Laman

Life Must Go On !

Life Must Go On !
Tulis apa yang ingin kau kerjakan, kerjakan apa yang telah kau tulis !

February 24, 2015

Menjemput Kebahagiaan

Bagiku waktu adalah hal yang sangat kejam. Ia tidak bisa diajak kompromi walau hanya sedetik pun. Waktu pula yang bisa mengubah segala hal, seperti usia. Tak akan pernah kembali muda, melainkan semakin menua dan sampai tiba saatnya malaikat datang untuk mencabut nyawa, mengakhiri kehidupan kita.
Namun, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Adalah benar bahwa terlena sedetik pun sangatlah merugi akibatnya. Tapi siapa sangka, bertambah usia akan bertambah pula angka kehidupan kita, itu adalah salah.
Waktu adalah sesuatu yang tidak akan pernah berulang kembali. Tak akan pernah menunggu kita untuk memperbaiki diri. Ia berjalan seolah tak ada yang menghalangi. Karena waktu selalu melaju tanpa henti.
Gumpalan awan terus berarak menyesuaikan diri dengan pergerakan matahari di langit biru. Dari pagi menjelang malam, ia terus berganti posisi yang mungkin bisa membuatnya nyaman. Hingga pekat malam mulai datang, ia, awan-awan itu mulai menghitam. Langit kelam ditemani cahaya rembulan mencoba berselimut diri di balik awan hitam. Sepi, hening, laksana dunia tak berkehidupan.
Burung hantu masih menyanyikan lagu sendu. Mata indahnya terus memancarkan bayangan kepedihan yang mendalam. Apakah akan ada korban?! Kuharap, bukan jiwa yang sedang dirundung duka yang akan melampiaskan keputusasaan.
Hari ini usiaku genap 17 tahun. Kata orang, usia 17 adalah manis dan indah. Tapi di hari ulang tahunku, sampai malam ini, tidak ada seorang pun teman yang mengucapkan selamat. Apa mereka sudah lupa?
Keluarga? Bahkan mereka lebih mementingkan bisnis dari pada anaknya sendiri. Mereka lebih senang bila mengucapkan selamat dan berjabat tangan pada rekan-rekan sesamanya. Miris sekali hidupku ini.
Jam dinding masih menunjukan pukul 18.30 WIB. Aku mencoba berbaring di tempat tidur untuk mengusir segala kegundahan hati. Namun tak terelakan, aku merasa sangat sakit hati malam ini. Sweet seventeen kah? Semua hancur tak tersisakan.
Aku sendirian di rumah. Aku anak tunggal yang tak pernah merasakan kebahagiaan bersama orang tua. Hari-hariku sepi, laksana hutan tak berpenghuni.
"PING"
Handphoneku berbunyi. Apakah ada seorang teman yang mau menyempatkan waktu untuk mengucapkan selamat ulang tahun padaku? Langsung kubaca pesan itu. Namun hanya panggilan semu yang kulihat di layar handphoneku.
Riza: Claraaaa?
Aku: Apa?
Riza: Tidak, hahaha
Aku: Payah! (Sialan! Ucapku kesal dalam hati.)
Riza: Kenapa Ra? Haha
Aku: Za, jika kabarku melenyap, jangan sungkan datangi rumahku. Kuharap belum tercium aroma bangkai. Selamat tinggal.
Riza: WHAT THE??! Kamu bikin prosa, Ra? Jangan ngomong sembarangan!
Riza: Woy Claraaa!
Riza: PING!!!
Dan aku tidak perduli lagi dengan pesan darinya. Kuakhiri obrolanku dengan Riza, -satu-satunya teman yang menghubungiku hari ini- dengan ucapan selamat tinggal.
Mengapa aku mengucapakan selamat tinggal? Apa aku akan mati malam ini? Tapi jika aku mati, siapa yang akan mengurus mayatku nanti? Aku tidak ingin menjadi bangkai yang kemudian membusuk di rumah ini. Jangan sampai seperti itu! Dan mengapa malam ini tidak ada seorang pun yang datang ke rumah?! Tak ada seorang pun yang menghiburku di saat yang seharusnya bahagia ini.
Kulirik jam dinding yang kini menunjukan pukul 19.15 WIB. Tidak kah waktu berhenti sebentar saja?! Jangan terus bergulir hingga larut malam tiba, kumohon! Kumohon!!! Hingga teriakan itu membuatku sedikit merasa tenang dan mataku mulai sayup menguncup perlahan.
Kuberjalan menuju dapur. Terpikir olehku, jika aku berniat menghabisi hidupku malam ini, aku siap membakar rumah ini agar tak ada lagi kenangan tersisa. Namun aku masih menghargai usaha orang tua yang tengah membangun rumahnya ini. Seketika, aku melihat kilauan cahaya berasal dari sebilah pisau. Aku mengambil pisau yang masih menggantung di dinding dapur itu. Tanpa berpikir panjang, dengan sekuat tenaga segera kutusukan pisau yang kupegang pada bagian perut sebelah kiriku. Linu, ulu hatiku sakit.
Darah mulai bercucuran membasahi pakaian dan lantai dapur. Panas kini mulai menjalar di tubuhku. Tubuhku bergetar hebat, dan tak kuasa untuk menahan rasa sakitnya. Aku mulai lemas dan menjatuhkan tubuhku di lantai. Karena tak kuasa menahan rasa sakit ini, aku terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah.
Tuhan, bantu aku! Sebisa mungkin aku mencari benda yang bisa menghentikan pendarahan ini sesaat. Sambil merangkak kesakitan aku menahan darah yang terus bercucuran. Apa yang telah aku lakukan?! Bunuh diri kah? Putus asa hanya karena hal bodoh ini! Aku terus mencari benda untuk menyelamatkanku. Kulihat serbet kain tergeletak di atas meja makan, segera aku meraihnya. Siapa sangka, ternyata di atas serbet itu terdapat gelas. Sehingga ketika aku meraihnya, gelas itu terjatuh menimpa kepalaku dan aku kaget karena itu.
Ya Tuhan!!!
Aku terbangun dari lenyapan tidur yang singkat itu. Kuperiksa perutku dan masih utuh, kupastikan kepalaku tidak apa-apa. Syukurlah. Keringat terus bercucuran dari kepala dan tubuhku. Mimpi itu datang begitu saja dalam tidur singkatku. Kuambil nafas dalam-dalam dan menenangkan segala pikiran. Tusukan pisau itu masih terasa sakit. Tusukan itu terasa nyata menyesakan dada. Apa mungkin karena aku sedang marah sehingga mimpi pun menjadi parah. Aku terlalu keras memikirkannya.
Jam dinding menunjukan pukul 19.25 WIB. Ternyata aku tertidur hanya sepuluh menit saja? Tapi rasanya sangat lama. Aku berbaring kembali dan menatap langit-langit. Membayangkan mimpi barusan yang membuat jantungku berdebar kencang. Apakah bunuh diri akan mengubah keadaan? Ah sial! Pikiranku mulai tidak karuan.
Sepertinya aku membutuhkan udara segar. Aku berjalan menuju arah jendela kamar. Kamarku berada di lantai dua,  dan jika membuka jendela maka tepat di depan mata disajikan sebuah  taman yang penuh dengan rerumputan dan pohon buah-buahan. Mungkin udaranya bisa membuat pikiran tenang. Kubuka jendela perlahan, angin malam mulai masuk dan menyentuh tubuhku. Kurasakan dingin namun menyejukan, menenangkan. Kuhembuskan nafas yang sedari tadi terus menyesakan.
Tunggu, aku melihat satu titik cahaya di rerumputan. Cahaya itu bekerlap-kerlip seperti kunang-kunang. Apa aku harus mengambilnya? Untuk apa? Ah membosankan. Aku masih menikmati udara malam yang dinginnya menenangkan. Namun semakin lama, aku menjadi penasaran. Kuputuskan untuk turun kebawah dan memastikan sebenarnya apakah sesuatu yang berkerlap-kerlip itu.
Kubuka pintu rumah dan berlari menuju cahaya itu. Kudekati dan kuperhatikan benda itu yang ternyata adalah sebuah tombol yang ditempeli lampu kecil berwarna-warni.
"Tombol apa ini?" Pikirku. Aku tidak langsung menekannya. Aku takut itu adalah bom atau sejenisnya. Aku melihat ke sekelilingku namun sepi tidak ada apa-apa, tidak apa siapa-siapa.
Seperti biasa, pikiranku mulai menyempit kembali. Aku berpikir jika tombol ini ditekan dan menyebabkan ledakan maka malam ini mungkin adalah waktunya aku mati. Sambil memejamkan mata, dengan ragu-ragu aku segera menekan tombol itu. Tidak ada reaksi apapun. Aku masih belum membuka mata.
Kini aku berdiri dan berniat untuk segera masuk lagi ke dalam rumah. Ketika aku membuka mata, air mata mulai menyembul dan aku tak dapat menyekanya. Aku menangis. Air mata mulai mengalir membasahi pipiku.
Kulihat banyak lampu berwarna-warni yang menghiasi pepohonan di depan rumah. Lampu itu tersusun dengan tulisan Happy Birthday Claraa. Siapakah yang tengah menyiapkan semua ini? Pikirku yang masih berdiri terpaku memandang lampu-lampu itu. Terlihat sesuatu yang bergerak-gerak di balik pepohonan. Kemudian terdengar seseorang menyanyi.
"Happy Birthday, Happy Birthday, Happy birthday to you......"
Lima sosok manusia keluar dari pepohoan yang dihiasi kerlap-kerlip lampu warna-warni itu. Dan kini lima orang itu menyanyi bersama.
"Happy Birthday, Happy Birthday, Happy birthday Claraaaaaaa....."
Ica, Rima, Dika, Rere, dan Mila berlari ke arahku dan memelukku.
Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Aku menampar-nampar pipiku memastikan ini bukanlah mimpi.
"Claraaaa ini bukan mimpi, selamat ulang tahun sahabatku." Rima memeluk erat tubuhku. Aku masih belum berucap kata. Hanya air mata yang terus mengalir bahagia.
"Makasih teman-teman!!!" Aku menangis kembali sejadi-jadinya. Aku menangis tersedu-sedu.
"Ra, hey Clara, kenapa menangis hebat begini?" Dika mengusap air mataku. Aku masih tak percaya. Kulihat teman-temanku tersenyum melihat tangisanku.
"Kami menunggumu dari maghrib loh Ra! Hahaha" Ica yang berwajah kusut mulai mengomel. "Aku sampai ketiduran di bawah pohon itu. Haha" mendengar ucapannya itu, semuanya tertawa.
"Indah sekali. Kalian yang menyiapkan semua ini? Aaaaaah makasih yaa, aku kira kalian lupa." Sekarang giliranku yang mengomel pada mereka.
"Gila! Sweet seventeen mana mungkin kami lupa. Lagian ini juga berkat Ayah dan Ibumu, kami bisa menyusun rencana ini." Kata Mila, dan Rere mengangguk mengiyakan ucapannya.
Aku hanya tersenyum dan ternyata orang tuaku masih peduli padaku walau hari ini tak ada disisiku.
"Eh, eh, ayo masuk rumah dong. Aku dingin nih!" Ucap Ica yang sejurus kemudian menggandeng lenganku.
Dengan senyum dan tawa kebahagiaan, aku dan teman-teman segera masuk ke dalam rumah untuk merayakan hari yang sangat spesial.
Kubuka pintu dan segera masuk ruangan yang  memang seperti biasa lampunya tidak aku nyalakan. Ketika aku hendak menyalakan lampu, tiba-tiba ada  sosok yang lebih dulu menyalakannya. Ayah! Dan disampingnya ada Riza memegang kue dan Ibu. Ia tersenyum padaku, "Selamat ulang tahun, Clara sayang." Ibu sedikit merentangkan tangannya dan aku segera berlari memeluknya.
"Kapan Ibu, Ayah dan Riza masuk?" Tanyaku.
"Saat kamu keluar dan berjalan menuju tombol itu. Hehe. Kami lama menunggumu keluar loh! Pesan dariku tidak kamu baca lagi. Aduuh!" Riza mengomel dan semua larut dalam tawa.
"Ibu, Ayah, terima kasih." Kini aku dipeluk oleh Ayah dan Ibuku. Kurasakan kehangatan yang tiada bandingannya, bahkan mampu mengalahkan hangatnya sinar mentari pagi.
"Ra, tiup dulu lilinnya, dan make a wish! Happy birhday yaaa" Riza mendekatkan kuenya padaku.
"Terima kasih yaa teman-temanku." Ucapku sambil meniup lilin yang di atasnya berangka 17 itu.
"Oh ya, tentang prosa atau apalah tadi saat aku BBMan denganmu, nampaknya seperti kamu akan bunuh diri ya Ra? Hahaha." Riza tertawa puas dengan itu. Semuanya pun ikut menertawakanku. Aku pun ikut tertawa dan menahan malu. Jika benar aku memutuskan untuk hal itu, aku tidak akan menemui kebahagiaan saat ini.
Kulihat waktu terus melaju dan kini mulai menunjukan pukul 20.30 WIB. Kami semua larut dalam kebahagiaan, terutama aku. Aku sangat bahagia karena semua ini membuatku lupa tentang mimpi yang baru saja terjadi. Aku takan menceritakan mimpi burukku. Lebih tepatnya mimpi yang sangat bodoh itu.
Pukul 21.00 WIB, Ayah dan Ibu mengantar pulang teman-temanku. Dengan wajah penuh suka cita kami berpisah dan siap menjalani kehidupan baru yang lebih baik lagi, esok dan hari-hari berikutnya. Karena, perjuangan, tantangan dan rintangan kelak akan datang.
Aku kembali ke kamarku. Mengambil handphoneku dan menuju jendela untuk memandang kembali lampu-lampu yang mempesona itu. Nampak lebih indah jika dilihat dari atas sini.
Kubuka handphoneku dan ternyata kini ucapan selamat ulang tahun terus masuk silih berganti. Baik lewat sms, BBM, WhatsApp, Line dll.
"Hah! Ini adalah suatu kebetulan yang direncanakan." Ujarku dan senyuman ini mulai merekah tanpa henti.
Satu lagi, aku membuka pesan Riza yang tadi tak sempat aku baca.
Riza: PING!!!
Riza: Ra, please balas!
Riza: Ra, coba tengok ke luar jendela!
Riza: Claraaaa jangan bunuh diriiii!!!
Riza: PING!!!
Riza: PING!!!
Riza: PING!!!
Ya Tuhan, betapa bodohnya diriku ini. Aku sudah berprasangka buruk pada teman-temanku dan pada orangtuaku. Kenyataannya mereka semua menyiapkan kejutan yang begitu indah. Terima kasih semuanya.
Bersama bergulirnya waktu, aku menangis dan tersenyum dalam indahnya kebahagiaan di malam yang penuh kejutan itu. Satu hal yang aku tahu, bahwa waktu lah yang bisa mengantarkan kita pada kebahagiaan asal kita mau menjemputnya.

No comments: