Laman

Life Must Go On !

Life Must Go On !
Tulis apa yang ingin kau kerjakan, kerjakan apa yang telah kau tulis !

March 03, 2014

Abangku Pahlawanku



Tadi malam aku mendengar suara aneh dari balik jendela kamarku. Aku kira itu ranting pohon yang tersibak angin, tapi ternyata itu Ranju. Nampaknya dia kedinginan karena di luar segerombol hujan baru saja pergi. Aku buka jendela kamarku, dan saat itu pula Ranju langsung menghampiriku. Katanya, “Kamu harus hati-hati sama si Riko, dia tidak benar-benar menyukaimu.” Aku heran dengan perkataannya. Aku bingung mengapa dia mengatakan hal itu padaku. “Riko? Ada apa memangnya? Tapi hubunganku baik-baik saja Ju.” Ranju tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya pergi begitu saja lalu masuk ke dalam rumah dan mengetuk pintu kamarku. “Jan, buka!” sangat keras sekali suara ketukan itu. Aku langsung membukakan pintu, “Sabar sedikit bisa kan Ju? Ada apa?! Mengganggu saja.” Kataku. Dengan santainya Ranju duduk di kasurku dan matanya menatap tajam kepadaku.
“Aku tidak menyukai Riko, Jan! Dari awal aku memang tidak setuju kalau kamu berhubungan dengan dia!”
“Memangnya kenapa? Lagi pula kami hanya berteman biasa kan? Tadi kamu bilang dia tidak benar-benar menyukaiku, maksudnya apa?”
“Kamu ini Jan! Seperti yang tidak paham saja dengan feelingku. Riko bukan orang baik, bahkan dia bukan orang yang selama ini kamu anggap orang. Kamu harus hati-hati! Kalau bisa jauhi dia!”
“Aku tidak mengerti Ju! Apakah kali ini aku harus mengikuti perintahmu? Aku rasa kita bukan anak kecil lagi, kita sudah punya jalan masing-masing Ju. Sekarang keluar dari kamarku!”
“Terserahlah, yang penting aku sudah mengingatkanmu!” Ranju keluar dan sekarang malah membanting pintu.

Aku tidak mengerti dengan apa yang dipikirkannya. Selalu saja dia mencampuri urusan pribadiku. Dia bilang walau kita sudah bukan anak kecil lagi, tapi batin kita masih tetap menyatu. Kadang semua itu memang benar. Jika aku sakit, dia ikut merasa sakit. Jika aku dalam bahaya, dia selalu tau akan hal itu. Mungkin karena kami anak kembar, tak heran jika ada hubungan batin yang kuat mengikat satu sama lain. Ranju adalah abangku, dia lelaki yang sangat peduli pada adik perempuannya yaitu aku. “Ranju dan Ranjani harus tetap saling menjaga ya, walaupun nanti kalian sudah dewasa juga harus tetap bersama.” Itulah yang Ibu ucapkan pada kami ketika ulang tahun yang ke 15 sebelum beliau pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Ayah dan Ibu meninggal karena kecelakaan saat akan pergi ke Luar Kota dan sekarang kami hanya hidup berdua di usia 17 ini. Kadang sanak saudara datang menemui kami, tapi selebihnya kami hidup sendiri. Dan sampai sekarang ucapan itu masih aku ingat khususnya oleh Ranju, dia tidak pernah lupa dengan ucapan Ibu yang satu itu. Tapi kali ini menurutku dia salah menilai tentang Riko. Tetangga baru yang umurnya sama denganku, sama juga dengan Ranju. Riko anak yang baik, lugu, dan juga sopan. Mungkin Ranju sedikit cemburu karena akhir-akhir ini aku sering bermain dengannya dan meninggalkan Ranju sendiri di rumah. Biasanya dia membuntutiku, tapi kali ini dia tidak lagi ikut-ikutan saat aku pergi bersama Riko.

Hari ini hari minggu, biasanya aku dan Ranju selalu pergi ke luar untuk menghilangkan penatnya pelajaran-pelajaran di kampus yang memusingkan. Tapi kali ini sepertinya Ranju tak ada niat untuk pergi.
“Kamu cemburu ya Ju?” Tanyaku pada Ranju yang sedang menonton acara TV sambil tiduran di sofa itu.
“Cemburu apa?” jawabnya dengan nada yang datar sembari menghiraukanku.
“Jika kamu ingin main bersama, ya ikut saja. Jangan bertindak seperti itu. Menuduh Riko yang tidak-tidak.”
Tiba-tiba Ranju langsung bangkit dan berjalan menuju ke arahku. Dia memandangku tepat di depan wajahku, matanya sangat tajam, tangannya mencengkram di pundakku, “Aku sudah bilang, Riko bukan orang yang baik! Kamu sudah tertipu dengan wajahnya yang lugu! Aku peringatkan sekali lagi, jauhi Riko!” cengkramannya terlepas dari pundakku, dia langsung pergi keluar dan menyalakan motornya tanpa pamit mau kemana dia pergi, padaku. Tubuhku mulai gemetaran, tak pernah aku lihat Ranju semarah itu padaku. Aku intip dari balik gordeng depan di ruang tamu, Ranju berpapasan dengan Riko. Dia berhenti sejenak dan entah bicara apa dia dengan Riko. Riko menoleh kepadaku, seketika aku langsung menutup kembali gordeng itu.

Matahari mulai merangkak turun ke bumi bagian barat, Ranju masih belum pulang. Saat aku hubungi, bunyi handphone terdengar di ruang tamu, itu tandanya dia pergi tanpa membawa alat komunikasi yang sangat penting itu. Aku lihat keluar rumah, langit sangat gelap. Sepertinya sebentar lagi awan kelabu akan meluncurkan pasukannya untuk menyerbu bumi di sore ini. Ya, hujan mulai turun. Aku khawatir dan aku takut. Petir dan kilat menyambar silih berganti, tak henti-henti. “Ranjuu, kamu dimana?! Maafkan aku.” Aku hanya bisa menangis sambil memandang keluar jendela. Kulihat keseberang jalan ada Riko yang sedang berdiri di tengah hujan deras dengan memakai payung hitam. Dia tersenyum kepadaku seketika dia berjalan menuju ke arah rumahku. Aku tutup gordeng itu dan tiba-tiba suara ketukan pintu mulai terdengar ditelingaku. Tidak salah lagi, itu adalah Riko. Aku tidak berani membuka pintu untuk tamu yang datang ke rumahku jika Ranju sedang tidak ada. Walaupun itu adalah tetangga, aku tetap tidak akan membukakan pintu demi keselamatan bersama. “Saat aku tidak di rumah, jangan sesekali menerima tamu walau itu adalah tetangga kita. Bukan apa-apa, tapi kita hanya tinggal berdua. Harus lebih hati-hati!” Itulah amanat yang Ranju perintahkan padaku, dan aku tidak ingin melanggarnya.

Diluar Riko terus mengetuk pintu. Aku semakin merasa takut. Aku ambil handphone Ranju dan segera  menghubungi teman-temannya barangkali dia ada bersama mereka. Pertama kuhubungi Dito, dia teman dekatnya. Namun Dito bilang, Ranju tidak datang ke rumahnya. Kedua kuhubungi Nila mantannya, mungkin ini tidak masuk akal tapi tidak ada salahnya aku tanyakan pada Nila. Ternyata aku tidak salah, Nila memberiku sedikit informasi walau itu tidak begitu jelas.
“Hallo Ju? Ada apa tumben nelpon.” Jawaban Nila langsung to the point.
“Aku Ranjani, La. Kamu lihat Ranju enggak?”
“Oh Jan. Sorry. Tadi siang sih aku lihat dia di taman. Maaf nih kalian ada masalah? Dari kejauhan aku melihat Ranju seperti yang marah-marah. Aku tidak berani menghampirinya.”
“Oh enggak kok La. Kami baik-baik saja. Kamu lihat Ranju sendirian?”
“Ya awalnya aku lihat dia sendiri, tapi setelah itu datang laki-laki menghampiri Ranju. Namun aku dipanggil Ayah jadi aku tidak tau lagi.”
“Laki-laki? Ya sudah La. Thank you ya.”
“Iya Jan, sama-sama.”

Laki-laki? Ranju pergi kemana? Siapa laki-laki yang menghampiri Ranju? Ya Tuhan, aku semakin takut. Hujan tak kunjung pergi. Langit semakin gelap. Ranju tak kunjung datang. Aku? di rumah hanya sendirian. Aku coba menelpon lagi temannya Ranju, Aldi. Dia bilang dari kemarin dia tidak bertemu dengan Ranju. Satu per satu temannya aku hubungi namun tak ada yang tau kemana Ranju pergi.

Saat itu pukul lima sore. Hujan masih bertahan mengguyur bumi. Aku coba untuk mancari Ranju sendiri. Aku tengok keluar, tidak ada orang satupun termasuk Riko, mungkin dia sudah pergi. Segera aku ambil payung dan kukunci seluruh pintu rumah. Belum sempat aku mengunci pintu, ada suara yang mengagetkan di belakangku.
“Hai Jan. Kamu mau kemana?” Ternyata itu adalah Riko.
Dengan gugup aku jawab, “Ehh, aku mau mencari Ranju. Kamu tau dia pergi kemana? Aku melihat tadi sebelum dia pergi kalian berpapasan dan mengobrol dulu. Kamu tau tidak?”
Riko mendekatiku, menatapku, “Abangmu? Dia tidak menyukaiku, jadi takan mungkin dia pergi bilang padaku.”
“Ihh Riko apaan sih! Ya sudah kalau begitu aku mau pergi dulu.” Aku menepas Riko dari pandanganku. Saat aku mau pergi, Riko menarik tanganku, “Jangan terburu-buru dong Jan! Bukankah kamu menyukaiku? Akupun menyukaimu, Jan.”
“Riko! Lepas!” Sekarang aku baru tau, sifat asli Riko. Maafkan aku Ju, aku tidak mempercayaimu. Aku mengunci pintu dan segera pergi dari hadapan Riko.
“Ranjani! Kamu tidak akan menemukan Abangmu, Ranju!”

Aku menghiraukan ucapan Riko. Sebelumnya aku mengenal Riko adalah sosok yang begitu baik, lugu, dan sopan. Namun sosok itu berubah menjadi seseorang yang tidak tau aturan dan seenaknya! Dari informasi yang aku dapat dari Nila tadi, segera aku pergi ke taman yang tidak jauh dari rumahku. Namun tak kulihat Ranju disana. Hari semakin gelap, aku memutuskan untuk pulang lagi ke rumah. Biasanya batin kita kuat, tapi entah kenapa hari ini tak sedikitpun aku merasakan dimana keberadaan Ranju. Semoga Ranju baik-baik saja dan dia tidak mungkin membiarkanku sendirian.

Saat aku sudah hampir tiba di depan rumah, Riko masih ada berdiri didepan pintu. “Mau apa dia masih berdiri disitu?!” Aku tidak menghampirinya karena aku takut terjadi apa-apa. Dari jauh aku berdiri, dan berteriak “Riko! Sedang apa kamu? Mengapa masih disitu?!”
“Aku nunggu kamu, Jan.” balas Riko dengan berteriak juga. “Abangmu tidak ditemukan, kan?”
“Mengapa kamu sangat bersikeras terhadap Abangku?! Apa yang kamu lakukan kepada Ranju?!”
Kami berdua saling teriak satu sama lain ditengah derasnya hujan. Saat itu malam mulai datang. Riko masih berdiri didepan pintu dan aku berdiri di dekat gerbang dengan payungku. Serasa Riko pemilik rumahnya!
“Riko pergi! Aku mau masuk!” Aku sudah pegal dan kedinginan karena terus berdiri ditengah hujan.
“Aku tidak menyuruhmu diam disitu. Kemarilah Ranjani, aku akan menemanimu.” Aku mulai merasa kesal mendengar celotehannya, aku memberanikan diri untuk masuk ke rumah. Ya! Ini adalah rumahku. Kenapa aku harus takut!
“Jika kamu tidak pergi, aku akan berteriak maling!!” aku mengancam Riko.
“Silahkan Jan! Tidak akan ada yang mendengarmu. Ini hujan sangat deras. Orang-orang tidak akan mendengar teriakanmu.”
“Riko! Mau kamu apa sih?!”
“Aku mau kamu!” Riko mendekatiku dan bagiku dia seperti sedang kerasukan. Aku sangat takut dan mengapa disaat seperti ini Ranju tidak ada bersamaku. Ranju aku dalam bahaya, apa kamu tidak merasakan batinmu?! Tolong aku, Ju!

Saat itu Riko mau menerkamku. Namun, terdengar suara gerungan motor dan cahaya terang di pandanganku. Ranju. Ya! Dia pulang dan segera menyelamatkanku! Ranju menarik Riko dari belakang, dia memukul Riko dan mendorong Riko di tengah derasnya hujan malam.
“Sialan!!! Mau kau apakan adikku?!” Ranju terus memukuli Riko yang saat itu dia tidak bisa melawan. “Kau boleh mencelakaiku, kau boleh merebut pacarku! Tapi jika kau menyakiti adikku, kau akan mati!” Aku semakin takut dan aku segera memisahkan mereka. Aku membawa Ranju yang sudah basah kuyup masuk ke rumah dan membiarkan Riko merasakan akibatnya.
“Sudah Ju cukup! Ayo masuk!” Aku membopong Ranju.
“Dengar, Riko! Jangan sekali-kali kau datang lagi dihadapanku!” kami berdua masuk rumah dan pergi meninggalkan Riko.

Setelah itu kami masing-masing membenahi diri dari lumpur dan hujan yang mengotori tubuh dan pakaian kami. Setelah selesai, aku hanya diam di kamar. Aku malu untuk menemui Ranju. Namun, Ranju mengetuk pintu kamarku. Kali ini dia mengetuk secara sopan.
“Jan, buka!”
“Masuk saja, Ju. Tidak dikunci.”
Ranju duduk disampingku, dan aku segera memeluk saudaraku satu-satunya itu. “Ju, maafkan aku.” aku menangis dipelukan Ranju. Sudah lama aku tidak merasakan hangatnya menangis dipelukan Ranju yang menggantikan posisi Ayah dan Ibu untuk melindungiku.
“Hanya kamu keluarga yang aku punya disini, Jan. Aku tidak mau hal yang buruk terjadi padamu.”
“Iya, maafkan aku. Ju, sebelumnya kamu mengenal Riko? Dia pernah mencelakaimu?”
“Kamu tau Rena?”
“Rena? Pacarmu waktu kelas dua SMA itu?”
“Iya, saat aku pergi dengannya. Riko menyuruh preman untuk mencelakaiku. Kamu ingat, aku dijatuhkan dari motor dan Rena tak sempat aku selamatkan. Itu adalah perintah Riko. Mungkin Riko hanya menyuruh untuk mencelakaiku saja karena Riko mencintai Rena. Tapi preman itu tak sengaja menusukkan pisau pada Rena yang akhirnya malah Rena yang celaka. ” Aku lihat mata Ranju mulai berkaca-kaca.

Rena adalah pacar Ranju saat kelas dua SMA. Dia meninggal di usianya yang masih belia karena kehabisan darah akibat tusukan pisau diperutnya. Aku tidak menyangka, kecemburuan Riko sampai mengorbankan nyawa seperti itu. Aku memang tidak mengenal Riko karena saat SMA aku tidak satu sekolah dengan Ranju.
“Ya ampun! Kenapa kamu tidak bilang dari awal?!”
“Aku tidak mau mengungkit masa lalu. Tapi kan sudah ku beri tau, kamunya saja yang ngeyel!” Ranju menjewer telingaku.
“Ihhh Ranjuuu, sakiit….” Aku membalasnya dengan kelitikan dan Ranju tertawa kegelian saat itu. Kami bercanda tawa setelah berbagai masalah kami lewati.

Ayah, Ibu, kami merindukanmu. Kami berdua akan selalu saling menjaga. Akan selalu bersama sampai tiba waktunya dimana aku dan Ranju menemukan kehidupan baru. Mulai hari ini aku akan selalu menuruti apa kata Ranju. Aku tidak akan mengecewakan Ranju lagi. Hanya Ranju satu-satunya hartaku. Hanya Ranju satu-satunya penyelamatku disini. Terimakasih Ranju, kamu adalah pahlawanku.

Sabtu 01 Maret 2014