku, kapan kau makmur seperti dahulu.

Kembalilah tanah yang orang bilang sebagai tanah surga.
Kembalilah untuk bekal anak cucu kelak di hari tua.

Dariku,
yang sedang berjuang untuk negeri tercinta.

February 13, 2016

Hari Tadi

Hari tadi, saat gerimis di kota Bandung.

Terima kasih, Mas, sudah mengantarku ke PRAMITA untuk cek darah.
Betapa banyak sekali yang kau ceritakan, tentang sesuatu yang begitu sulit kupahami.
Ternyata pengetahuanku masih sempit ya. Kehidupan sosialku hanya begitu-begitu saja. Berbeda dengan Mas, begitu banyak hal-hal yang terjadi di kehidupanmu. Betapa kritisnya pemikiran-pemikiranmu.

Sepanjang jalan Pajajaran, kau ceritakan karakter-karakter orang yang membuatku tertegun. Bahkan antara percaya dan tidak, apakah iya seperti itu kah orang-orang di sana? Menutup diri dan melakukan hal-hal absurd seperti yang kau ceritakan.

Namun, semua yang kau ceritakan tadi adalah suatu pengetahuan yang baru dalam hidupku.
Terima kasih, Mas.

February 12, 2016

Down

Untuk semua orang yang tak pernah bosan berkunjung ke blog saya, terima kasih.

Maafkan diri ini yang tak mampu berucap kata lebih seperti biasanya.
Ragaku tak mampu lama menatap layar handphone apalagi laptop.
Do'akan aku yang sedang diuji kesabaran oleh Sang Pencipta.
Do'akan aku semoga lekas sembuh.

Di atas tempat tidur tanpa ranjang ini, aku merintih.

Salam.

February 11, 2016

Untuk Raga

Untuk raga yang tak pernah lelah menemani kehidupanku.

Maafkan aku, karena belum maksimal menjagamu. Maafkan aku yang senantiasa membuatmu berada dalam kesusahan. Maafkan pula aku yang kini membuatmu sakit. Namun bukan maksudku untuk melakukan semua itu, tak ingin aku menyakitimu. Karena aku juga merasakan sakit yang sama denganmu.

Sudah dua hari ini, kau berada dalam masa di mana seluruh suhu tubuhmu meningkat. Bagian-bagianmu pun ikut merasa sakit. Kepala terus berputar-putar, pusing berkepanjangan, lengan-lengan sampai pundak pun kelelahan. Maafkan aku yang hanya bisa terkulai lemah di atas tempat tidur tanpa seprai.

Sungguh aku takut, saat kau berada dalam kesakitan, aku takut jantungmu pun diberhentikan. Aku takut ajal kan datang menjemput. Kuterus berdo'a agar sampai tak kelak menyesal. Aku hanya ruh yang mendiami ragamu. Aku hanya ruh yang disimpan dalam raga untuk beribadah kepada-Nya. Namun maafkan aku, bukan aku tak menghargaimu, tapi aku juga kini sedang merasa sakit yang sama denganmu, ragaku.

Sungguh, aku sangat mencintaimu. Sebisa mungkin aku menjaga kesehatan demi kebaikanmu. Namun apa daya, ada masa di mana raga seseorang berada dalam keadaan sakit. Bukankah sakit itu menjadi penawar dosa-dosa? Ya, penawar dosaku yang selama ini lalai menjagamu, ragaku.

Untuk raga yang kini sedang sakit, walau selera makanmu dicabut, walau kecantikanmu diambil, tapi jangan bersedih karena Allah pun mengambil dosa-dosa kita. Dosaku yang berada dalam dirimu, ragaku.
Kuselalu berdo'a agar kita segera sembuh. Dapat beraktivitas seperti biasanya. Merangkai kata lagi dari suasana yang kita lihat. Menjalani kehidupan di dunia yang begitu singkat.

Wahai ragaku, bersabarlah. Ketika sembuh nanti, Allah akan mengembalikan selera makanmu. Allah akan mengembalikan pula kecantikan wajahmu. Namun, begitu sayangnya Allah pada kita, umat manusia, Dia tidak pernah mengembalikan dosa-dosa yang diangkat ketika kita sakit. Jadi, janganlah bersedih wahai ragaku, Allah selalu melindungi kita, menjaga kita, dan mencintai kita jika kita bersabar dalam rasa sakit ini.

Untukmu ragaku yang sangat kucintai, juga untuk diriku, semoga segala rasa sakit ini segera diangkat. Aamiin.

February 10, 2016

Cinta Dalam Do'a

Sore ini hujan kian deras, membasahi bumi yang sedikit gersang karena polusi.
Sore ini, aku sedang memikirkanmu. Apakah gersangnya hatiku bisa disejukan oleh cintamu?

Sungguh, sebenarnya aku tak suka menyembunyikan rasa cinta. Sedikit aku memandang senyummu, wajahku tak bisa menolaknya. Rona merah ini kian memancarkan suatu kegelisahan hati. Kapan aku bisa memberanikan diri?

Wahai pujaan hati, sudah sekian lama aku menantikan kehadiranmu. Cukup kehadiranmu saat aku lelah dalam kegiatanku. Cukup kehadiranmu yang mampu menenangkan hatiku. Sungguh aku ingin kau menjadi pendamping hidupku. Menjadi imam dalam menjalankan kehidupan. Membawaku ke dalam keabadian cinta atas ridho-Nya.

Kau tahu, aku selalu cemburu ketika kau dekat dengan wanita lain. Tapi, aku bisa apa? Itu bukan hakku, kau bukan suamiku.
Saat kau dekat denganku, aku pun tak bisa berkata apa, belum halal bagiku untuk sekedar berjalan bersama-sama.
Apa kau menyimpan hatimu untukku? Tapi aku tak tahu. Kuhanya bisa berdo'a dalam diamku.

Wahai pujaan hati, bolehkah aku berdo'a agar kau menjadi jodohku?
Hanya itu usahaku dalam memperjuangkan perasaanku. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyampaikan isi hati. Do'a-do'a kugantungkan pada-Nya agar aku bisa mendapatkan yang terbaik sepertimu.
Aku pun di sini sedang memperbaiki diri. Bukankah jodoh kita adalah cerminan diri kita?

Wahai pujaan hati, jika aku masih belum bisa mengungkapkan rasa cinta, biarlah kusampaikan semuanya melalui do'a-do'a yang mungkin bisa menghangatkan jiwamu. Jika aku belum bisa mengatakan perasaanku, biarlah kutitipkan dahulu pada Sang Maha Pemilik Cinta.
Bukankah dahulu Fatimah seperti itu? Mencintai Ali tanpa seorang pun tahu. Begitupun sebaliknya, Ali mencintai Fatimah disampaikan lewat do'a-do'anya. Perasaan mereka masing-masing diserahkan kepada Sang Pemilik Cinta.

Tapi jika aku mem-Fatimah-kan diriku, akankah engkau meng-Ali-kan dirimu?
Lewat do'a kusampaikan perasaanku.
Kepada Sang Pencipta kugantungkan cintaku.

February 09, 2016

Ada Rahasia

Bandung, 09 Februari 2016

Assalamu'alaikum, Radina, sahabatku yang dicintai Allah.
Apa kabarmu hari ini, kemarin dan satu bulan yang lalu? Semoga kau selalu dalam keadaan baik ya.
Aamiin.

Ternyata, sudah cukup lama ya kita tak berjumpa. Libur semester ganjil ini rasanya begitu panjang. Sampai aku sedikit lupa, semester kemarin belajar apa. Hihi.
Apakah liburan ini kau mempelajari lagi mata kuliah semester kemarin? Ah, jika iya, sungguh kau sahabatku yang luar biasa.

Mungkin maksud dari datangnya surat ini adalah untuk menyampaikan sesuatu kepadamu. Sesuatu yang bisa dibilang rahasia. Sesuatu yang sudah kusembunyikan sejak dua setengah tahun yang lalu, sejak OSPEK di kampus itu. Namun, pada akhirnya ingin kusampaikan juga padamu. Hatiku sudah lelah selalu menyimpannya sendirian.

Radina, kau tahu kan segala tentangku? Setiap ada masalah, aku selalu bercerita padamu. Tentang jatuh bangunnya kisah cintaku, kuceritakan padamu. Namun ada satu hal yang kusembunyikan darimu. Jika kau mengetahuinya, mungkin kau takan pernah mempercayainya. Tapi semua ini memang kenyataan. Apa kau siap mendengar rahasiaku? Apa kau siap pula menjaganya? Janji ya! Aku mempercayaimu.

Radina, apa kau masih ingat saat pertama kali kita berjumpa? Jika ingat, coba bayangkan kembali, putar kembali memori saat kita berjumpa. Jujur, saat aku pertama kali melihatmu, kau orangnya judes sekali. Sampai aku tak enak hati. Tergurat begitu jelas ketidakramahan di wajahmu. Namun aku menyadari, ada sesuatu yang menghilangkan perasaanku yang tidak enak itu. Kau tahu apakah sesuatu itu? Tahan dulu ya.

Namun, setelah aku mengenalmu, dekat denganmu, bersahabat denganmu, aku yakin kau tak sejudes yang kukira. Kau adalah sahabat terbaik yang kumiliki di kampus.
Hmm, kembali lagi pada rahasia yang akan kusampaikan. Rahasia ini berawal daripada aku mengenalmu. Aku menyimpan rahasia ini sejak pertama bertemu denganmu. Kau ingin tahu?

Rahasia yang kusimpan selama ini adalah, aku mengagumi seseorang yang ada disampingmu, ketika pertama kali kita bertemu.
Suutt, jangan bilang siapa-siapa ya!
Kapan kita bisa bertemu, untuk sekedar melepas rindu dan menceritakan segalanya padamu?
Balas suratku, ya!

Salam Rindu.
Ndeh.

February 08, 2016

Sebuah Penyesalan

Hai, Boy!
Apa kabar? Haha. Mungkin kamu bingung, tiba-tiba surat ini datang melalui mention twittermu. Tak usah risau, tak usah kepedean, ini bukan surat cinta seperti layaknya orang yang punya hubungan istimewa. Namun, bukan kah persahabatan kita lebih berharga dari segalanya? (Ketawa ngakak)

Ini adalah surat yang kubuat pertama, untuk anggota D'Manjess tercinta. Kamu harusnya merasa bangga, dan beruntung tentunya, karena kamu orang pertama yang kukirimi surat ini. Ingat ya, jangan senyum-senyum sendiri ketika kamu membaca surat ini. Karena, Radina, Kakang, Iqbal, Reni dan lainnya pun akun kukirim pula.

Jadi begini, Boy, surat ini kukirim karena sudah lama aku tak mendengar kabarmu. Semenjak musibah itu, aku benar-benar minta maaf karena tidak menjaga tasmu sebaik mungkin. Aku malah asik selfie, padahal di balik itu ada orang jahat mengincar tasmu. Sungguh itu di luar dugaanku. Sungguh aku pun sama kagetnya denganmu.

Dan betapa bodohnya aku, yang malah menyelamatkan tiket karaokean, padahal di dalam tasmu itu banyak barang berharga. Aku sungguh tak menyangka akan terjadi hal buruk itu. Jika aku tahu orang jahat itu akan mencuri tasmu, aku akan menyelamatkan semuanya, termasuk tongsis yang kita beli dengan jerih payah tawar menawar dengan penjualnya. Ah sungguh aku menyesali segala yang terjadi.

Tapi, Boy, aku tahu, waktu itu pasti terasa begitu menyakitkan, saat kamu kehilangan sesuatu yang kau sayang. Namun sebenarnya, di balik itu pasti ada hikmah yang Allah berikan untukmu. Khususnya menjadi sebuah pelajaran untukku juga. Aku sadar, selfie itu boleh, namun harus tetap ingat dengan sekitar. Ya. Itu hikmah yang kuambil dari musibah pencurian itu.

Oh ya, Boy, apa kamu mendo'akan sesuatu untuk orang yang mencuri tasmu? Jujur, saat itu ketika hari pencurian itu, mulutku tak hentinya mengutuk orang jahat itu. Tapi aku sadar, itu semua bukan hakku. Aku hanya berdo'a agar segala barang yang ada dalam tasmu, bisa kembali bagaimanapun caranya. Dan pada akhirnya, sebagian barang di dalam tasmu kembali bukan? Allah masih menyayangimu, Boy.

Tapi, aku sedikit sedih juga. Tongsisnya tidak balik lagi ya Boy? Mungkin pencuri itu butuh tongsis juga, untuk selfi-selfie seperti yang kulakukan saat tasmu dicuri.
Boy, sekali lagi aku minta maaf ya. Hahaha.
Kapan kita akan berpetualang lagi?
Kapan kita akan selfie-selfie lagi? Lain kali, aku berjanji akan menjaga titipan siapapun walau sedang asik berfoto-selfie.

Sekali lagi maaf ya!
Salam,
Ndeh.

February 07, 2016

Sang Idola

Sebenarnya aku tidak tahu, antara superstar dan idola, apakah berbeda?
Tapi, menurutku idola juga adalah superstar. Bahkan lebih dari itu.

Bismillah...
Surat ini kusampaikan untuk idolaku sepanjang masa. Idola yang tak pernah merasa dirinya idola. Idola yang tidak sama dengan idola lainnya. Seorang idola yang sangat benar-benar mencintai fansnya. Bahkan mencintai semua walaupun mereka tak mengidolakannya.

Wahai idolaku, sungguh aku sangat ingin berjumpa denganmu. Untuk mengatakan bahwa aku sangat mengagumimu, mencintaimu.
Ketika aku mendengar kisahmu, tak kuasa aku menahan tangis, tak kuasa aku menahan sesak karena membayangkan perjuanganmu. Sungguh dirimu adalah idola sejatiku.

Wahai Sang Idola, aku memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk mengizinkanku agar tetap berada di bawah syafaatmu. Memudahkanku dalam mengikuti jejak langkahmu. Dan senantiasa selalu menuntunku agar aku selalu mengamalkan apa yang engkau contohkan dahulu. Aku sungguh ingin berjumpa denganmu. Walau sebatas melihatmu dari kejauhan.

Wahai Sang Idola, aku hanya mendengar semua kisahmu dari Ayah dan guru di madrasah. Hanya dengan mendengar saja, tubuh ini langsung merinding, sendu. Bukan aku ketakutan, tapi aku begitu takjub atas apa yang engkau lakukan demi umatmu.

Wahai Idolaku, hanya engkaulah sebenar-benarnya idola. Superstar bagi semua umat manusia. Idola yang rela bertumpah darah demi umat, rela menangis demi keselamatan umat dan rela meminta kepada Allah SWT agar umatmu tak merasakan sakitnya sakaratul maut. Sungguh tak bisa kubalas segala jasamu. Sungguh hanya engkaulah yang seharusnya paling diidolakan.

Wahai idolaku, Rasulullah, Muhammad SAW.
Meski aku tak dapat melihat angin, bukan berarti aku harus berhenti bernapas.
Sama seperti aku yang tak pernah melihatmu, bukan berarti aku harus berhenti percaya, berhenti mengikuti jejakmu. Tidak seperti itu.

Aku yakin, sangat berbahagia pastinya orang yang bertemu denganmu, juga mereka yang ikut berjuang denganmu.
Tapi, bukankah janji engkau adalah nyata bahwa, berbahagialah tujuh kali orang yang tidak bertemu denganmu tapi beriman denganmu. Aku yakin itu.

Ya Rasulullah, tak pernah kutatap wajahmu yang kudengar akan membuat hati tenang jika melihatmu.
Ya Rasulullah, lewat dua pusakamu, Al-qur'an dan Hadist, aku belajar untuk mengamalkan sunah-sunahmu.
Walau belum sempurna, aku tetap berusaha untuk mencoba.
Ya Rasulullah, terimalah aku sebagai umatmu.

Satu hal yang membuatku tak henti-hentinya menahan tangis, satu hal yang membuat jiwaku tersentuh, satu hal yang membuatku selalu mengidolakan engkau adalah, saat engkau dipanggil oleh Allah SWT, saat nyawamu dicabut oleh malaikat Izroil, yang engkau pikirkan hanyalah "umatku, umatku, umatku" tanpa peduli rasa sakit yang engkau rasakan saat itu.

Ya Rasulullah, sungguh besar perjuanganmu.
Sungguh engkau adalah seorang kekasih Allah dan idola semua umat.
Sungguh, aku sangat merindukanmu.

February 06, 2016

Untuk yang Kusebut Pak Haji

Hari ini adalah hari ke-100 kepergian Pak Haji. Di mana, empat hari lagi yaitu tanggal sepuluh adalah hari ulang tahun Pak Haji.
Kami di sini akan mengadakan pengajian. Hanya keluarga saja. Karena kami tak ingin ada lagi kesedihan yang terlihat di wajah para tetangga.

Pak Haji, aku menyebutnya begitu. Apakah engkau di sana bahagia? Tanpa ditemani isteri, anak-anak dan cucu-cucumu? Kata tetangga, Pak Haji pasti sangat bahagia, karena semasa Pak Haji ada, engkau selalu membuat tetangga bergembira.

Pak Haji, apakah di sana engkau kesepian? Kata tetangga, Pak Haji takan pernah kesepian, karena semasa Pak Haji ada, engkau selalu meramaikan komplek dengan mengadakan pengajian.

Itu semua kata tetangga. Tetangga di sini, semua sangat menyayangimu, semua sangat sedih telah kehilanganmu. Semuanya sangat merindukanmu. Terutama kami, yang selalu ada di bawah atap yang sama, di atas meja yang sama dan tertawa bahagia di dalam hangatnya kumpul keluarga.

Kami di sini mulai merasa ada sesuatu yang hilang. Dari hari ke hari, waktu ke waktu, sampai kini tak terasa sudah 100 hari kepergianmu, semakin terasa kesedihan yang tergurat di hati kami. Semakin terasa pedihnya kehilangan. Kehilangan sosok Pemimpin bagi keluarga dan orang sekitar. Pak Haji, di sini kami merindukanmu.

Surat cinta yang kini kami tulis hanya sebatas perwakilan isi hati yang tak mungkin tersampaikan kepadamu. Surat cinta yang mungkin takan bisa engkau baca langsung, dan membuat senang hatimu. Tapi, kami di sini selalu menyampaikan segala rasa cinta kami melalui do'a untukmu.

Pak Haji, hari ini adalah hari ke-100 kepergianmu. Semakin hari semakin pilu. Tak ada lagi komando yang kau berikan untuk mengumpulkan anak-anakmu, yang telah menyebar karena masing-masing sudah berkeluarga. Tak ada lagi tumpuan untuk mengadu, jika kami sedang ada dalam kebingungan. Tak ada lagi banyolan dan canda tawamu ketika kami sudah lelah dengan pekerjaan. Namun semangatmu, motivasimu dan segala kebaikanmu kan selalu kami jaga, kami terapkan dalam kehidupan.

Pak Haji, kami tahu, tetangga tahu, semua pun tahu tentang segala kebaikanmu. Kami yakin bahwa Allah SWT pasti menempatkanmu di tempat yang diridhoi-Nya. Tempat yang takan mampu merasa pedihnya siksa. Kami di sini selalu mengirimkan cinta, rindu dan kebahagian melalui do'a untukmu.

Pak Haji, sekarang, aku sendiri yang ingin menyampaikan sesuatu padamu. Aku tahu, aku bukan bagian dari keluargamu. Aku di sini hanya seseorang yang telah diangkat anak, oleh anakmu. Tapi kuhaturkan segala rasa hormat dan kebanggaan karena telah mengenal Pak Haji yang tak pernah memandang sebelah mata kepadaku.

Sama seperti anak-anak Pak Haji di sini, mereka semua sangat baik kepadaku, sangat ramah dan menerimaku. Begitu pula cucu-cucumu, mereka sangat dekat denganku dan mereka pun sangat menghormatiku. Aku di sini yang bukan siapa-siapa sangat bahagia bisa mengenal keluaga besar Pak Haji. Aku tahu, semua berkat ajaran dan didikan Pak Haji yang mampu membuat anak-anak Pak Haji begitu sangat baik dan menjadi orang yang baik.

Pak Haji, semoga engkau di sana, di alam yang kini berbeda dengan kami, selalu diterangi cahaya atas segala kebaikanmu. Selalu diwangikan oleh amal-amal yang kau lakukan semasa masih berkumpul dulu.
Terima kasih atas segala yang engkau berikan untuk kami, yang sangat mencintaimu.

Salam Rindu, dari kami, yang kini mulai mencoba mengikhlaskan kepergianmu.

February 05, 2016

Tak Mau Menulis

Jika aku sedang tidak mau menulis, apakah aku harus menulis? Tidak, kan?! Lah tapi mengapa aku terus saja menulis? Entahlah, jemariku ini yang memaksaku untuk bercerita.

Jadi, apa yang harus aku tulis? Apa aku harus menuliskan namamu di sini? Hmm kukira jangan lah, takut diketahui orang banyak. Jadi apa yang harus aku tulis? Aku bingung sebenarnya.

Apa ya? Aduh bingung!
Coba, kuingin melihat ke luar rumah. Mungkin saja ada sesuatu yang dapat kutulis. (Dua menit kemudian). Ouhh, aku hanya melihat ada pepohonan yang melambai-lambai padaku. Kuharap tak ada makhluk yang bersuara nyaring ikut melambai juga. Amit-amit!
Pohon itu terlihat segar karena sang hujan telah menyuruh koloninya untuk menyerang bumi. Kudengar pula suara mungkin jangkrik, (karena Semut tak bisa kudengar suaranya) yang terus menggodaku untuk berkeliling semakin jauh. Seperti mengusirku mungkin?

Ah, aku mau masuk rumah lagi. Dingin malam menusuk tulangku, aku tak mau bermain dengan koin dan minyak urut malam ini. Tubuhku langsung tembus ke tulang, jika koin itu dicelup ke dalam minyak urut lalu di gesekan pada punggungku, sudahlah Wassalam.

Ah ternyata aku sudah menulis lumayan banyak (karakternya). Akan kuakhiri saja. Kuakan menyisakan untuk besok dan seterusnya.

Kapan Kita Berjumpa?

Siang tadi, aku mencoba mencari udara segar, di tengah cuaca yang sangat panas.
Coba tebak, apa aku menemukannya?
Tentu tidak, yang kutemukan hanya bayangan wajahmu yang hari kemarin tak jadi berjumpa.

Hallo Viska, selamat sore..
Kemarin kita tak jadi berjumpa. Padahal kemarin adalah moment terakhir, dimana kita bisa membuka jendela-jendela ilmu. Selain itu, aku pun merindukanmu.

Lewat surat ini, kuingin tanyakan kapan kita akan berjumpa lagi? Rasanya rindu yang tak berbatas ini ingin segera kuadukan padamu. Walau dua minggu yang lalu kita telah berjumpa, apa daya waktunya begitu singkat, tak cukup tuk mencurahkan, menceritakan kisah-kisah yang kita lalui dalam hidup kita.

Viska, sungguh bertemu denganmu adalah hal yang aku tunggu. Sahabat SMP yang tak pernah bosan menyemangatiku. Yang selalu memberi motivasi dalam segala hal di hidupku. Ah, rasanya aku sudah tak sabar menceritakan hal yang terjadi kemarin di pesta buku.

Oh ya, kemarin aku ke Braga sendirian. Andai saja kau jadi pergi, mungkin aku tak akan kesepian.

Tahu tidak, kemarin kuberjalan menelusuri jalanan Braga ditemani gerimis yang tak romantis. Pepohonan pun terlihat gelisah karena tak sepenuhnya basah. Andai kemarin kau ada di sini, mungin kita bisa berfoto di dekat pepohonan itu, agar ia tak lagi gelisah.

Kau bingung bukan, mengapa aku mengirim surat? Bukankah bisa lewat pesan singkat? Nah, inilah hal yang spesial, aku mengirimiku surat karena aku juga sedang tak punya pulsa hehe.
Selain itu, surat yang kukirim ini adalah surat cinta loh.

Iya, aku mencintaimu karena Allah. Aku mencintaimu, karena kau adalah sahabat terbaik yang dikirim Allah untukku.

Kutunggu balasan suratmu yaaa, Viska. Jika sudah ada waktu yang cocok tuk berjumpa, segera kabari aku.

Salam rindu.
Ndeh.

February 04, 2016

Untuk Kau Yang Akan Segera Menikah

Selamat sore!

Pagi tadi, saat mentari masih enggan menampakan sinarnya, saat awan gelap masih berkeliaran di langit, aku melihat kau tersenyum, namun bukan kepadaku. Kuhanya mengintip dari balik jendela kamarku, untuk kesekian kalinya, menantikan kehadiranmu. Apa kau tak menyadari itu?

Satu minggu kau tak kunjung menghubungiku. Sudah satu minggu pula kau hanya diam saja di rumahmu. Apakah ada sesuatu yang terjadi padamu?

Jadi begini, surat ini kutulis hanya untuk menyampaikan rasa penasaranku akan berita yang sering dibicarakan ibu-ibu, ketika sedang berbelanja itu. Aku ingin bertanya, kau akan menikah dengan siapa? Maaf, aku tak bermaksud lancang. Tapi datangnya surat ini kuingin menagih semua janji-janjimu. Janji yang baru saja kita buat satu bulan yang lalu.

Kau bilang, akan segera melamarku, bukan? Lantas, ibu-ibu yang bergosip, termasuk tanteku itu, bukankah sedang membicarakan dirimu? Katanya kau akan menikah secepatnya? Apa benar, tapi dengan siapa? Jika denganku, mengapa aku tak pernah tahu? Sekali lagi kubertanya, kau akan menikah dengan siapa?

Sebulan yang lalu, kau sengaja mengajakku ke tempat yang romantis di kota Bandung itu. Kau bilang akan segera melamarku, walau aku masih kuliah semester enam ini. Kau tahu, betapa berbunganya hatiku, betapa terbangnya anganku saat aku mendengar ucapanmu itu. Tapi kini, di komplek sedang ramai membicarakanmu. Membicarakan rencana pernikahanmu.

Apakah ada keuntungan yang kau sembunyikan dari hubungan backstreet kita? Coba jelaskan padaku, agar aku tak harus bertanya pada tanteku yang bawel itu.
Jika memang benar kau menyembunyikan sesuatu, aku akan menutup kembali pintu hati yang baru saja kau buka sebulan lalu.

Oh, ya, jika benar kau akan menikah bukan denganku, lantas mengapa kau memaksaku untuk merubuhkan gerbang istiqamahku? Mengapa kau beraninya memberiku janji-janji semu?
Dan jika memang benar kau akan menikah, kirimkanlah kartu  undangan itu, jangan padaku, tapi pada tanteku, karena aku tak akan datang. Sebelum kau menjelaskan semuanya padaku.

Satu lagi, apakah aku harus tetap mencintaimu? Jawab!

Terima Kasih atas berita yang telah mematahkan hatiku.

February 03, 2016

Ma, Pa, Maafkan Aku!

Assalamualaikum, Ma.

Ma, apa kabar? Semoga Mama selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT, begitu juga Bapak. Lewat surat ini kusampaikan beribu kata maaf, yang tak mampu kuucapkan langsung kepadamu, Ma. Aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin bisa menyakiti hatimu. Maafkan aku, Ma. Aku sudah tak mampu memendam ini sendirian.

Aku ingat Ma, saat aku bilang aku telah mendapat beasiswa untuk membayar kuliah, kulihat kebahagiaan tak henti-hentinya terpancar di wajah lelahmu. Beasiswa yang mampu meringankan bebanmu demi menyekolahkan aku, demi mengangkat derajatmu kelak aku lulus nanti. Tapi Ma, ada sesuatu yang harus aku sampaikan, namun Mama harus berjanji jika kuceritakan, takan membuatmu menangis bersedih hati. Maafkan aku, Ma.

Dua bulan lalu, aku kena musibah Ma. Aku ditipu orang, dihipnotis, Ma. Aku bingung harus bilang pada siapa, aku kaget dan aku takut, Ma.
Orang jahat itu mengambil semua yang aku punya.

Mama, tahu laptop yang Abang berikan padaku? Laptop yang dengan susah payah didapat dari keringat Abang demi melancarkan tugas kuliahku itu? Sekarang telah kandas, Ma, diambil orang jahat itu, orang yang telah menghipnotisku. Maafkan aku, Ma. Aku telah menyia-nyiakan perjuangan Mama dan Abang.

Selain itu, mungkin, bukan, tapi pasti Mama juga akan kecewa padaku. Uang beasiswa dari kampus pun kandas, Ma. Orang jahat itu menghipnotisku dan menyuruhku mencairkan semua uang tabunganku. Sakit hatiku, Ma. Sangat sakit karena aku telah menghancurkan kepercayaanmu, kepercayaan kampus, karena orang jahat itu.

Ma, jika Mama ingin marah padaku, silakan, Ma. Jika Mama ingin memukulku seperti yang pernah terjadi lima belas tahun yang lalu, silakan, Ma. Ini semua salahku, karena kecerobohanku, karena kebodohanku, dan karena kebiadaban orang yang telah menghipnotisku. Mama, maafkan aku! Aku masih belum siap pulang ke rumah, untuk menceritakan ini semua.

Mama, jika kau telah membaca suratku ini, janganlah kau risau, aku di sini baik-baik saja. Hanya saja proses kuliahku sedikit terganggu. Kegiatan belajarku tak kondusif lagi, Ma. Tapi tenang, aku masih bisa mengatasinya.

Ma, do'akan aku agar aku tak lagi ada yang ganggu. Do'akan pula untuk orang yang telah menghipnotisku, agar dia sadar dan diberi balasan oleh-Nya. Maafkan aku, Ma. Sekali lagi maafkan aku. Dulu aku berjanji, merantau ke kota besar untuk mencari ilmu demi membahagiakanmu, membahagiakan Bapak. Lantas, kini aku malah mengecewakanmu. Kuingin memelukmu, mencium tanganmu agar aku tak menjadi rapuh.

Ma, jangan terlalu dipikirkan tentang musibah yang telah menimpaku. Aku ingin Mama tetap sehat, Mama tetap kuat, cukup saja aku yang akan mencari solusi untuk kejadian ini. Aku hanya ingin memberi tahumu bahwa saat ini aku masih baik-baik saja.

Ma, aku akan pulang dan menceritakan segalanya, jika aku sudah siap nanti ya, Ma. Maklumi aku yang belum berani menghadapmu. Belum berani menghadap Bapak yang aku sudah bayangkan bagaimana nanti responnya. Ma, sehat selalu ya, Ma. Salam untuk Bapak juga. Maafkan aku atas kelalaian dan kecerobohanku.

Salam kangen, salam sayang dan cinta dari anakmu, yang masih belum bisa membahagiakanmu.

February 02, 2016

Saitama, Aku Tetap Mencintaimu ❤

Siapa yang akan menyangka, jika selama ini, aku menyimpan rasa kepada si Botak Saitama. Walau orang-orang bilang dia orang aneh, tapi bagiku dia tetap pahlawan nomer satu. Di hatiku.

Banyak orang bilang, "Ah, Saitama mana mungkin ada yang suka!" Dengan nada merendahkan seperti itu, mereka berkata seenaknya. Siapa bilang? Saya menyukainya, saya mengaguminya! Sebelum Saitama botak, dia keren kok, dia ganteng kok, dan sampai sekarang pun akan terus begitu. Tak ada yang berubah! Mungkin hanya bagian kepala saja sih yang berubah.

Pagi itu, saat matahari mulai menampakan diri, aku sedang asik jogging-jogging santai di lapangan komplek, terlintas pikiranku tentang bayang wajah rupawan Saitama. Aku senyum-senyum sendiri. Ah, dasar si Botak, berani-beraninya dia mengganggu joggingku ini.

Aku berlari-lari kecil seputaran lapangan. Dari kejauhan kulihat ada sesuatu yang mengkilat, silau, memakai baju warna kuning dengan jubah putih di punggungnya. Saitama! Sedang apa dia?! Dia berjalan seolah jalanan itu milik nenek moyangnya. Sempoyongan, tak karuan.

"Woy, Sai?!" Kataku memanggil Saitama dari kejauhan. Tapi Saitama tak menoleh juga. Akhirnya aku lebih memilih menghampirinya, dibandingkan harus teriak-teriak tapi tak didengarnya.

"Saitama!" Aku menepuk pundaknya. Dan alangkah kagetnya aku, melihat darah yang bercucuran dari hidungnya.
"Ya Tuhan! Kamu kenapa, Sai? Duduk dulu!" Aku langsung menariknya untuk duduk di kursi pinggir jalan dekat lapangan.
Kulihat mata Saitama berkaca. Wajahnya lesu, pasrah, nan putus asa. Aku khawatir, apa yang telah terjadi? Aku mulai membersihkan darah di hidungnya, dengan handuk kecil yang kubawa.

"Maafkan aku, Ra!" Katanya kepadaku. Dia menunduk dan ternyata ada tetesan-tetesan air keluar dari matanya. Ya, itu air mata namanya.
"Laaah kok nangis? Minta maaf kenapa?" Aku bingung dan ingin tertawa juga. Baru kali ini aku melihat lelaki menangis, dengan ingus berwarna merah keluar dari hidungnya. Itu namanya menangis di saat yang tidak tepat.
"Aku belum bisa menjadi pahlawan!" Saitama sedikit berteriak. Aku bingung, kaget dan melongo. "Aku tidak bisa menjadi Saitama yang selalu kamu dambakan!" Lanjutnya sambil menatap mataku yang berbinar heran.

<><><><><><><><><><>

Saat itu senja mulai menjelma. Sebagian langit kini dipenuhi warna oranye semu merah. Mataku masih belum terlepas dari anime yang sedang aku tonton. Bagiku, anime adalah sinetron berepisode pendek yang lebih menyenangkan dan mengasikan, dibanding sinetron-sinetron yang ahh sudahlah tak usah dibahas, kalian pasti tahu maksudku.

Di samping itu, ada seseorang yang sejak tadi siang terus cemberut. Wajahnya seperti jeruk purut, keriput. Bibirnya sesekali manyun, monyong-monyong tak imut. Terkadang seseorang itu menghempaskan kakinya ke lantai, pertanda mulai kesal.
"Gak bosen apa nonton anime terus?!" Katanya, sambil memalingkan wajah.
"Suuuutttt, diamlah, ini sedang seru-serunya!" Kataku dengan mata masih terpaku pada monitor laptop.
"Masa anime begitu, seru?! Botak pula!" Katanya lagi dengan nada bicara semakin kesal.
"Walau botak, tetap saja aku suka. Saitama namanya, dia pahlawan keles! Meski botak, liat saja, wajahnya rupawan!" Penjelasanku berakhir dan langsung mematikan laptop. Kulihat wajahnya, wajah Riko, yang daritadi mengoceh tentang anime yang kutonton, terlihat kacau. Nampaknya dia marah padaku. Aku terlalu asik dengan Saitama dibanding Riko.

"Ayo, berangkat!" Ajak Riko, menggandeng tanganku.
"Kemana?" Tanyaku. Tapi dia menghiraukanku. Aku mengikuti saja. Kubiarkan kemana dia melangkah, sebagai tanda rasa bersalahku karena tadi mengacuhkannya.

Satu jam lamanya, kami berputar-putar entah mau kemana. Aku bingung dibuatnya. Sebenarnya mau apa sih dia?! Batinku menggerutu.
"Oy Riko! Mau kemana sih kita? Udah sejam nih, ah!" Kataku.
"Tadi, kamu nonton anime berapa jam?" Jawabnya. Seolah-olah aku adalah orang yang paling bersalah.
"Oh! Balas dendam?" Aku mendekatkan suaraku pada telinganya yang tertutup helm SNI.
"Oh tidak. Aku hanya sedang mencari distro baju-baju anime." Jawabnya dengan nada datar. WHAT?!
"Jadi dari tadi muter-muter cuma nyari itu?! Hellaaaw, kenapa gak bilang sih, ah! Aku tau tempatnya! Lama kan jadinya!" Sepanjang perjalanan aku terus menggerutu. Kesal, marah, capek, pegal, pokoknya si Riko menyebalkan!
"Yasudah, ayo tunjukan arahnya!" Hanya menjawab seperti itu.

Akhirnya kami menuju distro baju-baju anime, entah apa yang akan Riko lalukan di sana. Rasanya mustahil jika dia akan membeli salah satu baju atau sekedar menyewa untuk acara cosplay. Bahkan arti cosplay saja tidak mungkin tidak tahu. Dia anti anime. Anehkan? Lelaki, tak suka anime!

Sesampai di distro, Riko langsung menghampiri pemilik toko. Aku asik sendiri melihat-lihat gantungan, miniatur, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan anime. Ada boneka Midorima Shintaro pun di sana. Ada pula miniatur perahu One Peace dengan Luffy berdiri di atasnya. Oaah, rasanya ingin kumiliki semua. Tak lama kemudian, Riko menghampiriku dan mengajak pulang.
"Lah? Sudah? Tadi habis apa?" Tanyaku yang masih betah melihat-lihat di sini.
"Tidak habis apa-apa. Ayo kita pulang, sudah malam!" Katanya.
Dan akhirnya aku harus pergi meninggalkan dunia anime yang kucintai. Sesampai rumah, aku langsung rebahan dan sambil melanjutkan menonton One Punch Man, Saitama, yang tadi sempat terlupakan.

Aku teringat akan satu hal, sebelum Riko pergi setelah mengantarku pulang, dia berkata "Dira, besok kau pasti tak mau menjauh dariku. Besok kau akan terus memujiku. Kau pasti akan semakin mencintaiku." Sambil berlalu, Riko menghilang dari pandanganku, begitu pula dengan suara motornya, menghilang juga.

Hari ini hari minggu. Seperti biasa, aku selalu olahraga di lapangan komplek dekat rumah. Biasanya aku ditemani Riko. Sambil menunggu Riko datang, aku membuka akun Facebook dulu. Aku klik tab Beranda, dan popular post saat itu adalah salah satu teman komplekku memposting foto yang mirip Saitama, nampak dari belakang. Backgroundnya masih tampak gelap, belum ada cahaya matahari. Kubaca komenannya itu, ada yang bilang: Oy, ada Saitama di komplekku. Wah nekat bener tuh orang ngecoser Saitama. Owwwh aku takut ditonjok. Wah pasti tidak akan ada cewek yang suka padanya. Dan lain-lain komentar yang membuatku ingin tertawa. Ya Tuhan, ada-ada saja itu orang.

Tepat pukul 05.30 WIB ada seseorang yang mengetuk di balik pintu. Dapat kutebak, pasti Riko. Kubukalah pintu itu, betapa kagetnya aku, kukira aku sedang bermimpi, namun ternyata ini kenyataan.
"Tuyuuul!" Aku berteriak ketakutan. Suasana masih gelap dan dingin karena masih subuh.
"Dira, Oy! Kok tuyul sih, Saitama, Ra. Ini Saitama!" Kata lelaki berkepala botak itu.
"Ya ampun ih, tuyul! Apa-apaan sih ini?!" Dengan segala rasa tidak percaya, aku mengajak tuyul itu masuk.
"Aku hanya ingin menjadi seseorang yang kamu kagumi, kamu cintai, itu saja. Jangan panggil aku Riko, apalagi tuyul! Panggil aku, SA-I-TA-MA!" Ya ampun, ini memang benar-benar nekad namanya. Dan aku tersadar, mungkin foto yang diposting temanku tadi, itu adalah Riko. Ya Tuhan, anak ini!

"Gila ya! Beda ih, kamu beda sama Saitama. Dia pahlawan, dan kamu bukan. Hahaha." Aku geli melihatnya. Rasanya ada seseorang yang terus menggelitikku, sampai aku tak henti-hentinya tertawa.
"Baiklah, aku akan jadi pahlawan untukmu. Selamat tinggal!" Kata Riko, dan langsung berlalu dari pandanganku. Dia entah mau pergi kemana, ditengah suasana masih gelap ini. Dengan baju ketat kuning dan jubah putihnya, dia membatalkan acara olahraganya. Ya ampun, jadi kemarin dia beli kostum itu. Aku menepok jidat. Akhirnya aku pergi olahraga sendirian.

<><><><><><><><><><>

Aku masih bingung harus bagaimana. Sedih, bahagia, tertawa atau harus bagaimana? Rasanya semua terjadi begitu cepat. Saitama yang kudambakan memang ada tepat di depan mataku. Namun, Saitama yang ini nampaknya tak sekuat Saitama di anime One Punch Man.
"Aku searching tentang Saitama tadi malam. Aku langsung ke barber shop botakin ini, kepala. Aku ingin kamu gak nonton Saitama di anime terus, jadi kamu bisa pergi sama aku, Saitama beneran!" Alasan yang membuatku terharu. Tetap saja itu semua adalah konyol. Aku hanya mengangguk-angguk, karena sepertinya Saitama akan bercerita panjang lebar.

"Tadi pagi di rumahmu, kamu bilang Saitama itu pahlawan. Jadi aku juga mau kayak pahlawan. Tadi ada kucing kejebak di pohon. Aku mau tolongin, ehh jubah ini malah nyangkut di ranting, aku ketarik kan akhirnya. Jadinya malah jatuh, kan ini mimisan!" Katanya sambil mengelap darah mimisan yang bercampur air mata. Sialnya aku tak bisa bersedih saat ini. Aku tak mampu menahan tawa yang sejak tadi subub kutahan. Akhirnya kulepaskan semuanya di depan Saitama.

"Hahahahahahahaha." Saitama mengerutkan dahinya. "Aku kan enggak nyuruh kamu jadi Saitama! Hahaa! Lucu banget sih, hahaha." Aku masih larut dalam tawa. Perutku sakit, pipiku pegal.
"Malah ketawa!" Kata Saitama yang sejurus kemudian menunduk.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku terima kasih karena kamu udah berkorban banyak. Berkorban rambut pun itu. Hahaha." Aku masih belum puas tertawa.
"Ayo, tertawa aja terus, puas-puasin!" Saitama kini marah.
"Haha. Maafkan aku Saitama ganteng. Makasih banget loh udah bikin aku bahagia hari ini. Maaf kalau aku sering nonton anime dan malah diemin kamu. Hehe. Nanti, gak akan gitu lagi deh." Kataku menghibur Saitama yang sedang berduka. Syukur-syukur kalau dia terhibur.

"Aku botak sekarang." Katanya.
"Siapa bilang kamu berambut? Hahahha." Aku masih tak sanggup mengakhiri rasa bahagia ini. Tapi saitama tak berkutik, dia diam, menunduk, lesu. "Hmm, begini, kamu mau botak, mau enggak, mau pake kostum kayak cosplayer mau kayak biasa, aku tetap sayang dan cinta kok sama kamu. Makasih ya, Saitama!" Kataku. Semoga apa yang aku katakan tak membuatnya sedih lagi. Kini kulihat senyum tersimpul dibibirnya. Bagaimanapun dirimu, kau tetap kekasihku.

"Aku menyayangimu, Ra." Katanya, dengan menggibaskan kepala botaknya.
"Hahaha. Iya, Saitamaku." Jawabku.
"Udah dong, jangan panggil aku Saitama lagi!" Katanya sambil senyum mesem-mesem, malu.
"Lah tadi minta dipanggil SA-I-TA-MA. Hahaha. Aku akan berhenti memanggil Saitama, jika rambutmu telah tumbuh kembali. Haha." Kataku sambil tertawa lagi.
"Baiklah, aku akan membeli obat penyubur rambut. Haha." Kata Saitama, Riko, kekasihku tercinta.

Oh Riko, sebesar itukah perjuanganmu demi merebut perhatianku? Maafkan aku yang selalu asik dengan dunia anime dan melupakan duniamu, dunia kita. Tapi aku senang, tak harus pergi ke event cosplay untuk menemukan Saitama, yang memang jarang bahkan mungkin belum ada yang mau jadi cosernya. Cukup kamu saja menjadi Saitama dalam hidupku.