Laman

Life Must Go On !

Life Must Go On !
Tulis apa yang ingin kau kerjakan, kerjakan apa yang telah kau tulis !

March 26, 2014

Oh! Trotoar



Aku berjalan menelusuri setiap pedagang yang berceceran di pinggir jalan trotoar. Masih banyak pedagang kaki lima yang tidak mematuhi peraturan pemerintah kota Bandung. Itu adalah pedagang yang sudah pernah ditertibkan, belum lagi pedagang yang belum kena razia. Sepertinya akan lebih banyak lagi dari yang sekarang ini. Entahlah. Kata pemerintah, “Mereka (para pedagang kaki lima) hanya mementingkan pribadinya saja tanpa memikirkan nasib sekitarnya. Berjualan di trotoar sangat mengganggu pejalan kaki dan semestinya trotoar bukan tempat untuk berjualan.” Namun disisi lain para pedagang juga berkata demikian, “Mereka (Pemerintah) hanya mementingkan pribadinya saja, tanpa memikirkan nasib masyarakat kecil. Memang, pemerintah menyediakan tempat untuk kami berjualan tapi harga sewanya itu loh. Besar pasak daripada tiang jadinya. Jika kami tidak dagang seperti ini, kami, keluarga kami, mereka mau makan apa?!” Hmmm makan apa yaaaa, ayooo makan apa cobaa??!!!

Bisa dibilang dilema stadium empat jika terus memikirkan masalah seperti ini. Disatu sisi pemerintah yang benar, tapi disisi lain pemerintah juga ada salahnya. Begitupun sebaliknya, disatu sisi masyarakat benar, tapi disisi lain mereka juga salah. Harusnya, pemerintah dan masyarakat itu saling melengkapi. Harusnya. Tapi ya bagaimana lagi, saat saat kampanye saja para calon pejabat beramai-ramai memperebutkan hati rakyat, turun kelapangan dengan memberi banyak bantuan. Tetapi setelah berhasil menduduki jabatan, rasanya masyarakat dilupakan. Hanya uang dan kekuasaan saja yang mungkin mereka pikirkan. Tapi tidak semua, tidak semua.

Aku melihat banyak sekali yang belanja di tempat pedagang kaki lima diseberang jalan. Aku coba teliti dari kejauhan ternyata barang dagangan yang mereka jajakkan adalah perlengkapan belajar dan juga alat-alat kantoran. Di atas dagangannya tertulis “Discount up to 75%” sudah seperti di toko-toko besar saja gayanya itu. Ya, pada saat itu adalah musim pergantian tahun pelajaran. Pantas saja banyak orang-orang berburu barang yang demikian. Murah. Namun belum tentu kualitasnya bagus atau tidak tapi mereka tidak peduli yang penting diskon. Sangat jelas sekali bahwa pada dasarnya masyarakat disini memang modis alias modal diskon.

Saat itu jalanan sangat penuh. Kemacetan yang panjang ditemani ritme klakson motor dan klakson para penghuni mobil mewah yang tak sabaran, menemani perjalanku di siang yang sangat gundah ini. Sudah tahu macet, masih saja saling melempar suara klakson yang memekakan telinga ini. Dikira sedang ada perlombaan bunyi klakson kali ya. Klakson siapa yang bunyinya paling indah, maka itulah pemenangnya. Ahh memang pada dasarnya mereka tidak sabaran.

Aku terus menelusuri jalan. Aku tidak tahu kemana aku akan pergi. Kucoba terus berjalan hingga kutemukan apa penyebab kemacetan panjang ini. Banyak orang yang berkerumun disana, di dekat trotoar yang hampir memenuhi sebagian jalanan. Aku kira sedang ada promosi barang atau yang lainnya. Tapi ternyata, sebuah kecelakan terjadi disana. Anak kecil tertabrak oleh pengendara motor. Bukan hanya satu, tapi tiga orang sekaligus. Katanya, anak kecil itu sedang asik memilih barang yang dijajakkan di trotoar, karena saking penuhnya anak itu terhempas dari trotoar dan terlempar ke jalanan yang saat itu ada motor sedang melaju kencang. Segeralah di rem oleh sang pengendara motor namun tidak berhasil terselamatkan, anak itu terhempas keras dan motor itupun terlempar mengenai dua orang pembeli yang sedang berada di pinggir jalan. Alhasil, tiga orang menjadi korban.

Karena kecelakaan tersebut, mengakibatkan para pengendara motor dan mobil semakin tidak sabaran. Apa aku harus mengulangi pernyataanku barusan? Sudah tahu macet, masih saja berlomba-lomba menyalakan klakson yang nyaringnya keterlaluan. Kali ini aku hampir kalap. Aku tidak bisa keluar dari kerumunan dan kemacetan. Kini, trotoarpun penuh bukan hanya oleh pedagang saja tetapi juga terisi oleh para pengendara motor. Kalau sudah begini, aku pulang lewat mana? Jangankan untuk berjalan, melangkahkan kaki saja sulit minta ampun karena saking berdesakannya dijalan.

Aku coba menyisir sedikit demi sedikit ke pinggiran trotoar yang mungkin aku bisa sejenak diam untuk menenangkan kepenatan pikiran dan keadaan yang tidak enak dipandang. Akhirnya aku bisa bersandar pada salahsatu tembok di trotoar tersebut. Kupandangi seisi jalan yang masih saja macet bukan kepalang. Panas terik, asap kendaraan dan kebisingan para penghuni jalanan masih menghiasi kota kembang ini. Aku sedikit menghela nafas, ku rasakan udara yang aku hirup bukanlah oxygen sang udara segar, melainkan polusi-polusi yang kini marak bertebaran. Aku lupa tidak memakai masker, aku batuk-batuk bukan main. Lalu tiba-tiba ada yang menyodorkanku minuman botol yang kelihatannya dingin dan segar. “Panas ya mbak? Coba minum teh ini deh. Terbukti menyegarkan dan bisa membuat pikiran menjadi tenang.” Seketika aku memandang sosok yang begitu perhatiaan kepadaku. Aku melihat sosok itu sangat tampan, wajahnya tegas, senyumnya menawan. Ahhh rasanya semua kepenatan ini hilang. Aku gugup, sangat gugup. “Ehh iya. Terima kasih mas.” Aku terima pemberian dari lelaki itu karena aku memang sangat kehausan. “Macetnya tidak kunjung usai ya mbak. Gimana, tehnya segar?” Mungkin aku terlau kepanasan dan kehausan sehingga teh di botol itu langsung habis dalam tiga kali tegukkan. “Emm segar sekali mas. Hausnya jadi hilang.” Lelaki itu tersenyum mendengar ucapanku, katanya “Syukurlah kalau begitu. Tak apa mbak, kali ini minuman itu saya jadikan sample jadi gratis gak usah bayar. Tapi jika mbak mau pesan silahkan datang saja ke tempat kami di trotoar sebelah sana.” Lelaki itu menunjukan tempatnya dia berjualan. GLEK! Aku menelan sisa tegukkan teh itu. Ternyata dia seorang pedagang kaki lima dan aku kira, dia perhatian padaku memberi minuman yang pas disaat panas menyengat ini. Tapi ternyata hanya sekedar promosi untuk menarik perhatian. Ya, untuk menarik perhatian pelanggan bukan menarik perhatianku. Ahhh dasar ke-GR-an!

Akhirnya jalanan kini mulai lancar setelah beberapa waktu yang lalu polisi datang mengamankan. Aku terus menelusuri jalan dan tidak tahu kemana lagi kaki ini akan melangkah. Mungkin di depan nanti akan kutemukan kejadian yang lebih bisa aku ambil hikmahnya. Yang bisa aku renungi segala peristiwanya. Aku berhati-hati melewati trotoar yang masih penuh dengan para pelaku ekonomi itu. Aku harus pintar pintar menemukan celah untuk berjalan agar tidak terlempar ke tengah jalan. Jika sampai aku terlempar, aku takut menjadi penyebab kemacetan yang bisa mengakibatkan perlombaan ritme klakson yang suaranya indah, nyaring, dan “menawan” itu. Lagi. Hmm trotoar, trotoar, kini fungsimu bukan hanya untuk para pejalan tapi juga sebagai tempat para pencari kenestapaan.

No comments: